Mengulas Pesona Kampung Na Willa di Krembangan: Saat Kenangan Masa Kecil Menjadi Simbol Toleransi Surabaya
WartaLog — Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, terdapat sebuah gang sempit yang kini menjadi sorotan karena kehangatan ceritanya. Kampung Krembangan, tepatnya di Gang Krembangan Bhakti Gang XI, bertransformasi menjadi “Kampung Na Willa”. Perubahan ini bukan sekadar upaya mempercantik lingkungan, melainkan sebuah misi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai toleransi dan persahabatan tulus yang mulai luntur di era modern.
Inspirasi ini berakar dari karya populer penulis Reda Gaudiamo, baik dalam bentuk buku maupun film, yang menceritakan masa kecil tokoh bernama Na Willa. Kisah tersebut nyatanya bukan sekadar fiksi, melainkan rekam jejak nyata kehidupan Reda saat tumbuh besar di kampung ini. Persahabatan lintas keyakinan antara Na Willa dan Farida (yang terinspirasi dari sosok nyata bernama Umi Ida) menjadi potret harmoni yang sangat dirindukan.
Jadwal Lengkap Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste di Piala AFF U-17: Duel Emosional ‘Si Kurus’ Melawan Sang Guru
Menghidupkan Kembali Semangat Kampung Pancasila
Mochamad Ilham Ramadhani, Ketua RW 02 Krembangan Bhakti, mengungkapkan bahwa pada awalnya warga tidak menyadari bahwa tempat tinggal mereka telah diabadikan dalam karya literatur yang menyentuh hati. Namun, setelah menyadari betapa kuatnya pesan sosial dalam cerita tersebut, warga sepakat untuk menjadikan narasi tersebut sebagai fondasi pengembangan kampung.
“Kampung ini memang sejak dulu menjunjung tinggi rasa saling menghargai. Berbenahnya wilayah kami menjadi Kampung Na Willa sebenarnya selaras dengan program Kampung Pancasila yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya,” ujar Ilham kepada tim WartaLog.
Nilai-nilai gotong royong dan kepedulian sosial di sini tidak hanya berhenti pada jargon. Warga telah mengimplementasikan langkah nyata, di antaranya:
Ahmad Baharudin Resmi Jabat Plt Bupati Tulungagung Usai Gatut Sunu Terjaring OTT KPK
- Program Bank Sampah: Hasil dari pengelolaan sampah dikumpulkan untuk membantu warga yang kurang mampu.
- Santunan Lansia: Dana yang terkumpul juga dialokasikan untuk membantu para lansia yang hidup sebatang kara di sekitar wilayah tersebut.
- Penghijauan Lingkungan: Rencana penanaman berbagai tanaman untuk menciptakan suasana kampung yang lebih asri dan nyaman seperti dalam gambaran buku.
Oase di Balik Layar Gadget
Ada pemandangan menarik saat berkunjung ke lokasi ini. Di saat banyak anak-anak di perkotaan terjebak dalam layar ponsel, anak-anak di Kampung Na Willa tampak asyik bermain bersama secara tradisional. Mereka bercengkerama, bercerita, dan berlarian sepulang sekolah, persis seperti suasana yang digambarkan dalam kisah Na Willa dan Farida puluhan tahun silam.
Bongkar Taktik Licin Mafia Impor, Pakar Ingatkan Bea Cukai Surabaya Waspadai Improvisasi Pelaku Kejahatan
Fenomena ini menjadi poin krusial bagi Ilham. Ia menyoroti bagaimana teknologi perlahan-lahan mengikis kedekatan sosial di masyarakat. “Dulu, interaksi kita sangat erat, bahkan sampai menginap di rumah teman tanpa rasa canggung. Sekarang, tantangannya adalah teknologi yang membuat orang lebih asyik sendiri-sendiri,” jelas pria berusia 27 tahun tersebut.
Melalui identitas baru sebagai Kampung Na Willa, masyarakat Krembangan berharap pesan kebersamaan ini bisa meluas ke seluruh penjuru Surabaya. Ini adalah pengingat bahwa di balik kemajuan kota besar, kekuatan terbesar sebuah masyarakat tetap terletak pada kemanusiaan dan kemampuan untuk saling merangkul tanpa melihat perbedaan.