Bukan Sekadar Atraksi, Khofifah Tegaskan Reog Ponorogo Adalah Nafas Identitas Bangsa yang Mendunia

Hendra Wijaya | WartaLog
14 Apr 2026, 20:49 WIB
Bukan Sekadar Atraksi, Khofifah Tegaskan Reog Ponorogo Adalah Nafas Identitas Bangsa yang Mendunia

WartaLog — Langkah nyata dalam menjaga api warisan leluhur terus dikukuhkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Reog Ponorogo bukan lagi sekadar tontonan visual yang memukau di atas panggung, melainkan sebuah manifestasi mendalam dari nilai-nilai keberanian, kebenaran, dan harmoni dalam keberagaman bangsa.

Pernyataan ini disampaikan Khofifah saat menyambut hangat kedatangan para seniman dari Tim Reog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Selasa (14/4/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis bagi sang gubernur untuk menekankan betapa krusialnya penguatan ekosistem kesenian pasca penetapan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO.

Filosofi di Balik Gemuruh Gendang

Bagi Khofifah, Reog adalah sebuah narasi besar tentang peradaban. Ia melihat ada benang merah yang kuat antara kesenian ini dengan pembentukan karakter bangsa. “Reog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya terkandung filosofi yang sangat kuat mengenai keberanian membela kebenaran, serta bagaimana berbagai latar belakang suku dan agama dapat dirajut dalam satu harmoni budaya yang indah,” tutur Khofifah penuh semangat.

Read Also

Anomali Pariwisata Banyuwangi: Kunjungan Wisatawan Melimpah, Tapi PAD Tak Sampai Setengah Target

Anomali Pariwisata Banyuwangi: Kunjungan Wisatawan Melimpah, Tapi PAD Tak Sampai Setengah Target

Kunjungan Tim Reog Kyai Lodra sendiri merupakan bagian dari persiapan intensif mereka sebelum berlaga di ajang bergengsi Festival Reog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang. Khofifah mengingatkan bahwa esensi dari festival tersebut adalah untuk menyebarkan nafas kebijakan dan strategi dalam membangun jati diri bangsa melalui jalur kebudayaan.

Menjawab Tantangan Global dan Keberlanjutan

Status Reog dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding yang disematkan UNESCO sejak akhir 2024 menuntut langkah-langkah konkret yang tidak sederhana. Khofifah menjelaskan bahwa salah satu poin krusial yang menjadi perhatian dunia adalah aspek animal welfare atau kesejahteraan satwa.

“Proses pengakuan internasional ini panjang dan penuh tantangan. Kita harus memastikan bahwa ke depan, pertunjukan Reog tidak lagi bergantung pada material dari satwa yang dilindungi. Ini adalah komitmen kita terhadap kelestarian alam sekaligus martabat budaya kita di mata dunia,” jelasnya. Saat ini, ekosistem Reog terus beradaptasi, sejalan dengan pengakuan Ponorogo sebagai bagian dari jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO.

Read Also

Peluang Karier Strategis di BNI 2026: Jalur Cepat Menjadi Pemimpin Wealth Management

Peluang Karier Strategis di BNI 2026: Jalur Cepat Menjadi Pemimpin Wealth Management

Regenerasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

Khofifah meyakini bahwa kunci utama dari kelestarian budaya adalah keberlanjutan estafet kepada generasi muda. Menurutnya, rasa bangga harus ditumbuhkan sejak dini melalui intensitas pertunjukan yang rutin. “Harus sering ada panggung dan event. Dengan berlatih secara konsisten, dedikasi akan tumbuh melampaui sekadar insentif, yakni lahir dari rasa memiliki,” tambahnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Evy Afianasari, memaparkan langkah kolaboratif yang tengah dijalankan. Pihaknya merangkul institusi pendidikan seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), SMK 12 Surabaya, hingga Universitas Negeri Surabaya untuk memperkuat fondasi akademis dan kreativitas para pelaku seni.

Menariknya, Disbudpar Jatim juga menjalin sinergi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mencari solusi terkait kebutuhan material bulu merak. Upaya pengembangbiakan burung merak Jawa kini tengah dijajaki sebagai solusi berkelanjutan agar kebutuhan material tradisi dapat terpenuhi tanpa merusak populasi di alam liar.

Read Also

Bursa Calon Ketua Umum PBNU Memanas, Gus Kikin Pilih Fokus pada Persatuan dan Ukhuwah

Bursa Calon Ketua Umum PBNU Memanas, Gus Kikin Pilih Fokus pada Persatuan dan Ukhuwah

Dukungan Nyata untuk Seniman

Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan moral bagi para pejuang budaya, Gubernur Khofifah memberikan dana pembinaan sebesar Rp25 juta kepada Tim Reog Kyai Lodra. Joko Winarko, perwakilan tim, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah. “Keikutsertaan kami di FRNP bukan hanya tentang kompetisi, tapi bukti bahwa generasi muda siap memikul tanggung jawab melestarikan Reog,” ujarnya.

Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi seniman, dan dukungan masyarakat, Jawa Timur optimistis bahwa Reog Ponorogo akan terus hidup sebagai identitas bangsa yang disegani di kancah internasional, membawa pesan perdamaian dan keberanian dari bumi Nusantara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *