Lonjakan Harga Plastik Picu Kerumunan Pemulung di TPS Surabaya, Pemkot Mulai Ambil Langkah Tegas
WartaLog — Fenomena menarik tengah terjadi di berbagai sudut Kota Pahlawan. Di tengah fluktuasi ekonomi global, tumpukan limbah kini seolah bertransformasi menjadi “emas baru” yang diburu banyak orang. Hal ini dipicu oleh meroketnya nilai jual material daur ulang di pasaran.
Peningkatan signifikan harga plastik dilaporkan telah memicu lonjakan jumlah pemulung yang memadati Tempat Penampungan Sementara (TPS) di seantero Surabaya. Para pencari barang bekas ini kini tampil lebih agresif, melakukan proses pemilahan sampah secara langsung di lokasi untuk memastikan mereka mendapatkan material plastik berkualitas tinggi sebelum terangkut ke pembuangan akhir.
Magnet Ekonomi di Balik Tumpukan Sampah
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M Fikser, mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi tantangan baru dalam manajemen kebersihan kota. Meskipun volume total sampah yang masuk ke TPS belum menunjukkan perubahan drastis, aktivitas manusia di dalamnya justru meningkat pesat.
Larung Sesaji Kali Baduk: Ritual Sakral dan Manifestasi Syukur Pedagang Kuliner Nganjuk
“Kami melihat masih banyak sampah plastik yang ditemukan di lapangan. Mengingat harga jualnya yang sedang naik daun, para pemulung memanfaatkan situasi ini untuk memilah-milah secara intensif langsung di area TPS,” ujar M Fikser saat memberikan keterangan kepada media.
Kondisi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, ada aktivitas ekonomi mikro yang terbantu, namun di sisi lain, tata kelola pengelolaan sampah kota menjadi terganggu akibat aktivitas yang tidak terorganisir di dalam fasilitas publik tersebut.
Dampak Buruk Terhadap Estetika dan Kelancaran Arus Sampah
Kehadiran para pemilah sampah yang membludak ternyata membawa dampak domino terhadap lingkungan sekitar. Proses pemilahan yang memakan tempat membuat ruang fungsional di dalam TPS menyusut drastis. Akibatnya, alur masuk dan keluar truk sampah terhambat, yang berujung pada penumpukan sampah yang tidak semestinya.
Vandalisme di Surabaya: Tertangkap Basah Merusak Mural, 4 Pemuda Kini Wajib Rawat ODGJ di Liponsos
“Justru banyaknya pemulung yang memilah sampah plastik saat ini menjadi kendala teknis bagi kami. Aktivitas mereka mengganggu proses pengambilan sampah rutin yang dilakukan petugas,” tambah Fikser. Ia juga menyoroti bagaimana keterbatasan ruang di dalam TPS memaksa tumpukan limbah meluber hingga ke bahu jalan, yang tentu saja mengganggu pengguna jalan dan merusak estetika kota.
Langkah Penertiban oleh Pemerintah Kota
Merespons situasi tersebut, Pemerintah Kota Surabaya tidak tinggal diam. Langkah-langkah penertiban kini mulai digalakkan di area-area TPS yang dianggap krusial. Fokus utamanya adalah mengembalikan fungsi TPS sebagai tempat transit sementara, bukan lokasi industri pemilahan liar.
Selain penertiban secara fisik, Pemkot Surabaya juga terus mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk mulai beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, sekaligus meminimalkan gesekan sosial di lapangan terkait perebutan nilai ekonomis dari limbah plastik.
Fenomena ‘Sesajen’ Empati di Jembatan Cangar, Tahura Raden Soerjo: Berbahaya bagi Satwa Liar
Ke depannya, TPS Surabaya diharapkan kembali berfungsi optimal tanpa adanya hambatan ruang, sehingga distribusi sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat berjalan sesuai jadwal tanpa menyebabkan pencemaran visual maupun bau di jalan-jalan protokol.