Krisis Gas Melon di Magetan: Harga Meroket ke Rp 27 Ribu, Warga Terpaksa Berburu hingga Luar Kota

Hendra Wijaya | WartaLog
15 Apr 2026, 17:22 WIB
Krisis Gas Melon di Magetan: Harga Meroket ke Rp 27 Ribu, Warga Terpaksa Berburu hingga Luar Kota

WartaLog — Jeritan warga di Kabupaten Magetan kian nyaring terdengar seiring dengan menghilangnya stok elpiji 3 kg atau yang akrab disapa gas melon dari pasaran. Kelangkaan ini tidak hanya memicu kepanikan, tetapi juga membuat harga di tingkat pengecer melambung tak terkendali hingga menembus angka Rp 27.000 per tabung.

Kondisi pelik ini memaksa sejumlah ibu rumah tangga untuk menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu tabung gas bersubsidi. Dewi, salah seorang warga Sukowidi, Kecamatan Kartoharjo, menceritakan pengalamannya yang harus melipir hingga ke wilayah Madiun demi memastikan dapur di rumahnya tetap bisa mengepul.

“Kemarin saya cek harganya bervariasi, ada yang menjual Rp 25 ribu bahkan sampai Rp 27 ribu. Saya heran sekali, kenapa gas melon tiba-tiba menghilang dan sangat sulit dicari,” keluh Dewi saat memberikan keterangan pada Rabu (15/4/2026).

Read Also

Tragedi Ledakan Dapur SPPG Ngawi: Satu Relawan Terluka Parah Akibat Kebocoran Oven Gas

Tragedi Ledakan Dapur SPPG Ngawi: Satu Relawan Terluka Parah Akibat Kebocoran Oven Gas

Warga Rela Menyeberang Daerah demi Harga Murah

Kesulitan serupa ternyata merata di lingkungan tempat tinggal Dewi. Ia mengungkapkan bahwa para tetangganya bahkan rela membawa tabung kosong ke Madiun demi selisih harga yang lebih manusiawi. “Saudara saya yang tinggal persis di sebelah rumah kemarin nekat bawa tabung ke Madiun, di sana masih dapat harga Rp 22 ribu. Padahal di Magetan sini sudah tembus Rp 27 ribu,” tambahnya dengan nada kecewa.

Tak jauh dari sana, Suratun (55) juga merasakan getirnya kelangkaan gas ini. Ia mengaku sudah berkeliling ke berbagai tempat dengan membawa tabung kosong, namun hasilnya tetap nihil. Perasaan pusing dan lelah menghantui para warga yang setiap harinya bergantung pada bahan bakar subsidi ini untuk kebutuhan domestik.

Read Also

Misteri Maling Celana Dalam Berkedok Cari Cicak di Lamongan, Polisi Mulai Buru Pelaku

Misteri Maling Celana Dalam Berkedok Cari Cicak di Lamongan, Polisi Mulai Buru Pelaku

Pengecer Mengeluh Stok Seret, Ada Dugaan Penyalahgunaan

Di sisi lain, para pedagang eceran pun tak berdaya menghadapi situasi ini. Supangat (50), seorang pengecer, mengaku bahwa lapaknya sudah kosong melompong selama sepekan terakhir. Pasokan yang ia terima dari agen sangat terbatas dan tidak mampu memenuhi permintaan pelanggan yang membeludak.

“Dalam seminggu, toko saya cuma dijatah 4 sampai 5 tabung saja. Begitu barang datang, langsung habis dalam sekejap. Sekarang stoknya kosong total,” jelas Supangat. Ia juga melontarkan kecurigaan terkait adanya penyalahgunaan distribusi gas melon ke sektor yang tidak semestinya.

Supangat menyoroti dugaan penggunaan gas melon oleh kalangan peternak ayam skala besar. “Katanya kandang ayam dilarang pakai elpiji subsidi, tapi kenyataannya di lapangan masih banyak yang pakai. Saya rasa semua orang sebenarnya tahu siapa saja yang menggunakan, tapi tidak ada tindakan tegas,” tegasnya.

Read Also

Prahara Pernikahan Sesama Jenis: Mediasi Buntu, Rey Malawat Resmi Laporkan Balik Sang Istri

Prahara Pernikahan Sesama Jenis: Mediasi Buntu, Rey Malawat Resmi Laporkan Balik Sang Istri

Langkah Tegas Pihak Kepolisian

Ida Rizkiyana, pemilik pangkalan elpiji di Desa Klagen, Kecamatan Barat, mengonfirmasi bahwa pasokan memang sedang terhenti. Namun, ia memberikan sedikit angin segar dengan harapan stok akan kembali masuk dalam waktu dekat. “Hari ini kosong semua, tapi insyaallah besok pasokan baru akan datang,” ujarnya singkat.

Merespons kegaduhan di tengah masyarakat, Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa langsung mengambil langkah preventif. Pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran Polsek di wilayah hukum Magetan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna memantau distribusi pasokan elpiji.

“Kami sudah memerintahkan semua Polsek jajaran untuk mengecek langsung ke pangkalan-pangkalan elpiji dan melakukan pengawasan ke area kandang ternak. Ini penting untuk mencegah adanya penyalahgunaan gas bersubsidi yang seharusnya menjadi hak masyarakat kecil,” pungkas Erik dengan tegas.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *