Larung Sesaji Kali Baduk: Ritual Sakral dan Manifestasi Syukur Pedagang Kuliner Nganjuk

Hendra Wijaya | WartaLog
15 Apr 2026, 14:19 WIB
Larung Sesaji Kali Baduk: Ritual Sakral dan Manifestasi Syukur Pedagang Kuliner Nganjuk

WartaLog — Suasana khidmat menyelimuti kawasan Dam Baduk, Sungai Kedungsuko, saat matahari pagi mulai menyapa Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Pada Selasa (14/4/2026), puluhan pedagang yang tergabung dalam sentra kuliner ikan Kali Baduk berkumpul untuk melestarikan tradisi turun-temurun, yakni ritual larung sesaji.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan sebuah bentuk perwujudan syukur yang mendalam atas limpahan rezeki dan keberkahan usaha yang mereka jalani selama ini. Dengan mengenakan pakaian khas, para pedagang berbaris rapi membawa berbagai uba rampe atau sesaji yang telah disiapkan dengan saksama sebagai simbol penghormatan terhadap alam.

Ragam Sesaji dan Simbolisme Harapan

Prosesi dimulai dengan doa bersama di area pasar kuliner, tempat para pedagang menggantungkan hidup sehari-hari. Setelah doa dipanjatkan, iring-iringan pembawa sesaji bergerak menuju bibir sungai. Berbagai jenis sesaji tampak menghiasi nampan-nampan besar, mulai dari nasi buceng, aneka jajanan pasar, ayam panggang Jawa (ingkung), pisang raja, hingga kembang setaman yang menebar aroma khas di sepanjang aliran sungai.

Read Also

Membongkar Tabir Misteri Sanggar Penerangan Teosofi Surabaya: Perjalanan Spiritual Menembus Stigma

Membongkar Tabir Misteri Sanggar Penerangan Teosofi Surabaya: Perjalanan Spiritual Menembus Stigma

Dipimpin oleh Pujianto, Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Kali Baduk, seluruh sesaji tersebut kemudian diletakkan di atas rakitan batang pohon pisang. Dengan iringan asap dupa yang membubung ke langit sebagai simbol pengantar doa kepada Yang Maha Kuasa, sesaji tersebut perlahan dihanyutkan mengikuti arus Sungai Baduk.

Melestarikan Warisan Sejak Era 2004

Bagi komunitas pedagang di sini, ritual ini memiliki nilai historis yang kuat dan emosional. Pujianto mengungkapkan bahwa kegiatan ini telah dilaksanakan secara konsisten sejak tahun 2004, bertepatan dengan momen awal dibukanya kawasan wisata kuliner Kali Baduk pada masa pemerintahan Bupati Nganjuk, Sutrisno.

“Larung sesaji ini adalah pengingat sejarah berdirinya sentra kuliner ini sekaligus ungkapan terima kasih kami kepada Sang Pencipta. Tahun 2026 ini menandai pelaksanaan ke-18 kalinya, dan kami berkomitmen untuk terus menjaga tradisi ini agar tidak lekang oleh waktu,” ujar Pujianto di sela-sela acara.

Read Also

Tragedi di Mapolresta Malang: Mengulas Sosok Yai Mim dan Labirin Kasus yang Menjeratnya

Tragedi di Mapolresta Malang: Mengulas Sosok Yai Mim dan Labirin Kasus yang Menjeratnya

Selain sebagai ritual spiritual, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai juga meyakini bahwa tradisi ini membawa energi positif bagi lingkungan sekitar. Selain mempererat kerukunan dan soliditas antar-pedagang, larung sesaji diharapkan dapat menjadi tolak bala serta mendatangkan keberuntungan, baik dalam hal melimpahnya hasil tangkapan ikan maupun kelancaran rezeki berdagang di wilayah Kabupaten Nganjuk.

Magnet Kuliner Ikan Segar di Nganjuk

Sentra kuliner Kali Baduk sendiri telah lama dikenal luas sebagai surga bagi para pencinta olahan ikan air tawar. Di sepanjang kawasan ini, pengunjung dapat memanjakan lidah dengan berbagai menu spesial yang disajikan segar, mulai dari wader goreng yang renyah, nila bakar, lele, udang, hingga belut goreng yang menggugah selera.

Read Also

Anomali Pariwisata Banyuwangi: Kunjungan Wisatawan Melimpah, Tapi PAD Tak Sampai Setengah Target

Anomali Pariwisata Banyuwangi: Kunjungan Wisatawan Melimpah, Tapi PAD Tak Sampai Setengah Target

Tak hanya bisa dinikmati langsung di deretan warung yang asri, banyak pengunjung yang sengaja datang untuk membeli ikan segar yang masih hidup untuk diolah sendiri di rumah. Kombinasi antara keasrian alam sungai dan kearifan lokal yang tetap terjaga menjadikan Kali Baduk sebagai destinasi yang unik, memadukan kelezatan kuliner dengan sakralnya warisan budaya Nusantara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *