Jejak Estetika Tari Serampang XII: Simbol Romansa Melayu yang Memikat Hati Bung Karno

Fajar Ramadhan | WartaLog
14 Apr 2026, 21:49 WIB
Jejak Estetika Tari Serampang XII: Simbol Romansa Melayu yang Memikat Hati Bung Karno

WartaLog — Di balik kelincahan langkah kaki dan kibasan saputangan yang ikonik, Tari Serampang XII menyimpan narasi panjang tentang identitas, etika, dan romansa masyarakat Melayu. Lebih dari sekadar pertunjukan panggung, tarian ini adalah buah dari evolusi kreatif yang melibatkan visi besar para seniman Sumatera Utara dalam mengemas budaya lokal menjadi warisan nasional yang elegan.

Akar Budaya: Dari Ujian Ketahanan ke Pola Koreografi

Menilik sejarahnya, Tari Serampang XII tidak lahir begitu saja dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Budayawan Melayu, M. Muhar, mengungkapkan bahwa tarian ini berakar dari tari Melayu lama yang dikenal sebagai Tari Pulau Sari. Pada masa lampau, Pulau Sari bukanlah tarian dengan durasi singkat, melainkan sebuah ajang pembuktian fisik.

Read Also

Oknum Guru di Medan Terjerat Jaringan Narkoba, 2 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi Disita Polisi

Oknum Guru di Medan Terjerat Jaringan Narkoba, 2 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi Disita Polisi

“Dahulu, Tari Pulau Sari itu durasinya sangat panjang. Karena belum ada struktur gerak yang baku, tarian ini sering menjadi ujian ketahanan bagi para penari di lapangan,” ujar Muhar saat berbagi perspektif mengenai kesenian tradisional ini.

Visi Sauti dan Persimpangan Kreativitas

Transformasi besar terjadi ketika dua tokoh seni, Sauti dan OK. Adram, membawakan tarian ini ke panggung Grand Hotel Medan pada tahun 1938. Namun, perjalanan menuju kesempurnaan koreografi sempat diwarnai oleh perbedaan pandangan artistik di antara keduanya.

Sauti memiliki visi untuk menyederhanakan gerakan agar tarian ini bisa dipelajari secara luas oleh masyarakat (massal). Di sisi lain, OK. Adram lebih memilih untuk menjaga pakem klasik yang mengedepankan aspek spontanitas. Perdebatan estetik ini, ditambah kritik konstruktif dari tokoh film Andjar Asmara, akhirnya mendorong Sauti untuk merancang ulang struktur gerak yang lebih rapi, sistematis, namun tetap memiliki nilai estetika tinggi.

Read Also

Reformasi Jeruji Besi: Komisi XIII DPR RI Beri Apresiasi Tinggi atas Progres Nyata Kementerian Imipas

Reformasi Jeruji Besi: Komisi XIII DPR RI Beri Apresiasi Tinggi atas Progres Nyata Kementerian Imipas

Puncak Kejayaan dan Diplomasi Budaya di Hadapan Soekarno

Nama Serampang XII semakin melambung pada tahun 1941 ketika dipentaskan dalam penggalangan dana untuk korban banjir di Serdang. Namun, momen bersejarah yang mengukuhkan posisi tarian ini dalam lembaran negara terjadi pada tahun 1951.

Kala itu, Presiden pertama RI, Soekarno, berkunjung ke Medan. Tari Serampang XII dipilih sebagai suguhan utama untuk menyambut Sang Proklamator. Popularitasnya kian tak terbendung setelah Sauti kembali mementaskannya secara berpasangan dengan Khalijah Abidin pada tahun 1952, yang kemudian menjadi standar performa tarian ini hingga sekarang.

Filosofi 12 Ragam: Narasi Cinta yang Beradab

Mengapa dinamakan Serampang XII? Angka dua belas merujuk pada dua belas tahapan perjalanan cinta sepasang muda-mudi. Ini bukan sekadar gerakan estetik, melainkan sebuah narasi utuh tentang budaya Sumatera Utara yang menjunjung tinggi etika dalam menjalin hubungan.

Read Also

Medan Rabu Walk-In Interview: Ribuan Pelamar Bersaing, Pemkot Targetkan Serap 1.000 Tenaga Kerja

Medan Rabu Walk-In Interview: Ribuan Pelamar Bersaing, Pemkot Targetkan Serap 1.000 Tenaga Kerja
  • Tahap Awal: Dimulai dari pertemuan pertama yang penuh kesantunan.
  • Proses Pendekatan: Cinta yang mulai tumbuh digambarkan lewat gerakan ‘berjalan’.
  • Simbol Selampai: Penggunaan saputangan melambangkan ikatan kasih yang mesra namun tetap menjaga batas-batas kehormatan.
  • Muara Pernikahan: Seluruh rangkaian diakhiri dengan komitmen menuju pelaminan yang direstui keluarga.

“Setiap ragam gerak adalah simbol. Ini adalah pengajaran tentang bagaimana pria dan wanita seharusnya berinteraksi dalam bingkai adab Melayu,” tambah Muhar.

Menjaga Relevansi di Era Modern

Meskipun saat ini Tari Serampang XII lebih sering dijumpai dalam festival budaya atau acara seremonial hiburan, nilai-nilai filosofisnya dianggap tetap relevan. Di tengah arus modernisasi, tarian ini berdiri sebagai pengingat tentang pentingnya tata krama, keseriusan dalam berkomitmen, dan penghormatan terhadap restu orang tua.

Tantangan terbesar saat ini menurut Muhar adalah memastikan generasi muda tidak hanya melihat tarian ini sebagai tontonan visual semata. Lebih dari itu, memahami makna di balik setiap langkah lincah tersebut adalah kunci agar identitas Melayu tetap hidup dan berdenyut di tengah zaman yang terus berubah.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *