Petaka Makan Bergizi Gratis di Jetis Bantul: 80 Siswa dan Guru Tumbang Akibat Keracunan

Dimas Pratama | WartaLog
15 Apr 2026, 07:50 WIB
Petaka Makan Bergizi Gratis di Jetis Bantul: 80 Siswa dan Guru Tumbang Akibat Keracunan

WartaLog — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan siswa, justru menyisakan duka di wilayah Jetis, Kabupaten Bantul. Puluhan murid dari sekolah menengah pertama dilaporkan mengalami gejala medis serius usai menyantap paket makanan yang dibagikan pada Senin, 13 April lalu.

Kronologi Munculnya Gejala Medis

Peristiwa ini bermula ketika para siswa mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi, ayam bakar, sayur sawi, tahu goreng, serta buah semangka. Namun, keesokan harinya, suasana sekolah yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Satu per satu siswa mulai mengeluhkan kondisi fisik yang tidak stabil.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Samsu Aryanto, mengungkapkan bahwa gejala yang dialami para korban cukup seragam. “Pagi tadi, sejumlah murid mulai merasakan mual, diare, muntah, hingga pusing hebat,” ungkapnya saat dikonfirmasi pada Selasa (14/4/2026). Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, pihak sekolah segera mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi para siswa ke Puskesmas 2 Jetis untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Read Also

Skandal OTT KPK di Jawa Timur: Tiga Kepala Daerah Terjerat, Begini Respons Khofifah Indar Parawansa

Skandal OTT KPK di Jawa Timur: Tiga Kepala Daerah Terjerat, Begini Respons Khofifah Indar Parawansa

Jumlah Korban Terus Bertambah

Awalnya, laporan hanya mencatat beberapa siswa saja, namun seiring berjalannya waktu, angka korban melonjak tajam. Berdasarkan data yang dihimpun dari Puskesmas Jetis 2, awalnya terdata 71 murid yang diduga kuat mengalami keracunan makanan.

Data terbaru yang disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul, Hermawan Setiaji, menunjukkan skala insiden yang lebih luas. Tercatat total 80 orang menjadi korban dalam peristiwa ini. Rinciannya mencakup 77 murid dari SMPN di Jetis, ditambah dua orang guru dan satu murid dari sebuah SMP swasta di wilayah yang sama. Meski jumlahnya cukup besar, Hermawan memastikan bahwa seluruh korban saat ini sudah dalam kondisi terkendali dan mendapatkan pengawasan medis.

Read Also

Strategi Efisiensi Anggaran: Pemkot Jogja Hanya Usulkan 36 Formasi CPNS 2026 Fokus Guru dan Nakes

Strategi Efisiensi Anggaran: Pemkot Jogja Hanya Usulkan 36 Formasi CPNS 2026 Fokus Guru dan Nakes

Desakan Penghentian Sementara Suplai Makanan

Menanggapi insiden yang mencoreng pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis ini, Pemerintah Kabupaten Bantul mengambil sikap tegas. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi penyuplai makanan di wilayah tersebut diminta untuk menghentikan aktivitasnya sementara waktu.

“Dari Satgas Kabupaten, kami sangat berharap operasional dihentikan dulu sampai penyebab pastinya diketahui. Namun, pihak SPPG melalui koordinator wilayah telah melaporkan kejadian ini ke tingkat pusat. Kami masih menunggu keputusan resmi dari pusat karena wewenang penuh ada di sana,” ujar Hermawan.

Penyelidikan Laboratorium Sedang Berjalan

Hingga saat ini, penyebab pasti dari munculnya gejala keracunan tersebut masih menjadi teka-teki. Pihak otoritas kesehatan tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa bukti ilmiah yang kuat. Langkah investigasi mendalam pun segera dilakukan untuk menyisir potensi cemaran bakteri atau zat berbahaya dalam menu yang disajikan.

Read Also

Buntut Polemik Kasus Amsal Sitepu, Jaksa Agung Resmi Copot Kajari Karo Danke Rajagukguk

Buntut Polemik Kasus Amsal Sitepu, Jaksa Agung Resmi Copot Kajari Karo Danke Rajagukguk

“Tim dari Dinkes Bantul sudah turun ke lapangan untuk mengambil sampel sisa makanan yang dikonsumsi para korban. Saat ini, sampel tersebut tengah menjalani uji laboratorium. Hasilnya nanti yang akan bicara mengenai apa sebenarnya pemicu dari insiden massal ini,” pungkas Hermawan.

Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi seluruh penyelenggara program gizi untuk memperketat standar higienitas dan pengawasan rantai pasok makanan demi keselamatan para generasi penerus bangsa.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *