Perjuangan Alfath: Dari Kuli Bangunan di Klaten Hingga Menjadi Mahasiswa Berprestasi di Kampus Biru UGM

Dimas Pratama | WartaLog
14 Apr 2026, 20:23 WIB
Perjuangan Alfath: Dari Kuli Bangunan di Klaten Hingga Menjadi Mahasiswa Berprestasi di Kampus Biru UGM

WartaLog — Bagi Alfath Qornain Isnan Yuliadi, aroma semen dan debu di area proyek bukanlah hal yang asing. Sebelum mengenakan jaket almamater kebanggaan Universitas Gadjah Mada (UGM), pemuda asal Klaten ini menghabiskan hari-harinya sebagai kuli bangunan. Namun, garis tangan seseorang bisa berubah melalui tekad baja, dan Alfath membuktikannya dengan bertransformasi menjadi salah satu mahasiswa paling berprestasi di kampusnya.

Alfath merupakan mahasiswa program studi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil angkatan 2022. Langkahnya menuju perguruan tinggi bukanlah jalan yang bertabur bunga. Sebagai lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia sempat berada di persimpangan jalan. Budaya di lingkungannya mengarahkan lulusan SMK untuk langsung terjun ke dunia kerja demi menopang ekonomi keluarga.

Read Also

Menaker Yassierli Beri Sinyal Program Magang Nasional 2026: Kuota Diusulkan Naik Jadi 150 Ribu Orang

Menaker Yassierli Beri Sinyal Program Magang Nasional 2026: Kuota Diusulkan Naik Jadi 150 Ribu Orang

“Di angkatan saya, jujur hanya saya sendiri yang berhasil lolos ke UGM dari sekolah tersebut,” kenang Alfath saat berbincang mengenai perjalanannya.

Bertahan di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, beban ekonomi keluarga cukup terasa di pundaknya. Ayahnya sempat berharap ia bisa segera membantu mencari nafkah setelah lulus SMK. Namun, visi Alfath jauh ke depan. Ia meyakini bahwa pendidikan adalah eskalator sosial yang bisa membawanya berkembang lebih jauh daripada sekadar menjadi pekerja kasar.

Demi membiayai mimpinya, Alfath melakoni pekerjaan berat. Sejak kelas dua SMK, ia sudah menjadi asisten ayahnya di berbagai proyek bangunan. Dari mencangkul tanah untuk fondasi hingga memanggul material berat, semua ia lakukan demi upah Rp 50 ribu per hari. Uang hasil keringatnya itu ia bagi dua: sebagian untuk membantu kebutuhan sekolah, sebagian lagi ditabung rapat-rapat untuk biaya pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Read Also

Tragedi Berdarah di Ghana: Bus Berekum Chelsea Dihujani Peluru, Satu Pemain Muda Tewas Mengenaskan

Tragedi Berdarah di Ghana: Bus Berekum Chelsea Dihujani Peluru, Satu Pemain Muda Tewas Mengenaskan

“Saya tidak tega minta uang ke Bapak. Jadi, saya bekerja keras sendiri,” tambahnya dengan nada rendah namun penuh ketegaran.

Ujian Mental dan Fisik di Lapangan Proyek

Ritme hidupnya saat itu sangat menguras energi. Pagi hingga sore ia bergelut dengan material bangunan, sementara malam hari ia gunakan untuk belajar secara mandiri. Menjelang ujian seleksi masuk kampus, ia mengatur jadwal dengan bekerja empat hari seminggu dan mencurahkan sisa waktunya untuk melahap materi pelajaran di akhir pekan.

Ujian fisik dan mental sempat datang ketika ia mengalami kecelakaan kerja. Alfath terjatuh dari lantai dua sebuah bangunan yang tengah dikerjakan. Meski sempat dirundung ketakutan akan masa depannya yang terancam sirna akibat cedera, ia menolak untuk menyerah pada keadaan.

Read Also

Kronologi Meninggalnya Yai Mim, Eks Dosen UIN Malang Tersangka Kasus Pornografi di Mapolresta

Kronologi Meninggalnya Yai Mim, Eks Dosen UIN Malang Tersangka Kasus Pornografi di Mapolresta

Momen yang dinanti tiba saat pengumuman seleksi masuk universitas. Di dalam kamarnya yang sederhana, Alfath mendapati dirinya diterima di kampus impian. Tangis haru pecah seketika. Ia langsung memeluk ibunya dan berlari menemui sang kakek untuk mengabarkan bahwa sejarah baru telah tercipta: Alfath menjadi anggota keluarga pertama yang berhasil menempuh pendidikan tinggi.

Metamorfosis Menjadi Mahasiswa Berprestasi

Kehidupan di kampus ternyata memberikan ruang bagi Alfath untuk bermetamorfosis. Ia yang dulunya mengaku sebagai pribadi yang tertutup (introvert), mulai memberanikan diri aktif di organisasi dan mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional.

Hasilnya sungguh luar biasa. Hingga saat ini, Alfath telah mengoleksi sekitar 15 penghargaan prestisius. Salah satu pencapaian puncaknya adalah menjadi finalis dalam kompetisi bergengsi di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Atas dedikasinya yang luar biasa, ia dianugerahi gelar Insan Berprestasi UGM pada tahun 2025.

Kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang bagi mereka yang mau berjuang. Laki-laki asal Klaten ini membuktikan bahwa tangan yang terbiasa memegang cangkul pun bisa menggenggam piala penghargaan di tingkat internasional.

“Tugas kita bukanlah menerka apa yang akan terjadi di masa depan, melainkan memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan saat ini. Lakukan yang terbaik agar tidak ada penyesalan di kemudian hari,” tutup Alfath penuh inspirasi.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *