Martabat di Atas Kanvas: Kisah Suhardiyono Kibar, Pelukis 76 Tahun yang Berjuang Melunasi Utang Tanpa Donasi
WartaLog — Di balik guratan kuas yang tajam dan pemilihan warna yang hidup, tersimpan sebuah beban hidup yang tidak ringan. Suhardiyono Kibar, seorang maestro seniman Yogyakarta berusia 76 tahun, kini tengah berkejaran dengan waktu. Bukan sekadar mengejar inspirasi, namun ia berjuang demi menyelamatkan martabat dan tanah warisan keluarganya dari ancaman sita bank akibat utang yang mencapai angka Rp 500 juta.
Prinsip Profesionalisme di Usia Senja
Ditemui di sebuah rumah joglo yang asri di kawasan Ngemplak, Sleman, Kibar menegaskan posisinya sebagai seorang seniman yang berdaulat. Meski usianya sudah memasuki kepala tujuh, pancaran semangatnya tidak memudar. Ia menolak dengan halus segala bentuk donasi cuma-cuma.
“Saya profesional saja. Saya tidak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis,” tegasnya dengan nada suara yang mantap. Baginya, melukis bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang dipilihnya sejak kecil.
Drama di Banjarmasin: Gol Tunggal Renan Alves Paksa PSS Sleman Tunduk dari Barito Putera
Kecintaan Kibar pada dunia seni lukis memang sudah mendarah daging sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bagaimana dulu ia sering mangkir dari pelajaran olahraga hanya demi bisa terus menggambar. Ia sempat menjajal berbagai genre seni, mulai dari abstrak hingga seni pahat, sebelum akhirnya memantapkan diri di aliran realis yang menurutnya lebih bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.
Badai Cobaan dan Rumah yang Ambruk
Perjalanan hidup Kibar tidaklah selalu mulus. Sebelum menempati joglo di Ngemplak, ia harus menghadapi kenyataan pahit saat rumah lamanya di Banguntapan rusak berat hingga ambruk. Kondisi ini diperparah dengan masalah kesehatan vertigo yang sempat membuatnya jatuh sakit.
Menelusuri Jejak Anggun Kebaya di Yogyakarta: 5 Rekomendasi Tempat Belanja Terbaik untuk Berbagai Acara
Masalah keuangan pun membayangi perjalanannya. Utang ratusan juta tersebut sebenarnya berawal dari penggunaan namanya oleh kerabat untuk pinjaman bank. Meski bukan ia yang menikmati uangnya, Kibar memilih untuk mengambil tanggung jawab moral penuh demi menyelamatkan aset keluarganya.
Kini, ia hanya memiliki tenggat waktu sekitar dua bulan untuk melunasi kewajiban yang jumlahnya membengkak menjadi sekitar Rp 556 juta akibat bunga bank. Namun, di tengah tekanan tersebut, Kibar justru merasa lebih tenang setelah pindah ke Ngemplak berkat bantuan Prof. Ali Agus dan tim pendampingnya.
Mahakarya Tokoh Nasional yang Mulai Dilirik Kolektor
Di tempat tinggal barunya, Kibar terus produktif melahirkan karya-karya luar biasa. Objek lukisannya sangat beragam, mulai dari potret tokoh nasional hingga tokoh kemanusiaan dunia. Beberapa karya yang kini menghiasi dinding rumahnya antara lain:
Aksi Cerdik Ahmad Sahroni Jebak KPK Gadungan: Alasan di Balik Penyerahan USD 17.400
- Lukisan Bung Karno dalam berbagai pose dan ukuran.
- Potret Pangeran Diponegoro dan Gajah Mada.
- Karya kontemporer seperti Prabowo Subianto bersama kucing kesayangannya.
- Potret Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
- Hingga sosok inspiratif Mother Teresa.
Berkat kekuatan media sosial, perjuangan Kibar mulai mendapatkan atensi publik. Atsir Mahatma Adam, tim pendamping Kibar, mengungkapkan bahwa sudah mulai ada kolektor yang mengajukan penawaran. Lukisan wajah Gibran Rakabuming Raka disebut telah ditawar senilai Rp 37 juta, sementara potret Soekarno mencapai angka penawaran Rp 42 juta.
Komitmen Tim Pendamping
Tim pendamping menegaskan bahwa mereka bergerak murni atas dasar kemanusiaan untuk membantu sang pelukis melewati masa sulitnya. “Kami tidak akan mengambil sepeser pun dari hasil penjualan lukisan Pak Kibar. Fokus utama kami adalah membantu beliau agar utang di bank bisa segera lunas melalui penjualan karya seni miliknya,” ujar Adam.
Bagi Kibar, setiap goresan kuas saat ini adalah doa dan usaha untuk menebus kembali tanah kelahirannya. Ia membuktikan bahwa di usia senja, kreativitas dan rasa tanggung jawab masih bisa menjadi senjata utama untuk menghadapi badai kehidupan yang paling keras sekalipun.