Lelah Menanti 80 Tahun, Warga Enrekang-Sidrap Patungan Rp 70 Juta demi Perbaiki Jalan Rusak

Anisa Putri | WartaLog
15 Apr 2026, 17:53 WIB
Lelah Menanti 80 Tahun, Warga Enrekang-Sidrap Patungan Rp 70 Juta demi Perbaiki Jalan Rusak

WartaLog — Sebuah potret ironis sekaligus menginspirasi datang dari Bumi Massenrempulu. Selama delapan dekade atau sekitar 80 tahun, warga di perbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, harus berteman dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Lelah hanya diberi janji tanpa realisasi, masyarakat Desa Baringin akhirnya memutuskan untuk bergerak sendiri melalui aksi nyata swadaya masyarakat guna memperbaiki akses penghubung yang vital tersebut.

Aksi gotong royong ini bukan sekadar tenaga, melainkan juga materi. Warga secara kolektif berhasil mengumpulkan dana murni hingga Rp 70 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk pengerjaan gorong-gorong dan perbaikan struktur jalan yang selama ini hanya berupa tanah merah dan bebatuan tajam.

Delapan Dekade Terabaikan

Muhammad Fadil Nugraha, salah seorang tokoh pemuda setempat, mengungkapkan bahwa jalur tersebut seolah terlupakan oleh peradaban modern. Sejak kampung tersebut berdiri, akses jalan sepanjang 6 kilometer yang menghubungkan wilayah Lacobo di Enrekang menuju Kalempang di Sidrap belum pernah sekalipun mencicipi aspal.

Read Also

Kalender Hijriah Hari Ini 15 April 2026: Menilik Penentuan Tanggal di Akhir Syawal 1447 H

Kalender Hijriah Hari Ini 15 April 2026: Menilik Penentuan Tanggal di Akhir Syawal 1447 H

“Ini adalah jalan tanah yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan bisa dibilang sejak kampung ini ada sekitar 80 tahun lalu, belum pernah tersentuh perbaikan dari pemerintah. Kondisinya sangat berat, apalagi saat musim hujan,” ujar Fadil kepada awak media, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, jalur ini merupakan nadi ekonomi bagi lima desa, yakni Desa Baringin, Labuku, Tallang, Banua, dan Tanete Maiwa. Pentingnya jalur ini membuat warga tak punya pilihan lain selain turun tangan sendiri demi kelancaran akses jalan mereka.

Tragedi di Jalur Terjal

Kondisi jalan yang ekstrem bukan tanpa risiko. Fadil menceritakan betapa jalur ini sering menjadi saksi bisu kecelakaan hingga peristiwa kemanusiaan yang memilukan. Salah satu yang paling membekas adalah saat seorang ibu hamil harus berjuang melahirkan di dalam mobil karena kendaraan yang membawanya terjebak di jalan rusak dan tak kunjung sampai ke fasilitas kesehatan.

Read Also

Panduan Lengkap Susunan Upacara Hari Kartini 2026: Referensi Khidmat untuk Sekolah dan Instansi

Panduan Lengkap Susunan Upacara Hari Kartini 2026: Referensi Khidmat untuk Sekolah dan Instansi

“Banyak kejadian pilu di sini. Bahkan ada ibu hamil yang terpaksa melahirkan di tengah jalan karena mobil tidak bisa melaju cepat akibat jalan rusak parah. Ini yang memicu warga kompak melakukan donasi,” tambahnya dengan nada getir.

Hingga saat ini, donasi masih terus dibuka karena proses pengerjaan masih panjang. Dana Rp 70 juta yang terkumpul saat ini digunakan untuk memperluas badan jalan dan membeli sekitar 60 unit gorong-gorong yang akan dipasang di 11 titik krusial. Namun, warga masih menemui kendala teknis karena pemasangan gorong-gorong memerlukan alat berat yang biaya sewanya tidak murah.

Tagih Janji Politik dan Respon Pemerintah

Aksi swadaya ini juga menjadi bentuk protes halus warga terhadap janji-janji manis para politisi. Jalur Lacobo-Kalempang seringkali dijadikan komoditas politik saat musim pemilihan kepala daerah maupun legislatif, namun menghilang saat kursi kekuasaan sudah didapat.

Read Also

Skandal Pelecehan di RS Kemenkes Makassar: Nasib Tragis Petugas Cleaning Service yang Dipecat Usai Melapor

Skandal Pelecehan di RS Kemenkes Makassar: Nasib Tragis Petugas Cleaning Service yang Dipecat Usai Melapor

“Setiap musim Pilkada atau pemilihan dewan, jalan ini selalu jadi bahan jualan politik. Tapi setelah terpilih, tidak ada kabarnya lagi. Makanya, warga sekarang menagih janji kepada Bapak Bupati Muhammad Yusuf Ritangnga melalui aksi ini,” tegas Fadil.

Menanggapi aksi perbaikan jalan tersebut, Bupati Enrekang, Yusuf Ritangnga, menyatakan bahwa pihaknya akan menjadikan jalur Lacobo sebagai salah satu prioritas pembangunan. Meski begitu, ia mengakui adanya kendala keterbatasan anggaran daerah (APBD) dan persoalan administratif karena jalan tersebut berada di perbatasan wilayah.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif warga. Semoga ke depan Pemkab Enrekang memiliki ketersediaan dana yang cukup untuk menangani Jalan Lacobo secara permanen. Namun, kami juga harus berkoordinasi dengan Pemkab Sidrap karena sebagian besar ruas jalan masuk ke wilayah administratif mereka,” pungkas Yusuf.

Masyarakat berharap, dengan membaiknya jalur ini, distribusi hasil pertanian akan lebih mudah, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan yang paling penting, tidak ada lagi warga yang harus mempertaruhkan nyawa saat membutuhkan layanan kesehatan darurat.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *