Nyawa di Ujung Pipa: Perjuangan Siswa SMP di Medan Seberangi Sungai Deli Demi Sekolah

Fajar Ramadhan | WartaLog
15 Apr 2026, 17:24 WIB
Nyawa di Ujung Pipa: Perjuangan Siswa SMP di Medan Seberangi Sungai Deli Demi Sekolah

WartaLog — Potret buram akses pendidikan kembali mencuat di jantung Kota Medan, Sumatera Utara. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, sejumlah siswa sekolah menengah pertama (SMP) terpaksa melakoni aksi ‘akrobat’ yang membahayakan nyawa. Mereka meniti pipa air besar yang membentang di atas Sungai Deli hanya untuk bisa sampai ke sekolah tepat waktu.

Pantauan di lapangan pada Rabu (15/4/2026) menunjukkan pemandangan yang mendebarkan. Siswa-siswi berseragam putih-biru, baik laki-laki maupun perempuan, perlahan menapakkan kaki di atas pipa besi milik PDAM. Di bawah kaki mereka, aliran Sungai Deli yang besar mengalir deras, siap menelan siapa saja yang terpeleset. Tanpa ada alat pengaman, satu per satu dari mereka menyeberang dengan penuh kehati-hatian.

Read Also

Tragedi di Puncak Leuser: Pendaki Binjai Kris Biantoro Akan Dimakamkan di Jalur Pendakian

Tragedi di Puncak Leuser: Pendaki Binjai Kris Biantoro Akan Dimakamkan di Jalur Pendakian

Hilangnya Akses Vital bagi Warga

Kondisi ekstrem ini bukan tanpa alasan. Dahulunya, di lokasi yang menghubungkan Gang Perbatasan, Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan Maimun dengan Kecamatan Medan Polonia ini, terdapat sebuah jembatan kokoh. Jembatan yang merupakan bekas rel kereta api tersebut selama puluhan tahun menjadi urat nadi bagi warga dan anak sekolah untuk menyeberang.

Namun kini, infrastruktur tersebut telah sirna tanpa sisa. Hilangnya jembatan ini memaksa warga mencari jalan pintas tercepat, meskipun nyawa menjadi taruhannya. Jika enggan melewati pipa, mereka harus memutar jalan yang sangat jauh, yang memakan waktu dan biaya tambahan.

Antara Keberanian dan Keterpaksaan

Mita, salah seorang siswi kelas 7 di SMPN 34 Medan, menjadi salah satu anak yang rutin melintasi pipa maut tersebut. Baginya, meniti pipa besi adalah pilihan yang lebih masuk akal dibandingkan harus memutar jauh ke rumahnya yang berada di Kecamatan Medan Polonia.

Read Also

Bobby Nasution Usulkan Perda Larangan Vape di Sumut demi Bendung Peredaran Narkoba Jenis Baru

Bobby Nasution Usulkan Perda Larangan Vape di Sumut demi Bendung Peredaran Narkoba Jenis Baru

“Kalau naik motor bisa sampai enam menit, tapi kalau jalan kaki harus memutar sangat jauh. Lewat sini jauh lebih dekat ke sekolah,” ungkap Mita dengan nada polos. Meski terlihat berbahaya bagi orang dewasa, Mita mengaku rasa takutnya sudah terkikis oleh rutinitas. “Nggak takut lagi, karena sudah biasa setiap hari lewat sini,” tambahnya.

Senada dengan Mita, Pramudya yang juga menimba ilmu di SMPN 34, lebih memilih melewati pipa saat pulang sekolah. Alasan ekonomi menjadi pemicu utamanya. Dengan menyeberangi pipa, ia bisa menghemat uang saku yang diberikan orang tuanya untuk ditabung. Bagi mereka, menantang maut di atas Sungai Deli telah menjadi bagian dari realita pahit perjuangan menuntut ilmu.

Read Also

Mengungkap Alasan di Balik Rehabilitasi Selebgram Medan yang Terjerat Kasus Vape Narkoba

Mengungkap Alasan di Balik Rehabilitasi Selebgram Medan yang Terjerat Kasus Vape Narkoba

Imbauan Pemerintah dan Harapan Warga

Pihak setempat sebenarnya tidak tinggal diam. Lestari, Kepala Lingkungan (Kepling) 21 Kelurahan Kampung Baru, menjelaskan bahwa pihaknya telah berulang kali memberikan imbauan bahkan memasang garis pembatas agar jalur berbahaya tersebut tidak dilalui. Namun, urgensi akses yang cepat seringkali mengalahkan rasa takut warga dan para pelajar.

“Kami sudah pasang garis larangan dan terus mengimbau, tapi karena ini jalan paling cepat, anak-anak dan warga tetap nekat melintas,” jelas Lestari. Ia pun mengenang kembali saat jembatan lama masih berdiri dan sempat ditinjau oleh pejabat berwenang, termasuk saat Bobby Nasution menjabat sebagai Wali Kota Medan.

Harapan besar kini tertuju pada pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah konkret. Warga sangat mendambakan pembangunan kembali jembatan penyeberangan tersebut. Revitalisasi akses ini bukan sekadar soal kenyamanan transportasi, melainkan tentang menjamin keselamatan generasi muda yang tengah berjuang menggapai masa depan di bangku sekolah.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *