Sensasi Menginap di Kabin Boeing 737: Menelusuri Jejak Kemewahan Tersembunyi di Jantung Ubud
WartaLog — Di balik rimbunnya pepohonan dan ketenangan Jalan Penestanan Kelod, Sayan, Ubud, tersimpan sebuah kejutan yang belakangan ini menggegerkan jagat maya. Bukan sekadar vila biasa, Biyu Siyu menawarkan pengalaman bermalam yang tak lazim: tidur di dalam perut pesawat Boeing 737 yang telah disulap menjadi kamar super mewah.
Kepopuleran tempat ini meledak setelah Janet Newenham, seorang kreator konten ternama asal Irlandia, membagikan pengalamannya di media sosial. Sejak saat itu, arus wisatawan, terutama pasangan mancanegara, tak henti-hentinya mengalir untuk merasakan sensasi tidur di atas ‘awan’ daratan Gianyar. Heri Wiyoko, Manajer Biyu Siyu, mengakui bahwa lonjakan pesanan terjadi sangat masif sejak publikasi tersebut.
Permata Tersembunyi di Balik Gang Sempit
Menemukan lokasi Biyu Siyu membutuhkan sedikit ketelitian. Meski berada tak jauh dari ikon wisata Ubud seperti Pasar Seni dan Museum The Blanco Renaissance, letak bangunannya cukup tersembunyi. Papan namanya yang tidak terlalu mencolok membuat banyak orang mungkin tak menyangka bahwa di balik gerbang tersebut terparkir sebuah burung besi raksasa.
Geliat Festival Wayang Bali Utara: Menghidupkan Kembali Marwah Budaya di Museum Soenda Ketjil
Pesawat Boeing 737 ini mendominasi sisi selatan area vila. Dengan balutan cat biru dan putih yang elegan, badan pesawat ini memampang nama dua tokoh finansial legendaris dunia, Milton Friedman dan Warren Buffet. Kehadiran pesawat ini bukan sekadar pajangan; ia berdiri kokoh di atas fondasi beton dengan roda pendaratan yang masih asli, lengkap dengan kode penerbangan M-001 dan WB-001 yang masih terbaca jelas.
Fasilitas Mewah di Dalam Kabin
Masuk ke dalam pesawat, tamu tidak akan menemukan deretan kursi penumpang yang sempit. Interiornya telah dirombak total menjadi suite kelas atas. Biyu Siyu menyediakan ruang tamu yang luas, kamar tidur utama untuk dua orang, serta fasilitas modern seperti AC, televisi, dan koneksi internet cepat. Uniknya, kamar mandi di dalam pesawat ini merupakan modifikasi dari toilet asli pesawat yang kini tampil jauh lebih estetis dan nyaman.
Misteri Kematian Lansia Asal Australia di Sanur: Ditemukan Tak Bernyawa di Balik Pintu Terkunci
Bagi mereka yang menyukai simulasi penerbangan, ruang kokpit pesawat ini tetap dipertahankan dengan segala tombol kendali aslinya. Meskipun saat ini fitur simulasi video game-nya sedang dalam tahap pemeliharaan, atmosfer ruang kendali pilot ini tetap memberikan aura nostalgia yang kuat. Untuk menginap di kamar paling prestisius ini, tamu cukup merogoh kocek sekitar Rp 1 juta per malam melalui aplikasi Airbnb.
Wasiat Sang Ekonom: Antara Persahabatan dan Obsesi
Di balik kemegahan pesawat ini, tersimpan kisah haru dari pemilik aslinya, mendiang Hugo J. Van Reijen. Ekonom asal Belanda yang menetap di Bali sejak 1980-an ini awalnya membangun tempat ini sebagai rumah pribadi. Nama Biyu Siyu sendiri baru disematkan pada tahun 2010 untuk memudahkan kurir paket menemukan lokasinya.
Aksi Brutal WNA Prancis di Gym Denpasar: Korban Dipukul Saat Sedang Treadmill
Obsesi Reijen terhadap dunia ekonomi membuatnya membeli pesawat bekas ini pada tahun 2018. Kabarnya, potongan pesawat tersebut diangkut menggunakan lima truk kontainer sebelum dirakit kembali di Ubud. Tujuan utamanya sangat personal: Reijen ingin mengundang sahabat-sahabatnya, yakni Warren Buffet dan Milton Friedman, untuk menginap gratis di Bali. Sayangnya, takdir berkata lain. Reijen berpulang pada tahun 2022 sebelum impiannya menjamu sang rekan tercapai.
Visi Masa Depan: Dari Boeing ke Helikopter
Kini, di bawah pengelolaan manajemen yang baru, rumah pribadi penuh kenangan ini telah bertransformasi menjadi akomodasi eksklusif dengan total sembilan kamar. Namun, inovasi tidak berhenti di sini. Heri mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki rencana ambisius untuk menambah unit kamar baru yang tak kalah unik, yakni menggunakan badan helikopter bekas.
Dengan perpaduan antara sejarah personal yang mendalam dan kreativitas tanpa batas, Biyu Siyu bukan sekadar tempat menginap. Ia adalah monumen mimpi seorang ekonom yang kini bisa dinikmati oleh siapa saja yang ingin merasakan keajaiban di tengah ketenangan alam Ubud.