Geliat Festival Wayang Bali Utara: Menghidupkan Kembali Marwah Budaya di Museum Soenda Ketjil
WartaLog — Semburat cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela tampak menyentuh lembut deretan lukisan wayang yang tertata di atas meja panjang. Di sudut lain ruangan, tokoh-tokoh wayang kulit berdiri berjejer dengan anggun, seolah-olah sedang menanti saat yang tepat untuk kembali menuturkan hikayat lama kepada dunia.
Suasana reflektif begitu kental terasa di dalam Museum Soenda Ketjil yang berlokasi di kawasan bersejarah eks Pelabuhan Buleleng, Singaraja. Di gedung penuh memori inilah, gelaran perdana Festival Wayang Bali Utara dilangsungkan pada kurun waktu 9 hingga 11 April 2026. Para pengunjung tampak terhanyut dalam detail setiap karya, mencoba menyelami makna simbolis yang tersirat dalam tiap goresan seni tradisional tersebut.
Siasat DPRD Bali Hadapi Lonjakan Harga Tiket Pesawat 13 Persen Demi Jaga Stabilitas Pariwisata
Membaca Ulang Identitas Bali Utara
Putu Ardiasa, sang Direktur Festival, mengungkapkan bahwa tanah Bali Utara memiliki karakter pewayangan yang sangat distingtif. Perbedaan tersebut terpancar jelas mulai dari bentuk fisik wayang, narasi yang dibawakan, hingga keberanian para praktisinya dalam melakukan eksplorasi seni. Festival ini dirancang sebagai wadah untuk memulihkan ingatan kolektif masyarakat terhadap kekayaan intelektual lokal mereka.
“Bali Utara memiliki napas wayang yang berbeda. Kita bisa melihat keunikan ini pada Wayang Wong yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003, hingga keelokan seni lukis wayang kaca khas Nagasepaha,” papar Ardiasa saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Pemilihan Museum Soenda Ketjil sebagai lokasi festival pun sarat akan makna filosofis. Tempat ini menjadi medium untuk membayangkan kembali kejayaan masa lalu wilayah Sunda Kecil dan mengaktualisasikannya dalam denyut kehidupan modern melalui bahasa seni pewayangan.
Perisai Kesehatan Tamu Allah: 680 Calon Jemaah Haji Bali Jalani Vaksinasi Wajib
Sinergi Tiga Generasi dan Inovasi Tanpa Batas
Salah satu daya tarik utama festival ini adalah pementasan yang melibatkan tiga generasi dalang sekaligus. Estafet budaya ditunjukkan dengan kehadiran figur dalang lingsir (tua) yang diwakili oleh Jro Dalang Wayan Sudarma, dalang remaja Jro Dalang Mangku Gede Upi, hingga aksi memukau dari para dalang cilik.
Tak hanya terpaku pada pakem klasik, festival ini juga memberi ruang bagi ekspresi wayang inovatif seperti Talajiwa dan wayang ental. Ardiasa menegaskan bahwa wayang tidak harus selalu menggunakan bahasa Kawi atau terbatas pada kisah Mahabarata. Ia membuktikan bahwa wayang bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, Inggris, bahkan melalui bahasa tubuh yang universal sebagai sarana penyampai pesan.
Menatap Pilkel Serentak Tabanan 2027: 133 Desa Bersiap Gelar Pesta Demokrasi
Wayang Sebagai Tatanan Kehidupan
Selain pertunjukan panggung, festival ini juga diisi dengan berbagai ruang aktivasi budaya seperti workshop pembuatan wayang suket dan diskusi mendalam mengenai eksistensi seni lukis kaca. Bagi masyarakat di Buleleng, wayang bukan sekadar hiasan atau hiburan semata, melainkan elemen vital dalam kehidupan sosial dan spiritual.
“Wayang itu mencakup tiga pilar utama: tontonan, tuntunan, dan tatanan. Itulah yang ingin kami suarakan kembali kepada generasi muda,” tegas Ardiasa. Ia berharap festival ini menjadi pemantik yang konsisten untuk menjaga nyala sejarah Bali Utara, membuktikan bahwa tradisi Bali bukanlah sesuatu yang statis, melainkan organisme yang terus tumbuh dan relevan mengikuti perkembangan zaman.