Merapi Kembali Bergeliat: Tiga Kali Awan Panas Meluncur ke Kali Boyong Pagi Ini
WartaLog — Atap langit Yogyakarta kembali diwarnai oleh aktivitas vulkanik dari salah satu gunung api paling aktif di dunia. Gunung Merapi dilaporkan kembali menunjukkan gejolaknya dengan memuntahkan awan panas guguran sebanyak tiga kali pada Minggu (12/4) pagi, menegaskan bahwa fase erupsi efusifnya masih terus berlangsung dengan intensitas yang fluktuatif.
Berdasarkan laporan resmi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), rangkaian aktivitas subuh ini merupakan kelanjutan dari kegelisahan perut bumi yang sudah mulai terasa sejak Sabtu malam. Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengungkapkan bahwa rentetan awan panas pagi ini dimulai pada pukul 05:45 WIB dengan estimasi jarak luncur mencapai 1.500 meter.
“Awan panas pertama tercatat dengan amplitudo maksimum 47,9 mm dan durasi 166,4 detik, mengarah ke hulu Kali Boyong,” jelas Agus saat memberikan keterangan resmi mengenai kondisi terkini Gunung Merapi.
Petaka Dapur di Tanjungsari: Rumah Limasan Mbah Karmin Ludes Terbakar Akibat Lupa Matikan Kompor
Rentetan Awan Panas Sepanjang Pagi
Ketegangan tidak berhenti sampai di situ. Hanya berselang sekitar dua jam, tepatnya pukul 07:41 WIB, Merapi kembali menghembuskan awan panas sejauh 1.400 meter. Puncaknya terjadi pada pukul 08:21 WIB, di mana jarak luncur terjauh untuk pagi ini tercatat mencapai 2.000 meter. Seluruh material vulkanik tersebut meluncur deras menuju sektor yang sama, yakni hulu Kali Boyong.
Data dari pihak BPPTKG menunjukkan bahwa pada periode pengamatan Sabtu malam hingga pukul 24:00 WIB, asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas tebal terlihat membubung setinggi 475 hingga 525 meter di atas puncak. Selain awan panas, guguran lava juga teramati sebanyak 36 kali ke arah Barat Daya, meliputi Kali Sat, Bebeng, Krasak, dan Boyong dengan jarak luncur maksimal dua kilometer.
Renungan Harian Katolik 15 April 2026: Berjalan dalam Terang dan Keberanian Mewartakan Kebenaran
Status Siaga dan Potensi Bahaya
Hingga saat ini, tingkat aktivitas gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan DIY ini masih bertahan di level SIAGA (Level III). Agus menekankan bahwa potensi bahaya saat ini masih terfokus pada guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya.
Pemerintah dan pihak terkait telah memetakan radius bahaya yang meliputi:
- Sungai Boyong: Maksimal sejauh 5 km.
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng: Maksimal sejauh 7 km.
- Sungai Woro (Sektor Tenggara): Maksimal sejauh 3 km.
- Sungai Gendol: Maksimal sejauh 5 km.
Agus menambahkan bahwa jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 km dari puncak gunung. “Data pemantauan kami menunjukkan bahwa suplai magma masih terus berlangsung di dalam perut gunung. Hal inilah yang memicu terjadinya awan panas guguran secara berkala di dalam daerah potensi bahaya,” pungkasnya. Warga diminta untuk tetap tenang namun waspada serta selalu memantau instruksi resmi terkait mitigasi bencana dari pihak berwenang.
Kupas Tuntas Tes Psikometri: 30+ Contoh Soal dan Kunci Jawaban untuk Persiapan Rekrutmen Kerja