Darurat Sampah Organik di Denpasar: 3 TPST Overload, Jasa Pengangkut Mulai Angkat Tangan

Rizky Fauzi | WartaLog
13 Apr 2026, 14:23 WIB
Darurat Sampah Organik di Denpasar: 3 TPST Overload, Jasa Pengangkut Mulai Angkat Tangan

WartaLog — Kondisi pengelolaan limbah di ibu kota Provinsi Bali kian mengkhawatirkan. Tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) utama di Kota Denpasar kini dilaporkan telah melampaui ambang batas kapasitas (overload), khususnya untuk kategori sampah organik. Fenomena ini memicu efek domino yang membuat para penyedia jasa angkut sampah mulai merasa frustrasi.

Adapun tiga titik krusial yang saat ini tengah mengalami kebuntuan operasional adalah TPST Kertalangu, TPST Padangsambian, dan TPST Tahura. Laporan lapangan menunjukkan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut tidak lagi mampu menyerap aliran sampah dari masyarakat secara optimal.

Krisis Lahan Pembuangan Hasil Cacahan

Ketua Forum Swakelola Sampah Bali (SSB), I Wayan Suarta, mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sudah sangat mendesak. Berdasarkan koordinasi terakhirnya dengan pihak pemerintah setempat, para pengelola di pengolahan sampah tersebut mengaku sudah kehabisan akal untuk mencari solusi jangka pendek.

Read Also

Strategi Pemprov NTT Jaga Stok Gas Melon: Dapur Makan Bergizi Gratis Diarahkan Gunakan LPG 50 Kg

Strategi Pemprov NTT Jaga Stok Gas Melon: Dapur Makan Bergizi Gratis Diarahkan Gunakan LPG 50 Kg

“Kemarin saya menghubungi Wali Kota dan Kepala UPT terkait. Mereka menyatakan sudah ‘habis akal’ karena tumpukan yang ada sudah benar-benar overload. Masalah utamanya adalah sisa hasil cacahan sampah organik yang menumpuk di gudang dan tidak bisa dikeluarkan. Pertanyaannya, mau dibuang ke mana?” ujar Suarta dengan nada prihatin, Senin (13/4/2026).

Rencana awal untuk mengalihkan pembuangan ke area dekat Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Kabupaten Klungkung hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda realisasi. Akibatnya, gudang penyimpanan di TPST penuh sesak, dan operasional mesin cacah pun terhambat.

Nasib Pengangkut Sampah di Ujung Tanduk

Dampak paling nyata dirasakan oleh para petugas dan jasa pengangkut sampah mandiri. Suarta membeberkan bahwa banyak truk pengangkut yang terpaksa gigit jari karena ditolak saat hendak menurunkan muatan di TPST. Hal serupa juga terjadi di sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R) yang mulai mengalami antrean panjang.

Read Also

Kejar Target PAD Rp 511 Miliar, Pansus DPRD Karangasem Desak BPKAD Optimalkan Sektor Pajak Baru

Kejar Target PAD Rp 511 Miliar, Pansus DPRD Karangasem Desak BPKAD Optimalkan Sektor Pajak Baru

“Bayangkan, para petugas ini sudah bersusah payah melakukan sortasi sampah sejak dari sumbernya. Begitu sampai di lokasi pengolahan, meski hanya membawa sedikit sampah organik, mereka tetap ditolak dan disuruh pulang. Ini sangat mengecewakan bagi mereka yang sudah bekerja keras,” tambah Suarta.

Kondisi ini membuat mental para penyedia jasa angkut menurun drastis. Sebagian mulai merasa putus asa dan enggan mengambil sampah dari rumah-rumah warga karena ketidakpastian lokasi pembuangan akhir.

Ancaman Lingkungan dan Kebiasaan Buruk Masyarakat

Jika polemik TPST Denpasar ini tidak segera ditangani, Suarta mengkhawatirkan munculnya masalah sosial dan lingkungan yang lebih besar di tengah masyarakat. Penumpukan sampah di permukiman warga berpotensi memicu tindakan-tindakan yang merusak lingkungan.

Read Also

Gagalkan Peredaran Ekstasi Rp 1,2 Miliar, Polda Bali Ringkus Pengedar di Kawasan Kuta Selatan

Gagalkan Peredaran Ekstasi Rp 1,2 Miliar, Polda Bali Ringkus Pengedar di Kawasan Kuta Selatan

“Saya melihat ke depan ini akan menjadi bom waktu. Kita sudah mulai melihat banyak tumpukan sampah di lingkungan warga yang tidak terangkut. Dampak buruknya, mulai banyak warga yang mengambil jalan pintas dengan membakar sampah mereka sendiri. Ini tentu berbahaya bagi kesehatan dan kualitas udara kita,” pungkasnya.

Kini, publik menanti langkah taktis dari Pemerintah Kota Denpasar untuk memecah kebuntuan distribusi hasil olahan organik ini agar rantai pengelolaan sampah di Bali tidak benar-benar lumpuh total.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *