Ironi Akses Kesehatan di Polman: Warga Tandu Lansia 9 KM dan Seberangi 4 Sungai Demi Pengobatan

Anisa Putri | WartaLog
12 Apr 2026, 18:54 WIB
Ironi Akses Kesehatan di Polman: Warga Tandu Lansia 9 KM dan Seberangi 4 Sungai Demi Pengobatan

WartaLog — Potret buram infrastruktur di pelosok negeri kembali mencuat, kali ini datang dari pedalaman Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Seorang wanita lanjut usia harus bertaruh nyawa di atas tandu bambu seadanya demi mendapatkan pertolongan medis, sebuah kenyataan pahit di tengah klaim kemajuan zaman.

Sitti Halija, wanita berusia 60 tahun asal Desa Ratte, Kecamatan Tutar, terpaksa dievakuasi oleh warga dengan cara ditandu sejauh 9 kilometer. Bukan tanpa alasan, jalan rusak parah membuat kendaraan bermotor, bahkan mobil spesialis medan berat sekalipun, sulit menjangkau wilayah tersebut, terutama saat musim penghujan tiba.

Perjuangan Empat Jam Menembus Hutan dan Sungai

Aksi heroik sekaligus memilukan ini terekam dalam ingatan warga yang bahu-membahu membawa Sitti menuju fasilitas kesehatan terdekat. Perjalanan yang dimulai dari Desa Ratte menuju Desa Taramanu Tua itu memakan waktu hingga empat jam lamanya. Tak hanya jarak yang jauh, medan yang dilalui pun sangat ekstrem.

Read Also

Akselerasi Bendungan Jenelata: Bupati Gowa Garansi Ganti Rugi Lahan Berjalan Adil dan Transparan

Akselerasi Bendungan Jenelata: Bupati Gowa Garansi Ganti Rugi Lahan Berjalan Adil dan Transparan

“Kondisi orang tua kami sudah sangat lemah, tidak mungkin lagi berjalan kaki apalagi naik motor. Akhirnya warga sepakat menandu sejauh 9 kilometer. Dalam perjalanan itu, kami harus menyeberangi empat sungai berbatu,” ungkap Aco Yaqub, salah satu warga yang ikut dalam proses evakuasi tersebut kepada tim redaksi.

Keputusan menggunakan jalur setapak di tengah hutan diambil bukan tanpa pertimbangan. Meski harus menembus rimbunnya pepohonan, jalur alternatif ini dinilai lebih singkat dibandingkan jalan umum yang kondisinya jauh lebih membahayakan. Saat hujan mengguyur, infrastruktur daerah tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan berisiko tinggi bagi keselamatan warga.

Jalur Vital yang Terabaikan

Ketiadaan akses jalan yang layak di Kecamatan Tutar ini seolah mengisolasi kehidupan masyarakat setempat. Jalur hutan yang dilewati Sitti Halija nyatanya adalah urat nadi bagi warga Desa Ratte. Mulai dari anak-anak yang hendak pergi sekolah hingga warga yang memikul kebutuhan pokok, semuanya bergantung pada jalan setapak tersebut.

Read Also

Kericuhan Pecah di Arena MTQ Sulsel: Pedagang dan Satpol PP Maros Terlibat Adu Mulut Soal Sewa Lapak

Kericuhan Pecah di Arena MTQ Sulsel: Pedagang dan Satpol PP Maros Terlibat Adu Mulut Soal Sewa Lapak

“Setiap kali ada warga yang sakit, skenarionya selalu sama: ditandu. Ini adalah satu-satunya cara tercepat menuju pelayanan kesehatan yang memadai. Anak sekolah juga terbiasa lewat sini, bahkan bahan pokok pun dipikul manual melewati hutan ini,” tambah Yaqub dengan nada prihatin.

Menanti Sentuhan Pemerintah

Dalam rekaman video yang beredar, terlihat kerumunan pria dewasa berjuang menjaga keseimbangan saat menyeberangi derasnya sungai sambil memikul tandu yang terbuat dari sarung dan batang bambu. Napas terengah-engah dan kaki yang terpeleset di bebatuan sungai menjadi saksi bisu betapa mendesaknya kebutuhan akan pembangunan di wilayah tersebut.

Masyarakat Sulawesi Barat, khususnya di pedalaman Polman, kini hanya bisa berharap agar pemerintah daerah segera turun tangan. Perbaikan jalan bukan sekadar soal kenyamanan berkendara, melainkan menyangkut nyawa manusia dan hak dasar warga negara untuk mendapatkan layanan kesehatan yang manusiawi.

Read Also

Pelaku Penikaman Sekuriti di CFD Makassar Masih Buron, Polisi Bantah Klaim Penangkapan

Pelaku Penikaman Sekuriti di CFD Makassar Masih Buron, Polisi Bantah Klaim Penangkapan

“Kami merasa sangat menderita jika akses ini terus dibiarkan tanpa pembangunan. Kami butuh perhatian nyata, bukan sekadar janji, agar tidak ada lagi Sitti Halija lain yang harus bertaruh nyawa di atas tandu hanya untuk berobat,” pungkas Yaqub penuh harap.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *