Inovasi Ketahanan Pangan di Balik Jeruji: Sekjen Kemenimipas Puji Kemandirian Lapas Garut sebagai Role Model Nasional

Akbar Silohon | WartaLog
14 Mei 2026, 23:17 WIB
Inovasi Ketahanan Pangan di Balik Jeruji: Sekjen Kemenimipas Puji Kemandirian Lapas Garut sebagai Role Model Nasional

WartaLog — Transformasi lembaga pemasyarakatan dari sekadar tempat pembinaan menjadi pusat produktivitas berbasis ekonomi kerakyatan kini bukan lagi sekadar wacana. Hal ini terbukti nyata saat Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Asep Kurnia, melakukan kunjungan kerja strategis ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan sebuah misi untuk meninjau langsung bagaimana ketahanan pangan nasional diimplementasikan secara konkret di balik jeruji besi.

Meninjau Jantung Produktivitas Lapas Garut

Kehadiran Sekjen Asep Kurnia yang didampingi oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Ditjenpas Jawa Barat, Kusnali, disambut dengan atmosfer produktivitas yang kental. Fokus utama dari kunjungan ini adalah penguatan program pembinaan kemandirian bagi para warga binaan. Program ini dirancang tidak hanya untuk mengisi waktu selama masa pidana, tetapi juga untuk membekali mereka dengan keahlian teknis yang bernilai ekonomi tinggi setelah kembali ke masyarakat nantinya.

Read Also

Update Tragedi Kereta Bekasi: 31 Saksi Diperiksa, Polisi Dalami Kelalaian dan Malfungsi Sistem

Update Tragedi Kereta Bekasi: 31 Saksi Diperiksa, Polisi Dalami Kelalaian dan Malfungsi Sistem

Asep Kurnia memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap capaian Lapas Garut. Menurutnya, sinergi antara manajemen lapas dan semangat warga binaan telah melahirkan produk-produk ketahanan pangan yang berkualitas. “Kami melihat bahwa implementasi program di Lapas Garut ini sudah sangat maksimal. Semuanya berjalan dengan sistematis dan membuahkan hasil yang nyata, bukan sekadar laporan di atas kertas,” ujar Asep dalam keterangannya yang diterima redaksi pada Rabu (14/5/2026).

Inovasi Pakan Mandiri: Terobosan Efisiensi yang Luar Biasa

Salah satu sektor yang paling mencuri perhatian dalam kunjungan tersebut adalah unit peternakan ayam petelur. Berbeda dengan peternakan pada umumnya yang bergantung pada pasokan pakan pabrikan, Lapas Garut menunjukkan kelasnya dengan memproduksi pakan ayam secara mandiri. Inovasi ini dianggap sebagai lompatan besar dalam dunia pemasyarakatan karena mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kemandirian institusi.

Read Also

Skandal Sampel Tanah Buol: Imigrasi Gorontalo Deportasi 4 WNA China Terkait Dugaan Aktivitas Tambang Ilegal

Skandal Sampel Tanah Buol: Imigrasi Gorontalo Deportasi 4 WNA China Terkait Dugaan Aktivitas Tambang Ilegal

“Ada hal yang sangat menonjol dan patut dicontoh dari unit peternakan ayam petelur di sini. Pakan ayamnya tidak dibeli dari pihak luar, melainkan hasil racikan dan buatan warga binaan Lapas Garut sendiri,” ungkap Asep dengan nada bangga. Ia menambahkan bahwa keahlian para warga binaan dalam memproduksi pakan berkualitas membuktikan bahwa program pelatihan vokasi di Lapas Garut telah mencapai standar yang mumpuni.

Tidak hanya soal teknis pakan, aspek kesejahteraan warga binaan juga menjadi sorotan. Asep menekankan bahwa setiap warga binaan yang terlibat dalam proses produksi ini mendapatkan premi atau upah atas kerja keras mereka. Hal ini menciptakan ekosistem yang sehat, di mana warga binaan merasa dihargai dan memiliki tabungan sebagai modal awal saat mereka bebas nanti.

Read Also

Diplomasi Iklim Berubah Arah: Mengapa India Memilih Mundur dari Pencalonan Tuan Rumah COP33?

Diplomasi Iklim Berubah Arah: Mengapa India Memilih Mundur dari Pencalonan Tuan Rumah COP33?

Kualitas Telur Premium: Cerita Unik di Tengah Kandang

Sisi naratif yang menarik muncul ketika Sekjen Asep Kurnia terjun langsung ke dalam kandang untuk melihat kualitas hasil produksi. Rasa penasaran membawanya untuk memeriksa telur-telur yang dihasilkan oleh ribuan ayam petelur yang dikelola secara profesional tersebut. Sebuah momen unik terjadi saat ia menemukan telur dengan kualitas yang luar biasa.

“Saya mencoba mengambil telur secara acak, dan luar biasa, saya menemukan telur dengan dua kuning di dalamnya. Bahkan saat saya pecahkan dua telur, hasilnya ada tiga kuning telur yang sangat segar. Ukurannya sangat pas, tidak terlalu besar namun juga tidak kecil. Saat dikonsumsi pun rasanya sangat enak,” imbuhnya menceritakan pengalamannya. Kualitas ini menjadi bukti sahih bahwa manajemen nutrisi melalui pakan mandiri yang diterapkan di Lapas Garut berada pada jalur yang benar.

Kalapas Garut Sebagai Role Model Kepemimpinan

Keberhasilan sebuah institusi tentu tidak lepas dari peran nakhodanya. Dalam kesempatan tersebut, Asep Kurnia secara khusus memberikan pujian kepada Kepala Lapas (Kalapas) Garut atas dedikasi dan inovasi yang ditunjukkan. Baginya, kepemimpinan di Lapas Garut harus dijadikan rujukan oleh lapas-lapas lain di seluruh Indonesia, terutama dalam hal pengelolaan unit bisnis dan ketahanan pangan.

“Kalapas di sini sangat luar biasa, sangat peduli, dan penuh dengan dedikasi. Saya secara terbuka menyatakan bahwa beliau adalah salah satu role model di jajaran pemasyarakatan. Banyak kalapas dari daerah lain yang saya instruksikan untuk datang dan belajar ke Garut mengenai bagaimana manajemen ketahanan pangan yang efektif,” tutur Asep. Mengelola program semacam ini bukanlah perkara mudah, dibutuhkan integritas dan pemahaman mendalam mengenai pemberdayaan manusia.

Visi Jangka Panjang: Bekal Keahlian dan Integritas

Lebih jauh, Kemenimipas melihat bahwa keberhasilan di Garut bukan hanya soal angka produksi, melainkan soal transformasi karakter. Lapas Garut dinilai berhasil menjalankan Tugas dan Fungsi (Tusi) dengan seimbang; menjaga keamanan dan ketertiban sambil tetap memberikan ruang luas bagi pemberdayaan.

Melalui program peternakan dan produksi pakan mandiri, warga binaan tidak hanya belajar cara bertani atau beternak, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan manajemen waktu. “Tujuannya jelas, agar ketika mereka keluar nanti, mereka tidak lagi kembali ke jalan yang salah. Mereka pulang membawa keahlian, membawa bekal penghasilan, dan yang paling penting, membawa harga diri sebagai manusia yang produktif,” tegas Asep.

Dukungan Terhadap Program Strategis Nasional

Program yang dijalankan di Lapas Garut ini juga sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam memperkuat kedaulatan pangan dari level mikro. Dengan mampu memproduksi kebutuhan pangannya sendiri, lapas berkontribusi dalam mengurangi beban negara sekaligus menjadi produsen yang mampu mensuplai kebutuhan pasar lokal di sekitar Garut.

Di akhir kunjungannya, Sekjen Asep Kurnia berharap agar inovasi pakan mandiri ini terus dikembangkan dan diteliti lebih lanjut komposisi nutrisinya agar bisa diproduksi dalam skala yang lebih luas. Ia optimis bahwa jika model ini direplikasi secara masif di seluruh Indonesia, maka institusi pemasyarakatan akan menjadi salah satu pilar utama pendukung ketahanan pangan nasional di masa depan.

Keberhasilan Lapas Garut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang dan status hukum bukanlah penghalang untuk berkarya. Dengan manajemen yang tepat dan sentuhan kemanusiaan, jeruji besi bisa bertransformasi menjadi laboratorium inovasi yang menghasilkan manfaat luas bagi masyarakat dan negara.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *