Lahan Kritis Jadi Emas Hijau, Inovasi Warga Dlingo Bantul Produksi Minyak Atsiri Berkualitas Dunia

Dimas Pratama | WartaLog
15 Apr 2026, 17:54 WIB
Lahan Kritis Jadi Emas Hijau, Inovasi Warga Dlingo Bantul Produksi Minyak Atsiri Berkualitas Dunia

WartaLog — Di tangan yang kreatif, lahan gersang nan berbatu tak lagi menjadi beban, melainkan sumber kemakmuran. Inilah yang dibuktikan oleh warga Pedukuhan Kebosungu 1, Dlingo, Bantul, yang berhasil menyulap lahan marjinal menjadi hamparan hijau tanaman minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi.

Perjalanan transformasi ini dimulai sejak tahun 2017. Kala itu, kondisi geografis Kebosungu 1 yang didominasi bebatuan membuat lahan di sana dicap kritis karena tidak mampu menghidupi tanaman palawija. Namun, Sunaryanta, Koordinator UMKM Shafaluna, melihat celah di balik tantangan tersebut. Bersama warga, ia mulai menanam tanaman yang tangguh terhadap kondisi tanah terbatas, seperti sereh merah dan kayu putih.

Strategi Menaklukkan Lahan Marjinal

Lahan seluas tujuh hektare yang dulunya terbengkalai kini telah berubah total. Sunaryanta menjelaskan bahwa pemilihan sereh merah didasarkan pada karakteristik tanaman yang minim perawatan namun produktif. Sekali tanam, petani bisa menikmati masa panen berkali-kali.

Read Also

Mudah dan Cepat! Panduan Lengkap Cek Pajak Kendaraan Bermotor Online Hanya Lewat Ponsel

Mudah dan Cepat! Panduan Lengkap Cek Pajak Kendaraan Bermotor Online Hanya Lewat Ponsel

“Sejak awal penanaman, kami mencatat sudah melakukan 127 kali panen. Ini adalah bukti bahwa pertanian kreatif bisa bertahan di lahan yang sulit sekalipun,” ujar Sunaryanta. Pola panennya pun sangat terukur; setelah panen perdana di bulan keenam, siklus panen berikutnya hanya memakan waktu 33 hingga 38 hari saja.

Dapur Produksi dan Hilirisasi Produk

Warga Dlingo tidak hanya menjual bahan mentah. Melalui proses penyulingan yang presisi, mereka menghasilkan produk turunan yang beragam. Dalam satu bulan, kapasitas produksi mereka mampu mencapai 60 liter minyak murni dari sereh dan jahe merah.

Prosesnya terbilang intensif; untuk menghasilkan 400 hingga 700 ml minyak atsiri, dibutuhkan sekitar 100 kg bahan baku sereh merah yang disuling selama tiga setengah jam. Produk yang dihasilkan kini merambah ke berbagai varian, mulai dari:

Read Also

Jalur Prestasi PBUB UGM 2026: Panduan Lengkap Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran

Jalur Prestasi PBUB UGM 2026: Panduan Lengkap Syarat, Jadwal, dan Cara Pendaftaran
  • Sabun mandi kesehatan kulit seharga Rp 5.000 per batang.
  • Lilin aromaterapi untuk relaksasi.
  • Minyak gosok dalam berbagai ukuran (10 ml hingga 60 ml) dengan harga terjangkau mulai Rp 10.000 hingga Rp 50.000.

Mimpi Menembus Pasar Global

Meskipun secara produksi sudah stabil, tantangan besar masih membentang di sisi pemasaran. Dengan dukungan 472 petani yang tergabung dalam kelompok ini, Sunaryanta bercita-cita membawa harumnya minyak atsiri Dlingo hingga ke mancanegara, khususnya India yang dikenal sebagai pasar potensial.

“Kami sedang memperkuat eksistensi di platform e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Harapannya, akses ke pasar ekspor segera terbuka,” tambahnya. Selain untuk ekonomi lokal, minyak atsiri ini juga dipercaya memiliki khasiat medis, seperti meredakan stres, meredakan sakit kepala, hingga penanganan pertama pada gigitan hewan berbisa.

Read Also

Buron Kasus Penipuan Ratusan Juta, Eko Agus Suryawan Kini Diburu Polda DIY

Buron Kasus Penipuan Ratusan Juta, Eko Agus Suryawan Kini Diburu Polda DIY

Inisiatif warga Kebosungu 1 ini menjadi potret nyata bagaimana kemandirian ekonomi desa bisa dibangun melalui inovasi dan pemanfaatan potensi alam yang tepat sasaran, sekaligus mengubah keterbatasan menjadi peluang yang menjanjikan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *