Peta Baru di Perbatasan: Israel Rancang Skenario Pendudukan Militer Jangka Panjang di Lebanon Selatan

Dimas Pratama | WartaLog
14 Apr 2026, 16:50 WIB
Peta Baru di Perbatasan: Israel Rancang Skenario Pendudukan Militer Jangka Panjang di Lebanon Selatan

**WartaLog** — Tensi di perbatasan Timur Tengah kembali memanas menyusul kabar mengenai rencana ambisius Tel Aviv untuk mengubah lanskap keamanan di wilayah utara. Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, dilaporkan tengah mematangkan sebuah proposal yang bisa mengubah drastis dinamika konflik Israel-Lebanon. Bukan sekadar operasi singkat, rencana ini mengarah pada penempatan militer jangka panjang yang terbagi dalam skema tiga zona strategis di wilayah kedaulatan Lebanon.

Strategi Tiga Zona: Cetak Biru Ron Dermer

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari media lokal Israel, Channel 14, Ron Dermer—yang dikenal sebagai salah satu penasihat kepercayaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu—tengah merumuskan cetak biru pembagian wilayah Lebanon Selatan. Dalam proposal tersebut, Tel Aviv berniat membagi wilayah tersebut menjadi tiga zona kendali dengan syarat-syarat penarikan pasukan yang sangat ketat.

Read Also

PSIM Jogja Jadi Tim Paling Hobi Berbagi Poin di Super League, Alarm Bahaya Mulai Berbunyi

PSIM Jogja Jadi Tim Paling Hobi Berbagi Poin di Super League, Alarm Bahaya Mulai Berbunyi
  • Zona Pertama: Membentang dari perbatasan utara Israel hingga kedalaman 7-8 kilometer ke dalam wilayah Lebanon (Garis Kuning). Di zona ini, Israel berencana mempertahankan kehadiran militernya secara permanen hingga kelompok milisi benar-benar dibubarkan.
  • Zona Kedua: Meluas lebih jauh ke utara hingga mencapai Sungai Litani. Wilayah ini diproyeksikan sebagai basis operasi militer aktif Israel untuk menghancurkan infrastruktur lawan sebelum nantinya diserahkan secara bertahap kepada tentara nasional Lebanon.
  • Zona Ketiga: Wilayah di utara Sungai Litani di mana militer Lebanon akan memikul tanggung jawab penuh untuk memastikan tidak ada aktivitas persenjataan ilegal.

Target Utama: Pelucutan Senjata Total

Fokus utama dari manuver ini adalah pelucutan senjata Hizbullah secara menyeluruh. Israel menegaskan bahwa kehadiran militer mereka di zona-zona tersebut bersifat kondisional; mereka hanya akan menarik diri jika ancaman keamanan telah dinetralkan sepenuhnya. Para pejabat di Tel Aviv meyakini bahwa pemerintah Lebanon pada akhirnya akan menerima proposal ini sebagai kompromi pahit demi stabilitas kawasan di masa depan.

Read Also

DTSEN Gantikan DTKS Mulai 2025: Panduan Lengkap Cara Daftar dan Cek Status Bansos Terbaru

DTSEN Gantikan DTKS Mulai 2025: Panduan Lengkap Cara Daftar dan Cek Status Bansos Terbaru

Menariknya, proposal yang dirancang oleh mantan Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat ini juga menyertakan klausul mengenai potensi perjanjian damai permanen antara kedua negara. Namun, perdamaian tersebut hanya bisa terwujud jika syarat pembersihan milisi di wilayah selatan terpenuhi tanpa celah sedikitpun.

Diplomasi Meja Bundar di Washington

Langkah strategis ini diperkirakan akan menjadi topik hangat dalam diplomasi internasional. Delegasi dari pihak-pihak terkait dijadwalkan akan bertemu di Washington DC pada Selasa mendatang dengan mediasi langsung dari Amerika Serikat. Pertemuan ini akan menjadi penentu apakah proposal kontroversial Israel ini dapat diterima oleh komunitas internasional atau justru akan memicu eskalasi baru yang lebih luas di kawasan tersebut.

Read Also

Berkah Tak Terduga dari Operasi Senyap: Kisah Pengusaha Rental Nganjuk Saat OTT KPK di Tulungagung

Berkah Tak Terduga dari Operasi Senyap: Kisah Pengusaha Rental Nganjuk Saat OTT KPK di Tulungagung

Hingga saat ini, publik dunia masih menunggu respons resmi dari pihak Beirut terkait rencana pembagian zona militer di wilayah kedaulatan mereka, yang bagi sebagian analis dianggap sebagai bentuk tantangan langsung terhadap integritas wilayah Lebanon.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *