Aksi Kemanusiaan Ji Chang Wook di Kupang NTT: Bangun Sekolah PAUD Megah di Tengah Realita Gaji Guru Rp100 Ribu

Rizky Fauzi | WartaLog
14 Apr 2026, 14:23 WIB
Aksi Kemanusiaan Ji Chang Wook di Kupang NTT: Bangun Sekolah PAUD Megah di Tengah Realita Gaji Guru Rp100 Ribu

WartaLog — Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh aksi filantropi dari bintang ternama Korea Selatan, Ji Chang Wook. Aktor yang dikenal melalui berbagai peran ikoniknya dalam drama Korea tersebut tertangkap kamera memberikan dukungan nyata bagi pendidikan anak usia dini di wilayah pelosok Indonesia, tepatnya di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui sebuah rekaman video yang viral, Ji Chang Wook diketahui telah berkontribusi dalam pembangunan gedung baru untuk PAUD Cahaya Timur di Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu.

Sentuhan Kasih Ji Chang Wook untuk Anak-Anak Kupang

Langkah mulia ini merupakan buah kolaborasi sang aktor dengan sebuah brand makanan ringan melalui inisiatif bertajuk ‘One Bite One Dream’. Bekerja sama dengan organisasi kemanusiaan Happy Hearts Indonesia, program ini bertujuan menyediakan fasilitas belajar yang layak bagi anak-anak di daerah yang minim infrastruktur pendidikan. Dalam pesannya yang menyentuh, Ji Chang Wook mengungkapkan harapannya agar gedung baru tersebut bisa menjadi ruang yang nyaman bagi para siswa untuk merajut masa depan.

Read Also

Misteri Cahaya di Langit Bali Terpecahkan: BRIN Konfirmasi Melintasnya Roket Smart Dragon-3 China

Misteri Cahaya di Langit Bali Terpecahkan: BRIN Konfirmasi Melintasnya Roket Smart Dragon-3 China

“Halo, adik-adik. Apa kabar? Saya aktor Ji Chang Wook. Apakah kalian senang dengan sekolah barunya?” sapanya dalam video yang beredar luas di berbagai platform media sosial. Tak hanya menyapa, ia juga melontarkan harapan untuk bisa berkunjung langsung ke Kupang dan bertatap muka dengan para siswa di sana suatu hari nanti.

Kisah di Balik Perjuangan PAUD Cahaya Timur

Meskipun bantuan fisik gedung sekolah membawa angin segar, ada narasi penuh perjuangan yang terungkap di baliknya. Pengelola PAUD Cahaya Timur, Julio Dos Reis Gonzaga, membagikan kisah panjang berdirinya sekolah ini. Didirikan sejak tahun 2015, sekolah ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap minimnya akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut. Hingga kini, lembaga ini telah meluluskan sekitar 80 murid dan saat ini mengasuh 37 siswa aktif.

Read Also

Ketegaran Rizki Mulyani Hadapi Kanker Payudara Stadium 3 di Usia 26 Tahun

Ketegaran Rizki Mulyani Hadapi Kanker Payudara Stadium 3 di Usia 26 Tahun

Julio mengaku tidak pernah menyangka bahwa dedikasinya selama satu dekade terakhir akan mendapatkan atensi dari pesohor kelas dunia. “Kami sangat bersyukur kepada Tuhan, doa kami dikabulkan. Kami tidak menyangka sekolah kecil kami mendapat perhatian dari artis Korea. Awalnya kami difasilitasi oleh LSM sehingga bantuan ini bisa terealisasi,” ungkap Julio saat dikonfirmasi.

Ironi Pendidikan: Gedung Baru yang Kontras dengan Kesejahteraan Guru

Namun, di balik megahnya gedung baru hasil donasi tersebut, tersembunyi realita pahit mengenai kesejahteraan para tenaga pendidik. Berdasarkan penuturan Julio, para guru di PAUD Cahaya Timur selama bertahun-tahun bekerja tanpa kepastian upah. Mereka awalnya hanya mengandalkan swadaya atau sumbangan sukarela dari orang tua murid yang kondisinya pun secara ekonomi sangat terbatas.

Read Also

Dorong Pemerataan Pembangunan, Sederet Jalan Desa di Tabanan Diusulkan Naik Status Jadi Jalan Kabupaten

Dorong Pemerataan Pembangunan, Sederet Jalan Desa di Tabanan Diusulkan Naik Status Jadi Jalan Kabupaten

Saat ini, meski sekolah mulai menerima kucuran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), jumlah yang dialokasikan untuk honor guru masih jauh dari kata layak. Besaran upah yang mereka terima sangat bergantung pada jumlah siswa yang terdaftar. Dalam kondisi murid sedikit, seorang guru terkadang hanya menerima gaji sebesar Rp 100.000 per bulan. Ironisnya lagi, pembayaran honor tersebut sering kali dirapel hingga enam bulan sekali.

“Kalau muridnya banyak, kami bisa digaji Rp 250 ribu. Tapi kalau sedikit, ya hanya Rp 100 ribu per bulan. Itu pun dibayarnya setahun cuma dua kali,” tutur Julio. Ia juga menambahkan bahwa hingga detik ini, belum ada intervensi atau bantuan khusus dari pemerintah daerah setempat untuk menyokong operasional maupun kesejahteraan guru di sekolah tersebut.

Menanti Perhatian Lebih untuk Pendidikan Pelosok

Kehadiran Ji Chang Wook di NTT melalui program sosial ini menjadi pengingat keras bagi banyak pihak. Bahwa di saat bantuan internasional masuk untuk membenahi infrastruktur, masalah fundamental seperti kesejahteraan tenaga pengajar masih menjadi rapor merah di dalam negeri. Fenomena ini diharapkan tidak hanya menjadi momen viral sesaat, melainkan pemantik bagi pemerintah untuk lebih peduli pada nasib pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Julio berharap agar ke depannya, perhatian serupa juga menyasar lembaga pendidikan lain di daerah terpencil yang masih berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan finansial demi mencerdaskan anak bangsa.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *