Dilema Stadion Sunyi: Bos PSIM Jogja Terang-terangan Mengaku Tekor Akibat Sepi Penonton
WartaLog — Stadion yang biasanya bergemuruh dengan sorakan khas Laskar Mataram, kini menyisakan gema yang terasa dingin. Fenomena sepinya tribun pada laga kandang terakhir PSIM Jogja saat menjamu PSM Makassar menjadi sorotan tajam. Dari total 7.500 kuota penonton yang dipersiapkan, hanya 1.862 pasang mata yang hadir langsung memberikan dukungan di stadion. Angka yang jauh dari harapan ini tak pelak memicu kekhawatiran serius di level manajemen.
Beban Operasional yang Tak Sebanding
Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, tidak menutupi rasa kecewanya terhadap kondisi ini. Wanita yang akrab disapa Liana tersebut mengakui bahwa penurunan jumlah penonton secara drastis berdampak langsung pada napas finansial klub. Biaya penyelenggaraan pertandingan atau operasional panitia pelaksana (panpel) ternyata melampaui pemasukan dari penjualan tiket.
Renungan Harian Katolik 15 April 2026: Berjalan dalam Terang dan Keberanian Mewartakan Kebenaran
“Dampaknya sangat terasa. Untuk menutupi biaya panpel saja tidak mencukupi, apalagi biaya perizinan pertandingan saat ini memang cukup mahal,” ungkap Liana saat memberikan keterangan kepada awak media pada Senin (13/4/2026). Ia menekankan bahwa mengelola sebuah klub sepak bola indonesia di tengah tren penurunan jumlah penonton adalah tantangan yang luar biasa berat.
Manajemen Tak Sanggup Berjalan Sendiri
Liana mengungkapkan bahwa ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran operasional menjadi beban yang sulit dipikul sendirian oleh pihak manajemen. Ia berharap ada sinergi dan dukungan nyata dari berbagai elemen agar PSIM Jogja tetap bisa berlaga dengan stabil secara finansial.
“Jika semua beban dilemparkan ke manajemen, itu sangat berat. Saya sendiri tidak akan kuat jika harus menanggung semuanya sendirian,” tambahnya dengan nada jujur. Menurutnya, kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu menjadi salah satu faktor utama mengapa masyarakat mulai enggan merogoh kocek untuk datang ke stadion dan menyaksikan Laskar Mataram bertanding.
Jogja Run D-City 2026: Tantangan Lari Seru di Kota Pelajar dengan Total Hadiah Rp140 Juta
Harapan di Tengah Badai Finansial
Meski sedang berada dalam situasi sulit, optimisme Liana belum padam. Ia percaya bahwa setiap tantangan adalah bagian dari proses pendewasaan klub. Liana menegaskan bahwa manajemen tidak akan berpangku tangan dan terus berupaya melakukan pembenahan internal agar minat suporter untuk kembali ke stadion meningkat.
“Saya percaya PSIM selalu berada dalam perlindungan Tuhan. Apapun yang terjadi, ini adalah bagian dari perjalanan terbaik. Namun, kami harus tetap berbenah, tidak bisa hanya berharap tanpa melakukan aksi nyata,” tegasnya. Ia juga menyisipkan doa agar keberadaan klub ini tetap menjadi berkah bagi wilayah DIY, mampu menghidupi para pekerja kreatif di bidang olahraga, serta menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar stadion.
Drama di Banjarmasin: Gol Tunggal Renan Alves Paksa PSS Sleman Tunduk dari Barito Putera
Kini, manajemen tengah menggodok strategi baru untuk memancing kembali gairah suporter, sembari mempertimbangkan opsi Stadion Mandala Krida atau lokasi alternatif lainnya yang lebih efisien secara operasional untuk musim mendatang.