Kesaksian Warga Pantai Nipah di Sidang Pembunuhan Mahasiswi Unram: Tak Pernah Ada Begal!

Rizky Fauzi | WartaLog
14 Apr 2026, 20:22 WIB
Kesaksian Warga Pantai Nipah di Sidang Pembunuhan Mahasiswi Unram: Tak Pernah Ada Begal!

WartaLog — Tabir gelap yang menyelimuti kasus kematian tragis Ni Made Vaniradya Puspa Nitra, mahasiswi Universitas Mataram (Unram), kian tersingkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Mataram. Dua warga lokal yang dihadirkan sebagai saksi memberikan keterangan krusial yang mementahkan narasi pembegalan yang selama ini digaungkan oleh pihak terdakwa.

Dua saksi tersebut, Sambidi dan Paharudin, merupakan warga Dusun Nipah, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Di hadapan majelis hakim, keduanya dengan tegas menyatakan bahwa kawasan Pantai Nipah selama ini dikenal sebagai lokasi yang sangat aman. Tragedi yang menimpa Ni Made Vaniradya disebut sebagai noda pertama yang mencoreng ketenangan wilayah tersebut.

Menepis Skenario Begal yang Direkayasa

Dalam persidangan yang menghadirkan terdakwa Radiet Adiansyah alias Radit ini, Sambidi memberikan kesaksian bahwa dirinya tidak pernah mendengar atau melihat adanya aksi kriminalitas jalanan di lingkungan mereka. “Setahu saya aman-aman saja. Tidak pernah terjadi pembegalan di sana,” ungkap Sambidi pada Selasa (14/4/2026).

Read Also

Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Hari Ini 15 April 2026: Panduan Ibadah Tepat Waktu

Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Hari Ini 15 April 2026: Panduan Ibadah Tepat Waktu

Pernyataan senada diperkuat oleh Paharudin. Ia menjelaskan bahwa peristiwa pembunuhan mahasiswi unram tersebut sempat memicu kegemparan luar biasa karena warga setempat merasa kecolongan. Menurutnya, tidak ada aktivitas mencurigakan di area tersebut sebelum kejadian naas itu meledak di media.

Upaya kuasa hukum terdakwa untuk membangun opini melalui unggahan media sosial lama pun menemui jalan buntu. Pihak pembela sempat mempertanyakan rumor pembegalan yang disebut-sebut pernah terjadi pada tahun 2013 dan 2016 di lokasi yang sama. Namun, kedua saksi kompak membantahnya dan menganggap isu tersebut hanyalah upaya oknum tertentu untuk memperburuk citra destinasi wisata di Lombok Utara.

TKP Tersembunyi di Balik Keindahan Nipah

Selain membicarakan faktor keamanan, Paharudin juga memaparkan kondisi geografis lokasi penemuan korban. Ia menyebutkan bahwa tempat tersebut merupakan titik yang sangat jarang dikunjungi orang. Aksesnya pun terbatas, hanya bisa dicapai dengan melewati jalur di dekat Hotel Seven Secrets.

Read Also

Langkah Tegas Tabanan: Per 1 Mei 2026, TPA Mandung Hanya Terima Sampah Residu

Langkah Tegas Tabanan: Per 1 Mei 2026, TPA Mandung Hanya Terima Sampah Residu

Saksi menegaskan bahwa lokasi itu bukanlah tempat favorit wisatawan karena posisinya yang berada di ujung dan tidak menawarkan pemandangan matahari terbenam (sunset) yang indah. “Tidak ada sunset di sebelah sana, karena posisinya paling ujung. Kalau mau lihat sunset, biasanya orang berkumpul di depan Hotel Seven Secrets, bukan di lokasi itu,” jelasnya.

Kronologi Kebohongan yang Terungkap

Sebagai pengingat, kasus memilukan ini bermula pada Selasa, 26 Agustus 2025 lalu. Pada awal penyelidikan, Radiet sempat mencoba mengelabui petugas dengan mengaku bahwa dirinya dan korban telah diserang oleh kawanan begal. Ia berupaya memosisikan dirinya sebagai korban yang selamat dari aksi kasus kriminal jalanan.

Namun, hasil penyidikan mendalam oleh pihak kepolisian mengungkap fakta yang jauh lebih kelam. Radiet akhirnya ditetapkan sebagai tersangka setelah bukti-bukti menunjukkan bahwa dirinya lah pelaku tunggal. Aksi keji tersebut dipicu oleh upaya pemerkosaan yang dilakukan terdakwa terhadap korban. Karena Ni Made Vaniradya memberikan perlawanan sengit, terjadilah perkelahian yang berujung pada hilangnya nyawa mahasiswi malang tersebut.

Read Also

Geliat Festival Wayang Bali Utara: Menghidupkan Kembali Marwah Budaya di Museum Soenda Ketjil

Geliat Festival Wayang Bali Utara: Menghidupkan Kembali Marwah Budaya di Museum Soenda Ketjil

Kini, publik menanti keadilan ditegakkan di meja hijau, sementara warga Nipah berharap agar nama baik pantai mereka tidak lagi disangkutpautkan dengan rekayasa kriminal yang mencederai kebenaran.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *