Tragedi Maut di Depan SDN Sukaratu 5: Ketika ‘Selang Oksigen’ Tak Menghalangi Laju Mobil Pejabat Pandeglang

Akbar Silohon | WartaLog
05 Mei 2026, 21:17 WIB
Tragedi Maut di Depan SDN Sukaratu 5: Ketika 'Selang Oksigen' Tak Menghalangi Laju Mobil Pejabat Pandeglang

WartaLog — Suasana pagi yang biasanya riuh dengan tawa anak-anak di depan SDN Sukaratu 5 berubah seketika menjadi jerit histeris yang memilukan. Sebuah insiden maut yang melibatkan seorang pejabat publik di Pandeglang kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Tragedi yang terjadi pada Kamis pagi tersebut bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan sebuah peristiwa yang mengaduk emosi publik karena latar belakang kondisi sang pengemudi yang memicu perdebatan mengenai kelayakan berkendara.

Kronologi Kecelakaan: Detik-Detik Innova Hitam Hilang Kendali

Peristiwa kelam ini bermula pada Kamis (30/4) sekitar pukul 09.30 WIB, saat jam istirahat sekolah biasanya diisi dengan anak-anak yang berkerumun membeli jajanan di depan gerbang sekolah. Tanpa peringatan, sebuah mobil Toyota Innova berwarna hitam dengan pelat nomor A-1633-BF meluncur dari arah Perempatan Cikole menuju Pertigaan Cipacung. Kendaraan tersebut diketahui dikemudikan oleh Ahmad Mursidi, yang menjabat sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pandeglang.

Read Also

Diplomasi di Islamabad: Amerika Serikat Optimis Capai Kesepakatan Damai dengan Iran

Diplomasi di Islamabad: Amerika Serikat Optimis Capai Kesepakatan Damai dengan Iran

Berdasarkan keterangan dari Kasat Lantas Polres Pandeglang, AKP Surya Muhammad, mobil tersebut tiba-tiba oleng ke arah kanan. Dalam hitungan detik, kendaraan besar itu langsung menghantam kerumunan siswa dan pedagang yang berada di pinggir jalan depan SDN Sukaratu 5. Efek benturan yang keras mengakibatkan kepanikan luar biasa di lokasi kejadian. Polisi segera melakukan olah TKP untuk memahami mengapa mobil tersebut bisa berpindah jalur secara mendadak dalam situasi lalu lintas yang seharusnya bisa dikendalikan.

Bertambahnya Korban Jiwa: Duka Mendalam bagi Keluarga Pedagang

Awalnya, laporan menyebutkan satu orang siswa meninggal dunia di tempat kejadian. Namun, kabar duka kembali menyelimuti warga Pandeglang ketika jumlah korban tewas dilaporkan bertambah. Korban kedua adalah Dewi Handayani, seorang pedagang takoyaki yang setia berjualan di depan sekolah tersebut untuk menopang ekonomi keluarganya. Dewi mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (1/5) sekitar pukul 15.00 WIB setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Read Also

Megawati Soekarnoputri: Kesejahteraan Buruh Adalah Fondasi Mutlak Keadilan Sosial Indonesia

Megawati Soekarnoputri: Kesejahteraan Buruh Adalah Fondasi Mutlak Keadilan Sosial Indonesia

Kematian Dewi meninggalkan luka mendalam bagi kedua anaknya. Menurut penuturan Rika, salah satu guru di SDN Sukaratu 5, Dewi adalah sosok pekerja keras yang berjualan demi membantu sang suami mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dengan bertambahnya korban ini, total ada sembilan orang yang menjadi korban dalam kasus kecelakaan ini, yang mayoritas adalah siswa sekolah dasar, ditambah seorang tenaga sales dan pedagang.

Kontroversi ‘Selang Oksigen’ dan Etika Berkendara

Salah satu fakta paling mencengangkan yang ditemukan di lokasi kejadian adalah kondisi fisik Ahmad Mursidi saat mengemudi. Diketahui bahwa saat mengendarai mobil tersebut, di tubuh Mursidi masih terpasang selang oksigen. Pejabat tersebut dilaporkan tengah mengidap penyakit diabetes yang cukup serius. Temuan ini memicu gelombang kritik dari publik, terutama dari pihak keluarga korban.

Read Also

Spirit Hamemayu Hayuning Bawono: Wajah Baru Mapolda DIY dalam Visi Presisi Kapolri

Spirit Hamemayu Hayuning Bawono: Wajah Baru Mapolda DIY dalam Visi Presisi Kapolri

Tuti, salah satu orang tua siswa yang menjadi korban meninggal dunia, menyuarakan kekecewaannya dengan nada getir. Ia menilai ada unsur kelalaian yang nyata dalam peristiwa ini. “Pasti ada kelalaian dan unsur kesengajaan. Sudah tahu dia sakit dan harus menggunakan alat bantu pernapasan, tapi tetap memaksakan diri membawa mobil. Tindakan ini jelas membahayakan orang lain di jalan raya,” ungkapnya dengan penuh emosi.

Kondisi medis seorang pengemudi merupakan faktor krusial dalam keselamatan jalan raya. Dalam konteks hukum lalu lintas, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor wajib dalam kondisi prima dan konsentrasi penuh. Pertanyaan besar yang kini menggantung di benak publik adalah mengapa seorang pejabat yang sedang dalam kondisi medis tidak stabil diizinkan atau memutuskan untuk mengemudi sendiri tanpa bantuan sopir atau pendamping.

Status Hukum: Dari Penyelidikan Menuju Penyidikan

Menanggapi eskalasi kasus dan desakan publik, Satlantas Polres Pandeglang bergerak cepat. Kepolisian secara resmi telah meningkatkan status kasus ini dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan. Langkah ini diambil setelah dilakukan gelar perkara dan pengumpulan keterangan dari sejumlah saksi kunci yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Pandeglang, Ipda Sofyan, mengonfirmasi bahwa meski status kasus sudah naik ke penyidikan, polisi belum menetapkan tersangka secara resmi. “Prosesnya sudah naik ke tahap sidik. Kami telah memeriksa sejumlah saksi, namun untuk penetapan tersangka masih menunggu proses lebih lanjut,” jelasnya pada Selasa (5/5). Masyarakat kini menanti transparansi dari pihak kepolisian, mengingat melibatkan sosok kepala dinas Banten yang memiliki posisi strategis di pemerintahan daerah.

Dampak Psikologis bagi Siswa SDN Sukaratu 5

Di luar proses hukum yang berjalan, dampak psikologis terhadap siswa-siswi SDN Sukaratu 5 menjadi perhatian penting. Menyaksikan teman sejawat dan pedagang langganan mereka menjadi korban kecelakaan tragis di depan mata tentu menimbulkan trauma yang tidak mudah hilang. Pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat diharapkan memberikan pendampingan psikologis (trauma healing) bagi anak-anak yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.

Kecelakaan ini juga menjadi pengingat bagi seluruh instansi pemerintahan di Banten, khususnya di Pandeglang, untuk lebih memperhatikan standar keselamatan berkendara bagi para pejabatnya. Penggunaan sopir dinas bagi pejabat yang sedang tidak sehat seharusnya menjadi prosedur tetap yang tidak bisa ditawar, demi menghindari tragedi serupa terulang kembali di masa depan.

Mencari Keadilan di Tengah Duka

Kini, publik terus memantau perkembangan kasus ini melalui saluran berita. Harapan besar ditumpukan pada profesionalisme kepolisian untuk mengusut tuntas tanpa pandang bulu. Kehilangan nyawa seorang siswa dan seorang ibu yang sedang berjuang mencari nafkah adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah kelalaian di jalan raya.

Tragedi di SDN Sukaratu 5 ini akan tetap menjadi catatan kelam dalam sejarah transportasi di Pandeglang. Apakah keadilan akan tegak lurus bagi para korban? Ataukah status jabatan akan memberikan warna berbeda dalam penegakan hukum? Kita semua menunggu jawaban pasti dari meja hijau di masa mendatang.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *