Spirit Hamemayu Hayuning Bawono: Wajah Baru Mapolda DIY dalam Visi Presisi Kapolri

Akbar Silohon | WartaLog
03 Mei 2026, 13:17 WIB
Spirit Hamemayu Hayuning Bawono: Wajah Baru Mapolda DIY dalam Visi Presisi Kapolri

WartaLog — Langkah besar baru saja ditorehkan dalam sejarah kepolisian di tanah para raja. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Minggu (3/5/2026). Namun, ini bukan sekadar pembangunan gedung perkantoran biasa. Proyek ini membawa beban filosofis yang mendalam, menyatukan modernitas institusi Polri dengan kearifan lokal yang telah mengakar kuat di Bumi Mataram.

Dalam kesempatan tersebut, Jenderal Sigit menegaskan bahwa pembangunan gedung baru ini mengusung napas perjuangan yang selaras dengan falsafah Jawa, yakni Hamemayu Hayuning Bawono. Sebuah konsep luhur yang secara harfiah berarti memperindah keindahan dunia, atau menjaga keharmonisan alam semesta. Bagi Polri, nilai ini bukan sekadar slogan, melainkan fondasi dalam memberikan pelayanan publik yang lebih manusiawi dan terintegrasi.

Read Also

Menenun Harapan dari Beranda Negeri: Upaya Tri Tito Karnavian Dorong UMKM Tenun Belu Naik Kelas

Menenun Harapan dari Beranda Negeri: Upaya Tri Tito Karnavian Dorong UMKM Tenun Belu Naik Kelas

Filosofi di Balik Struktur Beton: Hamemayu Hayuning Bawono

Kapolri menjelaskan bahwa pemilihan tema ‘Mbangun Bhayangkara Presisi, Hamemayu Hayuning Bawono’ bukanlah tanpa alasan yang kuat. Menurutnya, ada korelasi spiritual dan etik antara tugas kepolisian dengan filosofi tersebut. Kehadiran polisi di tengah masyarakat seharusnya menjadi elemen yang memperbaiki, mempercantik, dan menjaga ritme kehidupan sosial agar tetap harmonis.

“Sebagaimana tema pembangunan Mapolda DIY ini, makna terdalamnya adalah menjaga, memperbaiki, serta menciptakan keindahan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai ini sangat sejalan dengan apa yang kita junjung tinggi dalam Tribrata dan Catur Prasetya,” ujar Jenderal Sigit dengan nada mantap saat memberikan sambutan di lokasi pembangunan. Ia menekankan bahwa pembangunan fisik harus diikuti dengan pembangunan mentalitas personel yang lebih peka terhadap dinamika sosial di Yogyakarta.

Read Also

Pasca Insiden Hebat di Stasiun Bekasi Timur: Satu Jalur Mulai Beroperasi, KNKT Selidiki Kronologi Tabrakan Argo Bromo dan KRL

Pasca Insiden Hebat di Stasiun Bekasi Timur: Satu Jalur Mulai Beroperasi, KNKT Selidiki Kronologi Tabrakan Argo Bromo dan KRL

Dengan mengadopsi nilai lokal ini, Mapolda DIY diharapkan tidak menjadi menara gading yang kaku dan menakutkan, melainkan menjadi rumah bagi masyarakat yang mencari keadilan dan perlindungan. Harmoni yang diupayakan adalah sinergi antara penegakan hukum yang tegas namun tetap santun dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia.

Sinergi Tribrata dan Janji Catur Prasetya

Lebih lanjut, Jenderal Sigit memaparkan bahwa filosofi Hamemayu Hayuning Bawono merupakan manifestasi nyata dari pedoman moral Polri. Tribrata, sebagai kompas etika setiap anggota Polri, menuntut setiap personel untuk menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Sementara itu, Catur Prasetya menjadi janji operasional yang harus dibuktikan dalam tindakan nyata setiap harinya.

Read Also

Diplomasi Nuklir Buntu: Alasan di Balik Penolakan AS Terhadap Tawaran Rusia Soal Uranium Iran

Diplomasi Nuklir Buntu: Alasan di Balik Penolakan AS Terhadap Tawaran Rusia Soal Uranium Iran

Pembangunan Mapolda DIY ini dipandang sebagai momentum untuk memperkuat integritas tersebut. Kapolri berharap, dengan fasilitas yang lebih memadai, personel Polda DIY dapat meningkatkan responsivitas terhadap laporan masyarakat. Apalagi Yogyakarta dikenal sebagai wilayah dengan karakteristik masyarakat yang sangat menghargai tata krama dan sopan santun, sehingga pendekatan kepolisian yang humanis menjadi harga mati.

“Kesiapan personel adalah kunci utama. Namun, dukungan sarana dan prasarana yang memadai akan menjadi akselerator bagi tercapainya pelayanan yang optimal. Kita ingin masyarakat merasakan kehadiran Polri tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai sahabat yang menjaga kedamaian kota ini,” tambahnya.

Yogyakarta: Titik Temu Budaya, Pendidikan, dan Wisata

Dalam narasinya, Kapolri juga memberikan apresiasi khusus terhadap karakteristik unik Yogyakarta. Kota ini bukan sekadar titik koordinat di peta Indonesia, melainkan simbol identitas bangsa yang merangkum tiga pilar utama: budaya, pariwisata, dan pendidikan. Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta dihuni oleh ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara, menjadikannya sebagai ‘miniatur Indonesia’.

Kondisi demografis yang heterogen ini tentu menuntut sistem keamanan masyarakat yang adaptif. Sebagai kota wisata, kenyamanan wisatawan adalah prioritas agar roda ekonomi terus berputar. Di sisi lain, sebagai kota budaya, pelestarian adat dan tradisi menjadi bagian tak terpisahkan dari tugas menjaga ketertiban umum.

Oleh karena itu, Mapolda DIY yang baru dirancang untuk mendukung visi tersebut. Jenderal Sigit menginstruksikan agar pembangunan ini juga mempertimbangkan aspek estetika yang tidak merusak citra budaya Yogyakarta, melainkan justru memperkuatnya. Ia juga sempat menyinggung integrasi konsep smart city dalam operasional Mapolda DIY ke depan, guna mempermudah akses informasi dan bantuan bagi warga maupun turis.

Kolaborasi Erat dengan Keraton dan Pemangku Kepentingan

Salah satu poin krusial yang diungkapkan Kapolri adalah mengenai asal-usul lahan tempat Mapolda DIY akan berdiri megah. Proyek ini tidak mungkin terwujud tanpa kemurahan hati dan visi besar dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lahan tersebut merupakan Sultan Ground yang diberikan melalui mekanisme kekancingan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Ngarsa Dalem atas bantuan lahan ini. Melalui surat kekancingan tersebut, secara formal syarat pembangunan telah terpenuhi sehingga dapat dibiayai melalui mekanisme APBN,” jelas Sigit. Kerja sama ini menjadi bukti nyata sinergi antara institusi negara dengan institusi adat yang sah secara hukum di Indonesia.

Namun, dukungan tidak hanya datang dari Keraton. Kapolri secara khusus mengapresiasi kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan para bupati, wali kota, sektor perbankan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya di DIY. Pembangunan ini menjadi potret nyata bahwa menjaga keamanan adalah tanggung jawab kolektif. Semangat gotong royong inilah yang menjadi bahan bakar utama pembangunan Mapolda DIY.

Menuju Polri yang Profesional dan Dicintai

Di akhir penyampaiannya, Jenderal Sigit menitipkan harapan besar kepada seluruh jajaran di Polda DIY. Gedung baru kelak harus menjadi simbol perubahan paradigma kepolisian. Ia menginginkan agar Polri semakin profesional, modern, namun tetap memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat setempat.

“Harapan besar masyarakat Yogyakarta adalah melihat Polri yang semakin profesional, dekat, dan dicintai. Kami berkomitmen untuk mewujudkan hal tersebut. Pembangunan ini adalah investasi jangka panjang untuk kedamaian dan keamanan di wilayah DIY,” pungkasnya. Dengan peletakan batu pertama ini, dimulailah babak baru bagi Kapolri Listyo Sigit dalam membangun institusi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga luhur secara nilai.

Melalui semangat Hamemayu Hayuning Bawono, Mapolda DIY diharapkan mampu menjadi pilar penyangga keharmonisan di Yogyakarta, memastikan bahwa setiap sudut kota tetap aman bagi pelajar untuk menuntut ilmu, nyaman bagi wisatawan untuk berkunjung, dan damai bagi warga untuk menetap.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *