Inovasi Hijau Desa Bongkasa Pertiwi: Tukar Disiplin Pilah Sampah dengan 5 Kilogram Beras

Rizky Fauzi | WartaLog
12 Apr 2026, 11:22 WIB
Inovasi Hijau Desa Bongkasa Pertiwi: Tukar Disiplin Pilah Sampah dengan 5 Kilogram Beras

WartaLog — Di tengah tantangan krisis lingkungan yang kian nyata, sebuah langkah revolusioner muncul dari pelosok Bali. Desa Bongkasa Pertiwi, yang terletak di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, berhasil mencuri perhatian publik melalui pendekatan inovatif dalam menangani persoalan limbah rumah tangga.

Bukan sekadar sosialisasi tanpa aksi, pemerintah desa setempat menerapkan skema insentif yang menggoda: setiap keluarga yang konsisten memilah sampah selama tiga bulan berturut-turut berhak mendapatkan apresiasi berupa 5 kilogram beras berkualitas. Langkah ini dirancang untuk mengubah pola pikir masyarakat agar memandang pengelolaan sampah bukan sebagai beban, melainkan sebuah kebutuhan yang mendatangkan manfaat nyata.

Reward Over Punishment: Pendekatan Humanis Perbekel Bongkasa Pertiwi

I Nyoman Buda, Perbekel Bongkasa Pertiwi, mengungkapkan bahwa kunci dari keberhasilan program ini adalah keseimbangan antara aturan dan apresiasi. Menurutnya, mengandalkan sanksi semata seringkali memicu resistensi di tengah masyarakat.

Read Also

Rayakan HUT ke-255, Pemkab Gianyar Buka Peluang Karir Lewat Job Fair di Alun-Alun Kota

Rayakan HUT ke-255, Pemkab Gianyar Buka Peluang Karir Lewat Job Fair di Alun-Alun Kota

“Begitu warga melakukan apa yang diinstruksikan, kami berikan apresiasi. Jika kami hanya memberikan arahan atau sanksi tanpa ada reward, tentu masyarakat akan merasa enggan untuk berpartisipasi aktif,” ujar Nyoman Buda dalam sebuah kesempatan baru-baru ini.

Strategi ini terbukti ampuh. Program bertajuk “Tidak Pilah Tidak Angkut” tidak lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan kompetisi sehat antarwarga untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mendapatkan bantuan pangan.

Digitalisasi Sampah Melalui Aplikasi Gasway

Untuk menjaga transparansi dan objektivitas, Desa Bongkasa Pertiwi memanfaatkan teknologi digital. Setiap rumah warga kini telah ditempeli barcode unik yang terintegrasi dengan aplikasi khusus bernama Gasway. Lewat aplikasi ini, petugas lapangan dapat memantau tingkat kepatuhan warga secara real-time.

Read Also

Polemik Sampah Denpasar: Wayan Koster Bantah Isu TPST Overload dan Pastikan Distribusi ke Klungkung Aman

Polemik Sampah Denpasar: Wayan Koster Bantah Isu TPST Overload dan Pastikan Distribusi ke Klungkung Aman

Setiap kali petugas melakukan pengangkutan, mereka akan melakukan pemindaian. Warga yang disiplin akan mendapatkan catatan positif, namun sebaliknya, mereka yang kedapatan tidak memilah sampah akan menerima kode stempel khusus berupa ikon jempol terbalik. Jika stempel negatif ini muncul, maka hak warga untuk mendapatkan insentif beras secara otomatis akan gugur.

Dampak Nyata: Penurunan Limbah Hingga 80 Persen

Hasil dari inovasi desa ini sangat mencengangkan. Volume sampah yang biasanya mencapai 200 ton per bulan, kini merosot tajam menjadi hanya 40 ton saja. Artinya, terjadi penurunan produksi sampah hingga 80 persen yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Keberhasilan paling signifikan terlihat pada pengelolaan sampah organik. Berkat kesadaran warga, sampah jenis ini turun drastis dari 90 persen menjadi hanya 0,2 persen. Nyoman Buda menjelaskan bahwa masyarakat mulai kembali ke tradisi lama dengan mengelola sampah organik di pekarangan masing-masing atau yang dalam budaya lokal disebut sebagai teba.

Read Also

Prakiraan Cuaca Bali 15 April 2026: Denpasar dan Badung Dominan Cerah, Jembrana Berpotensi Hujan

Prakiraan Cuaca Bali 15 April 2026: Denpasar dan Badung Dominan Cerah, Jembrana Berpotensi Hujan

Sinergi Pemerintah Dinas dan Desa Adat

Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari kolaborasi apik antara pemerintah dinas dan desa adat. Karena keterbatasan wewenang dalam memberikan sanksi hukum, pemerintah desa menggandeng otoritas adat untuk menegakkan perarem atau aturan adat bagi mereka yang tetap membandel.

Dalam pembagian tugasnya, pemerintah dinas bertanggung jawab menyediakan sarana infrastruktur seperti alat komposter dan sistem aplikasi, sementara desa adat berperan sebagai penjaga moral dan penegak disiplin melalui sanksi sosial maupun adat.

Visi Menuju Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 120 kilogram beras telah disalurkan kepada warga yang konsisten menjaga lingkungan sejak program ini digulirkan pada awal 2025. Bagi Nyoman Buda, semakin banyak beras yang dikeluarkan oleh desa, justru merupakan indikator keberhasilan yang membanggakan.

“Semakin banyak beras yang kami salurkan, artinya masyarakat semakin patuh dan persoalan sampah sudah mulai tuntas langsung dari sumbernya. Kami ingin memastikan bahwa lingkungan di Badung, Bali, khususnya di desa kami, benar-benar bersih dan berkelanjutan,” tutupnya dengan penuh optimisme.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *