Ironi Pendidikan di NTT: 8 Tahun Siswa SDN Tando Terpaksa Belajar di Bawah Pohon
WartaLog — Bayang-bayang pohon rindang yang biasanya menjadi tempat berteduh yang nyaman untuk melepas lelah, justru menjadi saksi bisu perjuangan para siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tando di Desa Robo, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama delapan tahun terakhir, kegiatan belajar mengajar (KBM) di bawah pohon bukan lagi sekadar alternatif sementara, melainkan sebuah keterpaksaan akibat minimnya fasilitas pendidikan yang memadai.
Kepala SDN Tando, Fransiskus Jenala, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap lambatnya respons pemerintah. Meski laporan bulanan yang berisi permohonan perbaikan terus dikirimkan secara rutin ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat, hingga kini belum ada tindakan nyata yang diambil untuk menyelamatkan nasib para pelajar tersebut. Penantian panjang selama hampir satu dekade ini seolah menjadi bukti betapa lambatnya birokrasi menyentuh pelosok negeri.
Strategi OVOP: Langkah Berani Bupati Mahayastra Melejitkan Ekonomi Desa di HUT Gianyar ke-255
Janji Manis yang Tak Kunjung Terwujud
Harapan sempat membubung tinggi pada tahun 2020 ketika Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berencana mengalokasikan bantuan untuk pembangunan ruang kelas tambahan di sekolah tersebut. Pihak sekolah pun telah sigap melengkapi seluruh dokumen administrasi yang disyaratkan. Namun, kenyataan pahit kembali menyapa; bantuan tersebut tidak pernah terealisasi tanpa alasan yang jelas.
“Tahun 2020 sebenarnya kami dijanjikan bantuan dari PUPR pusat, namun entah mengapa rencana itu tidak lolos seleksi atau bagaimana kelanjutannya kami tidak tahu pasti,” ujar Fransiskus dengan nada kecewa saat memberikan keterangan kepada tim redaksi, Sabtu (11/4/2026).
Sistem Giliran: Belajar di Antara Seng dan Tanah
Kondisi nasib siswa di NTT, khususnya di SDN Tando, memaksa guru untuk memutar otak agar proses belajar tetap berjalan. Saat ini, siswa kelas 2 dan kelas 3 harus bergantian menempati satu-satunya ruang kelas darurat yang tersisa. Ruangan nonpermanen tersebut dibangun secara swadaya oleh para orang tua murid pada tahun 2016 karena mereka tidak tega melihat anak-anaknya terpapar cuaca ekstrem.
Prakiraan Cuaca Bali 15 April 2026: Denpasar dan Badung Dominan Cerah, Jembrana Berpotensi Hujan
Namun, bangunan swadaya itu jauh dari kata layak. Berukuran 5×6 meter, ruangan tersebut hanya berdinding seng, beralaskan tanah, dan tanpa sekat pemisah. Untuk menghindari kegaduhan suara saat dua kelas belajar bersamaan, pihak sekolah menerapkan kebijakan unik: satu kelas di dalam ruangan, satu kelas di bawah pohon.
“Kebijakan ini kami ambil agar konsentrasi anak-anak tidak terganggu. Jika kelas 2 belajar di dalam, maka kelas 3 harus mengungsi ke bawah pohon mete di luar. Kami lakukan secara bergantian setiap hari,” tambah Fransiskus menjelaskan realitas KBM luar ruangan yang mereka jalani.
Tantangan Berat Saat Musim Hujan
Situasi menjadi semakin pelik ketika musim hujan tiba. Belajar di bawah pohon tentu mustahil dilakukan. Mau tidak mau, seluruh siswa dari kedua kelas tersebut harus berdesakan di dalam ruangan sempit berdinding seng yang panas jika terik dan bising jika hujan deras. Di dalam ruangan itu, mereka hanya dipisahkan oleh lorong kecil tanpa dinding pembatas.
Aksi Kemanusiaan Ji Chang Wook di Kupang NTT: Bangun Sekolah PAUD Megah di Tengah Realita Gaji Guru Rp100 Ribu
Hingga saat ini, pihak otoritas terkait melalui Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Yohanes Hani, belum memberikan tanggapan mendalam. Ia hanya menyatakan akan memberikan penjelasan lebih lanjut pada kesempatan berikutnya. Padahal, urgensi pembangunan gedung baru sudah sangat mendesak mengingat total siswa di SDN Tando mencapai 173 orang dengan dukungan hanya delapan tenaga pengajar.
Keadaan SDN Tando menjadi potret buram wajah pendidikan Indonesia di daerah terpencil. Dengan hanya memiliki tiga ruang permanen yang harus disekat-sekat untuk kantor guru dan ruang kelas lainnya, masa depan anak-anak di Desa Robo kini bergantung pada seberapa cepat pemerintah merespons jeritan dari bawah pohon tersebut.