Strategi Prabowo Hadapi Skor PISA: Mengelola 388 Ribu Sekolah di Tengah Tantangan Geografi Indonesia
WartaLog — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan pandangan yang sangat jujur dan reflektif mengenai kondisi dunia pendidikan di tanah air. Di hadapan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Negara, Jakarta, Presiden secara terbuka mengakui bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal jika merujuk pada hasil Programme for International Student Assessment atau yang lebih dikenal dengan skor PISA.
PISA sendiri merupakan standar global yang digunakan untuk mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa di berbagai negara. Namun, bagi Prabowo, angka-angka tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai data statistik semata. Ada realitas geografis dan sosiologis yang sangat masif di baliknya, sebuah kompleksitas yang mungkin tidak dirasakan oleh negara-negara lain dengan wilayah yang lebih kecil atau lebih homogen secara infrastruktur.
Transformasi Nyata Layanan Haji 2026: Andre Rosiade Puji Dedikasi Petugas yang Kini Lebih Humanis dan Profesional
Realitas Pahit di Balik Skor PISA Indonesia
Dalam pemaparannya yang bernada serius namun tetap optimis, Presiden Prabowo menekankan bahwa posisi Indonesia saat ini memang belum berada di titik yang ideal. Skor PISA Indonesia, terutama dalam kemampuan membaca, masih berada di level yang mengkhawatirkan. Indonesia tercatat berada di bawah rata-rata negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dan tertinggal cukup jauh dari negara tetangga seperti pendidikan Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
“Kita termasuk tidak terlalu bagus, ya. Jadi skor PISA membaca kita tadi kalau Anda lihat, hanya sedikit di atas Filipina,” ujar Prabowo dengan nada lugas. Pengakuan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sedang menutup mata terhadap kualitas pendidikan nasional yang memerlukan pembenahan besar-besaran. Skor tersebut mencerminkan tantangan besar dalam menanamkan budaya literasi di kalangan generasi muda Indonesia.
Petaka Truk Crane di Tendean: Saat Kelalaian Pengemudi Melumpuhkan Nadi Transportasi Jakarta
Prabowo merinci bahwa Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang prestasi negara-negara maju seperti Jepang dan Belanda. Namun, ia juga mengajak semua pihak untuk tidak langsung berkecil hati. Menurutnya, memahami konteks di balik rendahnya skor tersebut jauh lebih penting daripada sekadar merasa rendah diri di hadapan komunitas internasional.
Tantangan Geografi: Mengelola Ratusan Ribu Sekolah
Salah satu poin utama yang ditekankan oleh Presiden dalam pidatonya adalah skala logistik dan manajemen yang harus dihadapi oleh Kementerian Pendidikan Indonesia. Mengelola sistem pendidikan di negara kepulauan bukanlah perkara mudah. Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 388.000 sekolah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, mulai dari pelosok pegunungan hingga pulau-pulau terluar.
KNKT Targetkan Laporan Awal Kecelakaan Helikopter PK-CFX Sekadau Rampung dalam 30 Hari
“Indonesia punya 388.000 sekolah kalau tidak salah. Ini tantangan yang sangat besar,” tegasnya. Tantangan geografis ini mencakup distribusi guru yang tidak merata, akses infrastruktur digital yang belum menjangkau seluruh pelosok, hingga biaya logistik untuk pengiriman sarana pendidikan yang sangat mahal. Perbedaan kondisi antara sekolah di Jakarta dengan sekolah di pedalaman Papua atau pegunungan di Sulawesi menciptakan jurang yang lebar dalam standar kualitas.
Kondisi ini, menurut Prabowo, sangat berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara kecil. Ia memberikan perbandingan yang cukup tajam mengenai bagaimana manajemen pendidikan dijalankan di Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura.
Analogi Singapura vs Indonesia: Skala yang Tak Sebanding
Presiden Prabowo menyoroti perbandingan antara Indonesia dan Singapura yang seringkali dijadikan tolok ukur sukses di kawasan Asia Tenggara. Meskipun memuji keberhasilan Singapura, ia mengingatkan bahwa membandingkan Menteri Pendidikan Singapura dengan Menteri Pendidikan Indonesia adalah hal yang kurang proporsional jika melihat skala tanggung jawabnya.
“Kalau Singapura saya tidak terlalu khawatir, hanya negara dengan 5 juta penduduk, satu kota saja. Menteri Pendidikan Singapura mungkin bisa berkeliling ke hampir semua sekolah dalam waktu 2 jam dari kantornya. Itu realitas,” ungkapnya. Analogi ini digunakan untuk memberikan pemahaman bahwa manajemen sekolah di Indonesia membutuhkan energi yang berlipat-lipat lebih besar.
Dengan 388.000 sekolah, Indonesia harus memastikan standar kurikulum, kesejahteraan guru, dan kualitas bangunan sekolah tetap terjaga di medan yang ekstrem. Hal ini bukan berarti Indonesia mencari pembenaran atas rendahnya skor PISA, melainkan memberikan konteks bahwa perjuangan memperbaiki pendidikan di Indonesia adalah perjuangan kolosal yang melibatkan jutaan nyawa dan jutaan kilometer persegi wilayah.
Hasil PISA sebagai Peringatan dan Koreksi Total
Meskipun menyoroti kesulitan yang dihadapi, Prabowo menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerah atau berpuas diri. Sebaliknya, ia meminta seluruh elemen bangsa, terutama para pembuat kebijakan dan peneliti, untuk menjadikan hasil PISA sebagai sebuah ‘wake-up call’ atau peringatan keras.
“Ini orang luar lihat kita, kita terima tapi jangan terlalu takut. Dia hanya lihat gambar dari luar, dia tidak lihat kesulitan kita sebagai negara yang sangat besar. Namun, mari kita terima ini sebagai peringatan, sebagai koreksi, dan kita cari bagaimana kita akan atasi,” tambahnya dengan semangat naratif yang menginspirasi para hadirin. Presiden ingin agar data tersebut digunakan untuk melakukan perbaikan fundamental dalam metode pengajaran dan kurikulum pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Fokus ke depan adalah bagaimana meningkatkan kualitas literasi dan numerasi tanpa meninggalkan identitas nasional dan menyesuaikan dengan kearifan lokal di masing-masing daerah. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengejar ketertinggalan dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi sebagai jembatan penghubung antara sekolah-sekolah di pelosok dengan standar pendidikan pusat.
Peran Strategis BRIN dan Inovasi dalam Pendidikan
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dihasilkan oleh BRIN, termasuk inovasi air siap minum yang sempat ia cicipi. Ia percaya bahwa sentuhan riset dan teknologi adalah kunci untuk memecahkan kebuntuan dalam sistem pendidikan. Inovasi tidak hanya terbatas pada produk fisik, tetapi juga pada metode pembelajaran jarak jauh yang lebih efektif untuk menjangkau 388.000 sekolah tersebut.
Dengan dukungan data riset yang akurat dari BRIN, pemerintah berharap dapat memetakan kebutuhan spesifik dari tiap-tiap sekolah secara presisi. Transformasi pendidikan di era kepemimpinan Prabowo tampaknya akan lebih mengedepankan pendekatan yang berbasis pada solusi nyata atas kendala lapangan, bukan sekadar teori di atas kertas.
Ke depannya, peningkatan skor PISA diharapkan bisa berjalan beriringan dengan pemerataan akses pendidikan. Bagi kebijakan pemerintah saat ini, setiap anak Indonesia, baik yang berada di pusat kota maupun di pulau terkecil, berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama baiknya. Inilah tugas besar yang kini berada di pundak kementerian terkait untuk mewujudkan Indonesia Emas melalui pondasi pendidikan yang kokoh.
Sebagai penutup, Presiden Prabowo mengajak masyarakat untuk terus optimis. Meskipun jalan menuju puncak kualitas pendidikan dunia masih panjang dan berliku, kesadaran akan kelemahan diri adalah langkah pertama menuju perbaikan yang berkelanjutan. Indonesia tidak hanya ingin sekadar bertahan dalam survei internasional, tetapi ingin benar-benar mencetak generasi yang kompetitif di kancah global.