Perburuan Tanpa Henti: Israel Targetkan Mohammed Odeh, Sosok Kunci Pemimpin Baru Militer Hamas

Akbar Silohon | WartaLog
27 Mei 2026, 03:18 WIB
Perburuan Tanpa Henti: Israel Targetkan Mohammed Odeh, Sosok Kunci Pemimpin Baru Militer Hamas

WartaLog — Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak baru yang krusial. Militer Israel dilaporkan telah melancarkan operasi serangan udara intensif yang secara spesifik menargetkan pucuk pimpinan tertinggi sayap militer Hamas yang baru saja menjabat. Langkah agresif ini merupakan bagian dari kampanye militer berkepanjangan yang bertujuan untuk melumpuhkan struktur komando kelompok tersebut di Jalur Gaza.

Operasi Presisi di Jantung Kota Gaza

Pada hari Selasa yang mencekam, jet-jet tempur militer Israel membidik sebuah lokasi strategis di wilayah Gaza. Target utama dari serangan udara Israel tersebut adalah Mohammed Odeh, pria yang baru saja didapuk untuk memimpin sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine Al-Qassam. Operasi ini dilakukan hanya berselang beberapa hari setelah pendahulu Odeh dinyatakan tewas dalam insiden serupa, menunjukkan betapa cepatnya perputaran kepemimpinan di tengah kecamuk perang.

Read Also

Inovasi Ketahanan Pangan di Balik Jeruji: Sekjen Kemenimipas Puji Kemandirian Lapas Garut sebagai Role Model Nasional

Inovasi Ketahanan Pangan di Balik Jeruji: Sekjen Kemenimipas Puji Kemandirian Lapas Garut sebagai Role Model Nasional

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz dalam sebuah pernyataan resmi mengonfirmasi bahwa operasi tersebut dilakukan di bawah arahan langsung mereka. Keduanya menegaskan bahwa Mohammed Odeh bukan sekadar pemimpin militer biasa, melainkan salah satu tokoh yang dianggap sebagai arsitek di balik peristiwa besar pada 7 Oktober tahun lalu. “Pasukan Pertahanan Israel (IDF) baru saja melakukan serangan di Gaza yang menargetkan Mohammed Odeh—komandan baru sayap militer Hamas dan salah satu perencana utama pembantaian 7 Oktober,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.

Profil Mohammed Odeh: Dari Intelijen ke Garis Depan

Nama Mohammed Odeh mencuat ke permukaan sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam hierarki internal Hamas. Sebelum memegang tongkat komando Brigade Al-Qassam, Odeh diketahui menjabat sebagai kepala intelijen kelompok tersebut. Pengalamannya di bidang intelijen inilah yang membuatnya dianggap sangat berbahaya oleh pihak keamanan Israel. Ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi militer sekitar satu minggu yang lalu, menggantikan Ezzedine Al-Haddad yang tewas dalam serangan Israel pada awal Mei.

Read Also

Visi Hijau AHY: Menyulap Beton Menjadi Paru-Paru Bangsa Melalui Koridor Infrastruktur Berkelanjutan

Visi Hijau AHY: Menyulap Beton Menjadi Paru-Paru Bangsa Melalui Koridor Infrastruktur Berkelanjutan

Israel menuduh Odeh sebagai otak operasional yang bertanggung jawab atas berbagai aksi kekerasan, termasuk penculikan dan pembunuhan terhadap warga sipil serta personel militer Israel. Dengan latar belakang intelijen yang kuat, Odeh diyakini memiliki pemahaman mendalam mengenai celah keamanan dan strategi infiltrasi, menjadikannya target bernilai tinggi bagi intelijen Israel (Mossad) dan dinas keamanan internal (Shin Bet).

Dampak Kemanusiaan di Lingkungan Rimal

Serangan yang ditujukan kepada Odeh dilaporkan melanda lingkungan Rimal, sebuah kawasan di barat Kota Gaza yang dulunya dikenal sebagai pusat komersial dan pemukiman kelas atas. Namun, operasi militer ini kembali memakan korban jiwa dari pihak sipil. Badan pertahanan sipil Gaza, yang bertugas melakukan evakuasi dan penyelamatan, melaporkan bahwa setidaknya seorang wanita tewas akibat ledakan dahsyat di area tersebut.

Read Also

Krisis Amunisi Mendalam, AS Gerakkan Raksasa Otomotif untuk Produksi Senjata Militer

Krisis Amunisi Mendalam, AS Gerakkan Raksasa Otomotif untuk Produksi Senjata Militer

Kondisi di lapangan menggambarkan betapa sulitnya memisahkan target militer dari kerumunan warga sipil di wilayah yang sangat padat seperti Gaza. Setiap operasi pembersihan atau penargetan pemimpin sering kali berujung pada kerusakan kolateral yang menambah panjang daftar korban jiwa di kalangan warga Palestina. Pemerintah Israel tetap pada pendiriannya bahwa target-target ini harus dilenyapkan untuk menjamin keamanan jangka panjang warga mereka, meskipun tekanan internasional terus meningkat terkait perlindungan warga sipil.

Strategi ‘Pemenggalan’ Struktur Komando

Langkah Israel untuk terus mengejar pemimpin Hamas mencerminkan strategi militer yang dikenal sebagai decapitation strike atau serangan pemenggalan struktur. Strategi ini bertujuan untuk menciptakan kekosongan kepemimpinan yang diharapkan dapat melemahkan koordinasi operasional kelompok perlawanan. Sejauh ini, Israel telah mengklaim berhasil melenyapkan sejumlah tokoh kunci, termasuk Ismail Haniyeh yang merupakan pemimpin politik senior, serta Yahya Sinwar yang dianggap sebagai dalang utama operasi 7 Oktober.

Tak hanya itu, Mohammed Deif, komandan legendaris yang telah lama memimpin sayap militer Hamas sebelum era Al-Haddad dan Odeh, juga dilaporkan telah tewas. Rentetan kematian para pemimpin ini memaksa Hamas untuk terus-menerus melakukan restrukturisasi di tengah tekanan perang yang luar biasa. Namun, banyak analis militer mempertanyakan efektivitas strategi ini, mengingat sejarah menunjukkan bahwa setiap pemimpin yang gugur sering kali segera digantikan oleh figur lain yang mungkin memiliki ideologi yang lebih radikal.

Krisis Kemanusiaan yang Terus Memburuk

Di balik perburuan pemimpin militer ini, krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan di Gaza, jumlah korban tewas akibat operasi militer Israel telah melampaui angka 72.803 jiwa. Angka ini mencakup ribuan anak-anak dan wanita yang terjebak di tengah medan pertempuran. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional menyatakan bahwa angka-angka tersebut valid dan mencerminkan realitas pahit di lapangan.

Kekurangan makanan, air bersih, serta layanan medis yang lumpuh total di sebagian besar wilayah Gaza membuat penderitaan warga sipil semakin tak terperikan. Meskipun Israel berdalih bahwa serangan mereka bersifat defensif dan terukur, kehancuran infrastruktur sipil yang masif telah memicu gelombang kecaman global dan seruan untuk gencatan senjata permanen yang tak kunjung terealisasi.

Perluasan Konflik ke Regional

Konflik ini tidak lagi terbatas di perbatasan Gaza. Militer Israel juga secara aktif menargetkan agen-agen Hamas yang berada di Lebanon, serta komandan senior dari kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Keterlibatan Hizbullah di utara Israel telah membuka front pertempuran kedua yang tak kalah sengitnya. Salah satu pencapaian besar militer Israel di front utara adalah tewasnya Hassan Nasrallah, mantan kepala Hizbullah, dalam sebuah serangan yang mengejutkan dunia internasional.

Ketegangan dengan Iran juga terus membayangi setiap langkah militer di kawasan. Israel merasa perlu untuk memutus garis pasokan logistik dan dukungan teknis dari Teheran kepada kelompok-kelompok seperti Hamas dan Hizbullah. Hal ini menciptakan risiko perang regional skala penuh yang melibatkan banyak aktor besar, termasuk Amerika Serikat yang terus berupaya melakukan upaya diplomasi namun tetap memberikan dukungan militer bagi sekutu utamanya, Israel.

Masa Depan Konflik dan Perlawanan

Dengan Mohammed Odeh yang kini berada dalam bidikan utama, masa depan Brigade Al-Qassam dan efektivitas perlawanan Hamas berada di persimpangan jalan. Upaya Israel untuk menghapus keberadaan Hamas dari peta politik dan militer Gaza masih terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda mereda. Di sisi lain, Hamas terus menunjukkan kemampuan adaptasi mereka dengan menunjuk pemimpin-pemimpin baru di bawah kondisi yang paling sulit sekalipun.

Dunia kini menunggu apakah operasi penargetan Mohammed Odeh ini akan membawa dampak signifikan terhadap penurunan intensitas perang, atau justru akan memicu gelombang pembalasan yang lebih destruktif. Yang pasti, rakyat sipil di Gaza tetap menjadi pihak yang paling menderita di tengah permainan strategi tingkat tinggi antara kekuatan militer dan kelompok militan ini. Pembangunan kembali Gaza dan penyelesaian konflik secara politik tampak masih menjadi mimpi yang jauh di tengah reruntuhan bangunan dan dentuman meriam yang masih terdengar setiap hari.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *