Kesaksian Eksklusif HRD BlueRay Cargo: Misteri Amplop Berkode dan Aliran Dana Panas ke Pejabat Bea Cukai
WartaLog — Tabir gelap dalam skandal dugaan korupsi importasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan perlahan mulai tersingkap di ruang sidang. Dalam lanjutan persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Viny Liverie Lie, yang menjabat sebagai HRD di PT BlueRay Cargo. Di hadapan majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Viny membeberkan perannya dalam menyusun ‘upeti’ yang diduga mengalir ke kantong para pejabat tinggi Bea Cukai.
Ritual Penulisan Kode di Balik Amplop Tebal
Viny Liverie Lie dihadirkan sebagai saksi kunci untuk mengonfirmasi mekanisme pemberian uang yang dilakukan secara sistematis. Dalam kesaksiannya, ia mengakui diperintah langsung oleh pemilik BlueRay Cargo, John Field alias Koh John, untuk melakukan pekerjaan yang jauh dari deskripsi tugas seorang HRD pada umumnya. Pekerjaan tersebut adalah menuliskan kode-kode khusus pada amplop yang berisi uang dalam jumlah besar.
Gaya Elit Plat Sulit: Mobil Mewah BYD Denza Terciduk Pakai Nopol ‘RI’ Gadungan di Tangerang
“Ini benar tulisan tangan saksi?” tanya Jaksa KPK, M. Takdir Suhan, sembari menunjukkan barang bukti berupa amplop di persidangan. Viny tidak menampik. Dengan suara pelan namun tegas, ia membenarkan bahwa coretan di amplop tersebut adalah guratan tangannya sendiri.
Jaksa kemudian mendalami lebih lanjut mengenai makna di balik kode-kode tersebut. Berdasarkan keterangan Viny, terdapat dua jenis penandaan yang digunakan. Sisi depan amplop biasanya ditandai dengan angka-angka tertentu, sementara sisi belakang kerap dibubuhi inisial nama yang merujuk pada calon penerima. Namun, ada kalanya identitas tersebut disamarkan sedemikian rupa sehingga hanya berupa kode numerik tanpa nama jelas, sesuai dengan instruksi khusus dari sang bos, Koh John.
Transformasi Aset Korupsi: BPA Kejaksaan Agung Serahkan Bangunan Strategis untuk Operasional Jampidsus
Aliran Dolar Singapura dan Peran Orang Kepercayaan
Bukan sekadar menulis kode, Viny juga bertanggung jawab atas proses fisik pengemasan uang tersebut. Ia mengaku menukar mata uang Rupiah ke dalam Dolar Singapura sebelum dimasukkan ke dalam amplop. Penggunaan mata uang asing ini diduga kuat dilakukan untuk mempermudah mobilisasi uang dalam jumlah besar namun dengan fisik yang lebih ringkas.
“Saya sendiri yang memasukkan uang itu ke dalam amplop. Uang tersebut sudah ditukarkan sesuai perintah Pak John,” ungkap Viny. Hal ini menunjukkan betapa tertutupnya operasi ini, di mana sang pemilik perusahaan hanya memercayakan tugas sensitif ini kepada lingkaran internal terdekatnya.
Menariknya, Viny menjelaskan adanya perubahan pola distribusi dalam kurun waktu tujuh bulan operasi tersebut berjalan. Pada empat bulan pertama, Koh John berkomunikasi secara langsung dengannya. Namun, pada tiga bulan terakhir, muncul sosok baru bernama Yohanes yang menjabat sebagai asisten pribadi Koh John. Yohanes inilah yang kemudian mengambil alih urusan pengambilan amplop-amplop tersebut dari tangan Viny, menciptakan lapisan birokrasi baru untuk menyamarkan jejak sang pemilik.
Skandal Wedding Organizer Jaktim: Pelarian Pasutri Penipu Berakhir di Bandung Barat, 58 Pasangan Gagal Nikah
Tiga Pejabat Bea Cukai di Pusaran Gratifikasi Rp 78,8 Miliar
Kasus ini menyeret tiga nama besar di jajaran elit Bea Cukai yang kini duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa. Mereka adalah Rizal (mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai), Sisprian Subiaksono (Kasubdit Intelijen), dan Orlando Hamonangan (Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan I). Ketiganya didakwa telah menerima suap dan gratifikasi dengan total nilai fantastis mencapai Rp 78,8 miliar.
Rincian dakwaan jaksa memaparkan bahwa para terdakwa diduga menerima uang tunai senilai Rp 61,7 miliar serta fasilitas hiburan mewah yang ditaksir mencapai Rp 1,8 miliar. Pemberian ini diduga berasal dari konsorsium BlueRay Cargo Group melalui John Field, Dedy Kurniawan Sukolo (Manajer Operasional), dan Andri (Ketua Tim Dokumen Importasi).
Tak berhenti di situ, penyelidikan KPK juga menemukan adanya aliran dana lain berupa gratifikasi dari berbagai pengusaha importir dan pengusaha rokok. Jika dikonversi ke dalam Rupiah, total gratifikasi tambahan ini mencapai Rp 15,2 miliar, yang terdiri dari berbagai mata uang mulai dari Dolar AS, Dolar Hong Kong, hingga Ringgit Malaysia.
Dampak Korupsi Importasi bagi Perekonomian Nasional
Skandal yang melibatkan PT BlueRay Cargo ini menjadi sorotan tajam karena menyangkut integritas Ditjen Bea Cukai, sebuah institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi kedaulatan ekonomi negara. Praktik lancung berupa pemberian suap untuk mempermudah proses custom clearance atau pemeriksaan barang impor berpotensi merugikan negara triliunan rupiah akibat hilangnya potensi pajak dan masuknya barang-barang ilegal.
Kesaksian Viny Liverie Lie menjadi kepingan puzzle penting bagi jaksa untuk membuktikan adanya unsur kesengajaan dan perencanaan dalam pemberian suap ini. Kode-kode pada amplop bukan sekadar tulisan, melainkan bukti otentik adanya kesepakatan di bawah meja antara pihak swasta dan pemegang otoritas.
Persidangan ini diprediksi masih akan berlangsung panjang seiring dengan upaya jaksa untuk memanggil saksi-saksi lain, termasuk mendalami keterlibatan asisten pribadi Koh John, Yohanes, yang sempat ditegur jaksa karena dianggap memberikan keterangan yang berbelit-belit. Masyarakat kini menunggu apakah keadilan akan tegak sepenuhnya ataukah skandal ini hanya akan menjadi puncak gunung es dari praktik korupsi di sektor pelabuhan dan perdagangan internasional.
Investigasi lebih lanjut mengenai korupsi importasi ini diharapkan mampu memberikan efek jera, tidak hanya bagi pejabat yang menerima, tetapi juga bagi pengusaha yang mencoba menyuap sistem demi keuntungan pribadi yang melanggar hukum.