Pesona Nusantara di Aljazair: Tari Kandagan dan Pencak Silat Pukau Pengunjung SITEV 2026

Akbar Silohon | WartaLog
20 Mei 2026, 07:20 WIB
Pesona Nusantara di Aljazair: Tari Kandagan dan Pencak Silat Pukau Pengunjung SITEV 2026

WartaLog — Di tengah hiruk-pikuk pusat pameran Palais des Expositions (SAFEX) yang megah di Kota Aljir, Aljazair, sebuah harmoni budaya nusantara mendadak mencuri perhatian ribuan pasang mata. Gelaran internasional bertajuk Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV) ke-25 tahun 2026 ini menjadi panggung istimewa bagi Indonesia untuk memamerkan kekayaan tradisinya. Bukan sekadar promosi destinasi, kehadiran Indonesia di Afrika Utara kali ini membawa misi diplomasi budaya yang kental, dibungkus dengan estetika seni yang memukau.

Tim jurnalis kami yang meliput langsung di lokasi pada Selasa, 19 Mei 2026, melaporkan bahwa paviliun Indonesia menjadi salah satu magnet utama dalam pameran pariwisata terbesar di kawasan tersebut. Sejak pintu pameran dibuka, aroma khas rempah dan alunan musik tradisional mulai mengundang rasa penasaran pengunjung dari berbagai negara. Kehadiran Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Alger di ajang ini seolah membawa potongan surga khatulistiwa ke daratan Mediterania.

Read Also

Tragedi Berdarah di Pusat Kembang Api Dunia: Ledakan Dahsyat di Liuyang China Tewaskan 21 Orang

Tragedi Berdarah di Pusat Kembang Api Dunia: Ledakan Dahsyat di Liuyang China Tewaskan 21 Orang

Eksotisme Rumah Gadang di Jantung Kota Aljir

Salah satu hal yang paling menonjol dari partisipasi Indonesia tahun ini adalah desain booth yang sangat berkarakter. Berada di posisi strategis di tengah area pameran, paviliun Indonesia berdiri kokoh dengan replika Rumah Gadang, rumah adat khas Minangkabau, Sumatera Barat. Atap bagonjong yang runcing menjulang menciptakan siluet yang unik di antara deretan stan modern lainnya. Hal ini merupakan strategi cerdas dari KBRI Aljazair untuk memperkenalkan keberagaman arsitektur budaya Indonesia kepada publik internasional.

Tak hanya Rumah Gadang, elemen dekoratif lainnya pun turut mempercantik suasana. Replika gapura khas Bali menyambut pengunjung di pintu masuk, memberikan nuansa spiritual dan eksotis yang selama ini menjadi daya tarik utama wisatawan mancanegara. Di sekeliling area booth, kain-kain batik dengan berbagai motif dari penjuru Nusantara dipajang dengan rapi, memperlihatkan tingkat ketelitian dan nilai seni tinggi yang dimiliki bangsa Indonesia. Banyak pengunjung yang berhenti sejenak hanya untuk meraba tekstur kain atau sekadar berfoto dengan latar belakang dekorasi yang sangat fotogenik tersebut.

Read Also

Panduan Keamanan Digital: Cara Mudah Aktivasi Verifikasi 2 Langkah Akun e-Visa Imigrasi

Panduan Keamanan Digital: Cara Mudah Aktivasi Verifikasi 2 Langkah Akun e-Visa Imigrasi

Simfoni Gerak: Antara Kelembutan Tari Kandagan dan Ketangkasan Silat

Puncak kemeriahan di booth Indonesia terjadi saat pertunjukan seni dimulai. Panggung kecil yang disediakan KBRI Alger mendadak sesak oleh penonton yang antusias. Penampilan pertama dibuka oleh Tari Kandagan, sebuah tarian tradisional dari tanah Sunda yang melambangkan kegagahan sekaligus keanggunan wanita. Tarian ini dibawakan dengan sangat apik oleh Freya Aanisah Syafri, seorang mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh studi di Aljazair. Gerakannya yang luwes namun bertenaga berhasil menghipnotis penonton, menunjukkan bahwa jarak ribuan kilometer tidak memudarkan semangat generasi muda Indonesia untuk melestarikan warisan budaya mereka.

Suasana semakin memanas ketika empat pesilat muda berbakat asli Aljazair naik ke panggung. Yang menarik, meskipun mereka warga lokal, gerakan Pencak Silat yang mereka peragakan tampak sangat autentik dan penuh disiplin. Hal ini menjadi bukti nyata bagaimana seni bela diri asli Indonesia telah merambah dunia dan diminati oleh bangsa lain. Pertunjukan Pencak Silat ini bukan hanya sekadar atraksi fisik, melainkan simbol persahabatan dan pertukaran budaya yang sangat harmonis antara kedua negara.

Read Also

Amukan Si Jago Merah di Kranji Bekasi: Tiga Unit Damkar Berjibaku Padamkan Api di Kawasan Jalan Banteng

Amukan Si Jago Merah di Kranji Bekasi: Tiga Unit Damkar Berjibaku Padamkan Api di Kawasan Jalan Banteng

Diplomasi Melalui Pariwisata dan Kedekatan Sejarah

Muhammad Syafri, selaku Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) KBRI Aljazair, mengungkapkan kepuasannya atas sambutan hangat publik Aljazair terhadap paviliun Indonesia. Menurutnya, antusiasme pengunjung tahun ini melampaui ekspektasi. Banyak dari mereka yang datang tidak hanya untuk melihat pertunjukan, tetapi juga aktif bertanya mengenai paket wisata ke Indonesia, terutama destinasi populer seperti Bali, Labuan Bajo, dan Borobudur.

“Respons pengunjung sangat luar biasa. Banyak yang bertanya tentang prosedur perjalanan dan waktu terbaik untuk mengunjungi Indonesia. Harapan kami, melalui partisipasi di SITEV 2026 ini, masyarakat dunia, khususnya di Afrika Utara, semakin mengenal potensi pariwisata Indonesia yang sangat beragam,” ujar Syafri saat ditemui di sela-sela acara. Ia juga menekankan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Aljazair memiliki akar sejarah yang sangat kuat, dimulai dari dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Aljazair dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Kedekatan emosional inilah yang menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat penetrasi pasarnya di Aljazair. Melalui pameran ekonomi tahunan seperti SITEV, para pemangku kepentingan dari kedua negara dapat saling bertukar pengalaman, teknik promosi modern, serta menjajaki peluang kerjasama komersial di sektor pariwisata dan kerajinan tangan.

Menjelajahi Aljazair: Dari Kota Modern hingga Situs Bersejarah

Partisipasi Indonesia dalam SITEV 2026 ini juga memberikan kesempatan bagi para delegasi dan jurnalis untuk mengenal lebih jauh potensi wisata Aljazair sendiri. Sebelum puncak acara di Kota Aljir, rombangan undangan dari Ministry of Tourism and Handicrafts of Algeria berkesempatan melakukan perjalanan jurnalistik ke lima kota ikonik di negara tersebut. Perjalanan dimulai dari Aljir yang modern dengan Masjid Terbesarnya di Afrika, berlanjut ke Oran yang bergaya kolonial, Tlemcen yang penuh sejarah, Annaba yang asri, hingga Tipaza yang menyimpan reruntuhan kota kuno Romawi.

Kunjungan ke berbagai destinasi seperti Hippo Regius di Annaba, yang merupakan rumah bagi Santo Agustinus, memberikan wawasan berharga tentang betapa kayanya sejarah yang dimiliki Aljazair. Pengalaman ini diharapkan dapat membuka peluang kerjasama dua arah, di mana Indonesia tidak hanya mempromosikan destinasi domestiknya, tetapi juga membangun sinergi pariwisata yang saling menguntungkan dengan negara sahabat. Dengan semakin terbukanya akses komunikasi dan transportasi, diharapkan arus kunjungan wisatawan antar kedua negara akan terus meningkat di masa mendatang.

Harapan untuk Masa Depan Industri Pariwisata

SITEV 2026 bukan sekadar ajang pameran biasa; ia adalah manifestasi dari optimisme industri pariwisata global pasca-transformasi digital. Indonesia, dengan segala kekayaan alam dan budayanya, telah membuktikan bahwa narasi tradisional yang dikemas secara profesional tetap memiliki daya tarik yang tak tergantikan di era modern ini. Langkah KBRI Aljazair dalam menghadirkan representasi seni pertunjukan dan arsitektur Nusantara di panggung internasional patut diapresiasi sebagai langkah strategis dalam memperkuat soft power Indonesia di mata dunia.

Sebagai penutup, kehadiran Indonesia di SITEV 2026 telah meninggalkan jejak mendalam di hati masyarakat Aljazair. Alunan musik, gerak tari, dan keramah-tamahan yang ditunjukkan di booth Indonesia menjadi undangan terbuka bagi dunia untuk datang dan merasakan sendiri keajaiban Nusantara. Dengan promosi yang berkelanjutan dan penguatan hubungan bilateral, Indonesia optimis dapat menjadi destinasi impian bagi wisatawan dari kawasan Afrika Utara dan sekitarnya.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *