Krisis Sampah Denpasar Memanas: 21 Kantong Limbah Misterius ‘Mendarat’ di SMP Wisata Sanur

Rizky Fauzi | WartaLog
14 Apr 2026, 16:49 WIB
Krisis Sampah Denpasar Memanas: 21 Kantong Limbah Misterius 'Mendarat' di SMP Wisata Sanur

WartaLog — Fenomena pembuangan limbah secara ilegal di Ibu Kota Bali kian mencapai tahap yang memprihatinkan pasca-penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung. Kabar terbaru yang mengejutkan publik, area pendidikan yang seharusnya steril justru menjadi sasaran empuk oknum tidak bertanggung jawab. Sebanyak 21 kantong plastik berukuran jumbo ditemukan berserakan di lingkungan SMP Widya Sastra Taruna (Wisata) Sanur, Denpasar, pada Senin (13/4/2026).

Kronologi Penemuan Sampah Misterius

Kejadian ini terungkap saat Kepala SMP Wisata Sanur, Ida Ayu Krisna Ari, tengah melakukan inspeksi rutin terhadap program pemilahan sampah di area belakang sekolah. Alangkah terkejutnya beliau saat mendapati deretan kantong plastik ungu dan hitam dalam jumlah banyak yang mengotori kebun sekolah.

Read Also

Potret Hunian di Klungkung: 3.511 Rumah Masih Tak Layak Huni, Nusa Penida Jadi Sorotan Utama

Potret Hunian di Klungkung: 3.511 Rumah Masih Tak Layak Huni, Nusa Penida Jadi Sorotan Utama

“Kemarin saya sedang meninjau proyek pemilahan sampah di belakang. Saat berjalan-jalan di area kebun, saya melihat ada sekitar 10 kantong plastik ungu besar sudah ada di dalam lingkungan sekolah,” tutur Ida Ayu Krisna Ari saat dikonfirmasi oleh tim redaksi pada Selasa (14/4/2026).

Berdasarkan estimasi waktu, pelaku diduga melancarkan aksinya pada Minggu malam atau Senin dini hari. Hal ini diperkuat oleh keterangan tukang kebun sekolah yang masih melakukan penyiraman tanaman pada Minggu pukul 19.00 Wita dan memastikan belum ada tumpukan sampah liar pada jam tersebut. Posisi sekolah yang berdekatan dengan halte bypass disinyalir memudahkan pelaku untuk melemparkan bungkusan sampah tersebut melewati pagar sekolah.

Laporan Tak Kunjung Direspons, Sekolah Ambil Langkah Tegas

Meski sampah-sampah tersebut terbungkus dengan rapi, pihak sekolah memilih untuk tidak membongkar isinya demi keamanan dan prinsip pemilahan yang mereka anut. Sayangnya, koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar awalnya tidak mendapatkan respons yang memadai.

Read Also

Sektor Pajak Karangasem Tumbuh Pesat, Realisasi PAD Triwulan I 2026 Lampaui Ekspektasi

Sektor Pajak Karangasem Tumbuh Pesat, Realisasi PAD Triwulan I 2026 Lampaui Ekspektasi

“Kami bingung mencari solusinya. Akhirnya, saya instruksikan tukang kebun untuk mengembalikan sampah tersebut ke pinggir jalan. Biarlah pemerintah yang mengambil tindakan, apakah mau diangkut atau bagaimana, karena kami sudah tidak tahu harus mengadu ke mana lagi,” keluh Ari dengan nada kecewa.

Langkah Antisipasi Kelurahan Sanur: Patroli Malam dan CCTV

Menanggapi situasi darurat ini, Lurah Sanur, Ida Bagus Made Windhu Segara, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan DLHK untuk proses pengangkutan. Ia mengakui bahwa keterbatasan armada angkut di tingkat kelurahan membuat penanganan masalah lingkungan ini seringkali terhambat.

“Ini masuk kategori sampah liar. Kami sudah mengarahkan Linmas dan Kepala Lingkungan untuk melakukan patroli di titik-titik rawan pembuangan ilegal, terutama pada jam-jam krusial antara pukul 00.00 hingga 01.00 Wita,” tegas Windhu Segara.

Read Also

Rayakan HUT ke-255, Pemkab Gianyar Buka Peluang Karir Lewat Job Fair di Alun-Alun Kota

Rayakan HUT ke-255, Pemkab Gianyar Buka Peluang Karir Lewat Job Fair di Alun-Alun Kota

Sebagai solusi jangka panjang, Kelurahan Sanur berencana menyiagakan kamera CCTV mobile untuk memantau pergerakan oknum pembuang sampah nakal. Meski terkendala dana untuk pengadaan massal, satu unit kamera pengawas akan segera dipasang di titik yang dianggap paling rawan.

Ironi di Sekolah Berbasis Eco-Education

Insiden ini menjadi sangat ironis mengingat SMP Wisata Sanur merupakan salah satu institusi pendidikan yang sangat progresif dalam hal pengelolaan sampah. Sekolah ini secara konsisten mengajarkan siswanya untuk memilah limbah organik dan nonorganik sejak dini.

Ida Ayu Krisna Ari menjelaskan bahwa sekolahnya memiliki fasilitas ‘teba modern’ dan lubang biopori untuk mengolah limbah organik menjadi kompos. Bahkan, melalui ekstrakurikuler hidroponik, mereka berhasil memanen sayuran yang hasilnya dijual untuk kas sekolah. “Kami mendidik anak-anak untuk bertanggung jawab atas limbah mereka sendiri. Sangat disayangkan jika usaha kami mengedukasi generasi muda justru dicederai oleh perilaku buruk masyarakat luar,” tutupnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *