Muak ‘Di-PHP’ Negara, Petani Tebu Blora Galang Rp 600 Juta untuk ‘Beli’ Pabrik Gula GMM

Yeni Sartika | WartaLog
13 Apr 2026, 22:18 WIB
Muak 'Di-PHP' Negara, Petani Tebu Blora Galang Rp 600 Juta untuk 'Beli' Pabrik Gula GMM

WartaLog — Sebuah ironi besar kini tengah menyelimuti hamparan kebun tebu di Kabupaten Blora. Di tengah kepastian nasib yang kian buram, para petani tebu di daerah ini melakukan aksi luar biasa sebagai bentuk protes keras terhadap PT Gendhis Multi Manis (GMM). Hanya dalam waktu tiga hari, gerakan “open donasi” yang mereka galang berhasil mengumpulkan dana fantastis hingga Rp 600 juta, dengan tujuan simbolis: membeli kembali pabrik gula tersebut.

Simbol Perlawanan dari Galon Bekas

Langkah nekat ini dipicu oleh rasa kecewa yang sudah mencapai puncaknya. Wahyu Ningsih, salah satu petani tebu yang ditemui di Posko Perjuangan Todanan, Blora, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan manifestasi rasa sakit hati petani yang selama ini hanya diberi harapan palsu atau ‘PHP’.

Read Also

Georg Grozer: Senjata Pamungkas Jakarta LavAni Demi Mahkota Proliga 2026

Georg Grozer: Senjata Pamungkas Jakarta LavAni Demi Mahkota Proliga 2026

“Terkumpul Rp 600 juta sekian dalam tiga hari. Ini adalah gerakan untuk ‘membeli’ PG GMM karena kami merasa negara seolah tidak mampu lagi mengatasi persoalan ini. Jika negara tidak bisa, biar kami para petani tebu yang bergerak sendiri,” tegas Wahyu dengan nada penuh penekanan.

Uniknya, dana tersebut dikumpulkan melalui cara-cara sederhana namun menyentuh hati. Ada galon-galon air mineral yang diletakkan di depan posko perjuangan untuk menampung uang receh dari para petani yang lewat, mulai dari pecahan Rp 1.000 hingga Rp 100.000. Tak hanya itu, sumbangan juga mengalir deras melalui transfer bank, dengan nominal yang bervariasi dari para penggarap lahan atau pesanggem.

Akar Masalah: Mesin Rusak dan Birokrasi yang Lamban

Konflik ini bermula ketika pabrik gula milik Perum Bulog tersebut mengalami kerusakan pada mesin boiler sejak Mei 2025 lalu. Dampaknya fatal, PG GMM tidak bisa melakukan proses giling tahun ini. Hal ini memicu kepanikan massal di kalangan petani karena hasil panen mereka terancam tidak terserap sepenuhnya.

Read Also

Tragedi di Purbalingga: Balita Meninggal Dunia Akibat Tersedak Jeli, Polisi Beri Peringatan Keras

Tragedi di Purbalingga: Balita Meninggal Dunia Akibat Tersedak Jeli, Polisi Beri Peringatan Keras

Para petani menuntut agar pabrik tetap beroperasi dan seluruh hasil panen tebu mereka dibeli oleh PT GMM sesuai kesepakatan awal. Namun, memperbaiki mesin pabrik ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai entitas di bawah naungan BUMN, perbaikan membutuhkan kucuran dana APBN yang proses birokrasinya memakan waktu lama.

Janji Penyerapan ke Pabrik Lain

Menanggapi aksi massa dan gerakan donasi tersebut, calon Direktur Operasional PT GMM, Andin Cholid, angkat bicara. Ia membenarkan bahwa kendala teknis pada mesin membuat operasional giling tahun ini terhenti. Namun, ia memastikan pemerintah sedang mencari jalan keluar tercepat agar tebu petani tidak telantar.

“Rencananya, tebu dari petani tetap akan diambil oleh PT GMM, namun pengolahannya akan dialihkan ke pabrik gula lain. Saat ini kami sedang mengupayakan teknis pengirimannya,” ujar Andin. Meski begitu, masih ada satu persoalan besar yang mengganjal: biaya angkut. Hingga kini, belum ada kepastian siapa yang akan menanggung ongkos kirim tebu dari Blora ke pabrik gula tujuan tersebut.

Read Also

Misi Mencuri Poin di Tanah Papua, PSIS Semarang Gembleng Lini Pertahanan Jelang Lawan Persipura

Misi Mencuri Poin di Tanah Papua, PSIS Semarang Gembleng Lini Pertahanan Jelang Lawan Persipura

Harga Pemerintah Jadi Jaminan

Di tengah ketidakpastian tersebut, pihak manajemen menjanjikan bahwa harga beli tebu akan tetap mengikuti standar acuan pemerintah. Hal ini setidaknya memberikan sedikit ruang napas bagi para petani, meski mereka tetap waswas jika nantinya ada potongan biaya logistik yang justru memangkas pendapatan mereka.

Aksi penggalangan dana ini pada akhirnya bukan sekadar soal angka Rp 600 juta yang mustahil untuk membeli seluruh aset pabrik. Ini adalah pesan moral yang kuat dari rakyat kecil di Blora bahwa mereka tidak akan tinggal diam ketika kesejahteraannya diabaikan. Bagi mereka, berjuang secara mandiri jauh lebih terhormat daripada terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang dari meja-meja birokrasi.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *