Ancaman ‘Penghancuran Total’ Donald Trump Terhadap Iran: Analisis Pakar dan Risiko Perang Terbuka

Akbar Silohon | WartaLog
12 Apr 2026, 08:52 WIB
Ancaman 'Penghancuran Total' Donald Trump Terhadap Iran: Analisis Pakar dan Risiko Perang Terbuka

WartaLog — Dunia internasional kini menaruh perhatian penuh pada eskalasi ketegangan antara Gedung Putih dan Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu diskursus global setelah secara terbuka melontarkan ancaman ‘penghancuran total’ terhadap Iran. Pernyataan ini muncul sebagai bayang-bayang kelam di tengah proses negosiasi pelik yang tengah berlangsung di Pakistan.

Sinyal Kembalinya Taktik ‘Carpet Bombing’?

Menanggapi retorika agresif tersebut, pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah memberikan analisis mendalam mengenai arah kebijakan militer Amerika Serikat. Ia melihat adanya kemiripan pola dengan strategi Washington saat menginvasi Irak di masa lampau. Menurut Rezasyah, istilah ‘penghancuran total’ bukan sekadar gertakan kosong, melainkan potensi kembalinya praktik carpet bombing atau pengeboman karpet yang meluluhlantakkan wilayah secara masif.

Read Also

Tragedi di Jantung Kota: Amukan Si Jago Merah Hanguskan 480 Kios di Pasar Kanjengan Semarang

Tragedi di Jantung Kota: Amukan Si Jago Merah Hanguskan 480 Kios di Pasar Kanjengan Semarang

“AS memiliki potensi besar untuk mengulang taktik tersebut, sebagaimana yang pernah kita saksikan di Irak dulu,” ujar Rezasyah. Ia menambahkan bahwa dalam skenario serangan baru ini, Washington kemungkinan besar tidak akan membatasi target pada instalasi militer saja, tetapi juga menyasar berbagai fasilitas sipil vital yang dianggap strategis bagi ketahanan nasional Iran.

Hambatan Diplomatik dan Tekanan Domestik

Negosiasi di Pakistan yang juga melibatkan kehadiran Wapres AS JD Vance sebenarnya diharapkan menjadi titik balik perdamaian. Namun, Rezasyah memperingatkan bahwa proses ini dibayangi oleh ketidakpuasan Israel yang merasa dikesampingkan dalam perundingan sepihak tersebut. Dinamika politik luar negeri AS juga kian rumit karena posisi Trump yang tengah menghadapi bayang-bayang pemakzulan di dalam negeri, sebuah kondisi yang sering kali memicu pemimpin untuk mengambil langkah ekstrem di kancah internasional.

Read Also

Antisipasi Dampak Geopolitik Global, Kapolda Riau Instruksikan Jajaran Waspadai Gejolak Harga BBM dan Pangan

Antisipasi Dampak Geopolitik Global, Kapolda Riau Instruksikan Jajaran Waspadai Gejolak Harga BBM dan Pangan

Perspektif Hukum: Pelanggaran Hak Perang

Di sisi lain, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyoroti aspek legalitas dan etika dari ancaman tersebut. Ia menegaskan bahwa dalam koridor hukum humaniter internasional, perang tidak boleh dilakukan tanpa batasan moral dan hukum yang jelas.

“Konsep penghancuran total yang menyasar segala aspek kehidupan adalah pelanggaran nyata terhadap hak perang. Secara hukum internasional, serangan hanya diperbolehkan untuk melumpuhkan kekuatan lawan dengan menargetkan kombatan dan instalasi militer, bukan menghancurkan kehidupan sipil secara menyeluruh,” tegas Hikmahanto.

Lebih lanjut, Hikmahanto memandang narasi agresif ini sebagai instrumen tekanan psikologis dalam meja diplomasi. Trump dianggap sedang menerapkan strategi mediasi ‘teriakan’ untuk memaksa Iran menyetujui poin-poin perdamaian, meskipun persyaratan tersebut mungkin sangat merugikan posisi Teheran.

Read Also

Ketegangan di Selat Hormuz: Iran Tegaskan Blokade Amerika Serikat Batalkan Gencatan Senjata

Ketegangan di Selat Hormuz: Iran Tegaskan Blokade Amerika Serikat Batalkan Gencatan Senjata

Kesiapan Armada Tempur Gedung Putih

Hingga saat ini, Donald Trump tampak konsisten dengan retorika kerasnya. Ia mengeklaim bahwa armada tempur Amerika Serikat telah disiagakan dengan dukungan logistik dan persenjataan tercanggih yang pernah diciptakan manusia.

“Kami sedang mengisi kapal-kapal perang dengan senjata terbaik, bahkan jauh lebih kuat dari yang pernah kami gunakan sebelumnya,” ujar Trump. Ancaman ini menjadi alarm bagi stabilitas kawasan dan menempatkan masa depan konflik Iran dan AS pada titik yang sangat krusial. Jika diplomasi di Pakistan menemui jalan buntu, dunia mungkin akan menyaksikan babak baru konfrontasi bersenjata yang menghancurkan.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *