Iran Sebut Gertakan Donald Trump Blokade Selat Hormuz Sebagai Lelucon Konyol
WartaLog — Eskalasi ketegangan di kawasan Teluk kembali mencapai titik didih. Militer Iran baru-baru ini melontarkan reaksi keras sekaligus meremehkan ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berencana melakukan blokade di Selat Hormuz. Komandan Angkatan Laut Iran menilai gertakan tersebut tidak lebih dari sekadar lelucon yang mengada-ada.
Reaksi Keras dari Teheran
Laksamana Muda Shahram Irani, selaku petinggi Angkatan Laut Republik Islam Iran, menegaskan bahwa kesiapan militer Iran berada pada level tertinggi. Dalam sebuah pernyataan resmi, ia menyebutkan bahwa setiap pergerakan agresif dari armada Amerika Serikat di wilayah tersebut selalu berada dalam radar pemantauan ketat pasukannya.
“Ancaman yang dilontarkan Presiden AS, menyusul apa yang kami sebut sebagai kekalahan memalukan militer mereka dalam konfrontasi sebelumnya, terkait blokade laut terhadap Iran, adalah sesuatu yang sangat konyol dan menggelikan,” ujar Shahram Irani sebagaimana dikutip dari kanal berita resmi Iran.
Georg Grozer: Senjata Pamungkas Jakarta LavAni Demi Mahkota Proliga 2026
Kegagalan Diplomasi di Pakistan
Ketegangan ini bermula ketika Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan perintah kepada Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade di Selat Hormuz, yang dikenal sebagai urat nadi perdagangan minyak global. Keputusan sepihak ini diambil setelah serangkaian negosiasi maraton antara perwakilan Washington dan Teheran di Pakistan menemui jalan buntu.
Tak berhenti di situ, Donald Trump juga memberikan peringatan keras bahwa setiap kapal kargo atau tanker yang kedapatan membayar biaya masuk atau bea cukai kepada otoritas Iran akan segera dicegat di perairan internasional. Langkah ini dianggap sebagai upaya sistematis untuk memutus jalur pendapatan ekonomi Iran dari sektor maritim.
Status Quo Baru di Jalur Maritim Strategis
Perlu dicatat bahwa Iran sebenarnya telah memperketat kontrol lalu lintas di kawasan Hormuz sejak terjadinya serangan gabungan yang melibatkan AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mendeklarasikan bahwa kondisi di selat tersebut tidak akan pernah kembali seperti semula, terutama bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara agresor.
Panduan Lengkap Kamus Bahasa Jawa-Indonesia: Menelusuri Makna dari Huruf A hingga Z
Sebagai bentuk kedaulatan, Teheran kini menerapkan kebijakan diskriminatif yang selektif: memberikan lampu hijau bagi kapal-kapal dari negara sahabat, namun menutup pintu rapat-rapat bagi kapal milik AS, Israel, dan para pendukungnya. Strategi ini semakin diperkuat dengan langkah parlemen Iran yang tengah menyusun rancangan undang-undang baru.
RUU Biaya Transit dan Mata Uang Nasional
Dalam narasi kedaulatan ekonomi yang lebih luas, pemerintah Iran melalui parlemennya sedang menggodok aturan untuk memberlakukan biaya transit bagi setiap kapal yang melintasi wilayah mereka. Menariknya, pembayaran tersebut diwajibkan menggunakan mata uang nasional Iran, bukan dolar AS, sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni finansial Barat. Aturan ini juga secara eksplisit melarang total kehadiran armada laut AS dan Israel di zona tersebut.
Tragedi Alat Tukang Modifikasi, Lansia di Blora Meninggal Dunia Akibat Pantulan Mata Gerinda
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia internasional, mengingat stabilitas pasokan minyak dunia sangat bergantung pada ketenangan di jalur sempit namun vital ini. Pertarungan ego antara Washington dan Teheran diprediksi akan terus memanas dalam beberapa pekan ke depan.