Tragedi di Perairan Kalianda: Kapal Nelayan KM Bima Suci Karam Dihantam Kargo, Satu ABK Hilang Misterius

Akbar Silohon | WartaLog
06 Mei 2026, 03:17 WIB
Tragedi di Perairan Kalianda: Kapal Nelayan KM Bima Suci Karam Dihantam Kargo, Satu ABK Hilang Misterius

WartaLog — Keheningan malam di perairan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, mendadak berubah menjadi mencekam ketika sebuah kapal nelayan tradisional yang tengah mengadu nasib di tengah lautan luas harus berhadapan dengan raksasa baja. Insiden tabrakan yang melibatkan sebuah kapal kargo dan kapal nelayan KM Bima Suci ini menyisakan duka mendalam serta teka-teki mengenai keberadaan salah satu anak buah kapal (ABK) yang hingga kini belum ditemukan.

Peristiwa nahas ini terjadi di tengah kegelapan dini hari, saat sebagian besar penduduk daratan masih terlelap dalam tidurnya. Namun, bagi para nelayan, waktu tersebut adalah saat-saat krusial untuk menjaring rezeki dari kekayaan laut Lampung. Sayangnya, rencana untuk membawa pulang hasil tangkapan yang melimpah justru berakhir dengan perjuangan hidup dan mati di tengah kecelakaan kapal yang tragis.

Read Also

Skandal Dosen UIN Jambi: Terjebak Penggerebekan Istri di Kamar Kos, Jabatan Wakil Dekan Kini Melayang

Skandal Dosen UIN Jambi: Terjebak Penggerebekan Istri di Kamar Kos, Jabatan Wakil Dekan Kini Melayang

Kronologi Petaka di Tengah Gelapnya Laut Kalianda

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim jurnalis kami, perjalanan KM Bima Suci sebenarnya dimulai dengan penuh harapan. Kapal nelayan tersebut berangkat melaut dari kawasan Perairan Merak Belantung pada Senin pagi, tepatnya pukul 08.00 WIB. Dengan perbekalan yang cukup dan semangat mencari nafkah, empat orang awak kapal memulai rutinitas mereka sebagai penguasa ombak.

Namun, takdir berkata lain saat waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB pada Selasa dini hari. Saat kapal sedang berada di posisi strategis penangkapan ikan di perairan Kalianda, sebuah kapal kargo besar dilaporkan melintas di jalur yang sama. Karena ukuran yang kontras dan kemungkinan jarak pandang yang terbatas, benturan hebat tidak dapat dihindarkan. KM Bima Suci yang terbuat dari material kayu tak berdaya menahan hantaman keras dari bodi besi kapal kargo tersebut.

Read Also

Tensi Memanas, Donald Trump Ancam Pertahankan Blokade Pelabuhan Iran Jika Kesepakatan Damai Buntu

Tensi Memanas, Donald Trump Ancam Pertahankan Blokade Pelabuhan Iran Jika Kesepakatan Damai Buntu

Kekuatan tabrakan itu membuat KM Bima Suci segera mengalami kerusakan parah dan mulai terisi air dengan sangat cepat. Dalam hitungan menit, kapal yang menjadi tumpuan hidup para nelayan itu karam ke dasar laut, meninggalkan para awaknya berjuang di tengah dinginnya air laut dalam kondisi gelap gulita.

Identitas Korban dan Detik-Detik Penyelamatan yang Dramatis

Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, mengonfirmasi bahwa ada empat orang yang berada di atas kapal saat insiden itu terjadi. Tiga orang di antaranya berhasil menyelamatkan diri dari maut setelah sempat terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya mendapatkan bantuan. Ketiga korban selamat tersebut adalah Kalori yang bertindak sebagai nahkoda kapal, serta dua ABK lainnya bernama Uyut dan Herman.

Read Also

NasDem Wanti-wanti Pemprov Jakarta: Pastikan Pemusnahan Ikan Sapu-sapu Terawasi Ketat Agar Tak ‘Bocor’ ke Pasar

NasDem Wanti-wanti Pemprov Jakarta: Pastikan Pemusnahan Ikan Sapu-sapu Terawasi Ketat Agar Tak ‘Bocor’ ke Pasar

“Kami menerima laporan resmi mengenai kejadian ini dari pihak Polairud Pandeglang pada Selasa siang, sekitar pukul 12.40 WIB. Berdasarkan laporan tersebut, memang benar telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan satu orang nelayan hilang,” ujar Rezie saat memberikan keterangan kepada media.

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada satu awak lainnya. Ajum, pria berusia 53 tahun asal Pandeglang, Banten, dilaporkan hilang setelah kejadian tabrakan tersebut. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apakah Ajum sempat melompat keluar kapal atau terjebak di dalam bangunan kapal saat KM Bima Suci tenggelam. Hilangnya Ajum menjadi fokus utama dalam operasi pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Upaya Pencarian Intensif oleh Tim SAR Gabungan

Segera setelah menerima laporan dari korban selamat yang berkoordinasi dengan Polairud, tim penyelamat tidak membuang waktu. Pos SAR Bakauheni langsung mengerahkan personel terbaiknya menuju lokasi kejadian (LKP). Pada pukul 13.00 WIB, satu unit kapal Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas diberangkatkan untuk menyisir area perairan Kalianda yang menjadi titik koordinat kecelakaan.

Proses pencarian ini bukanlah hal yang mudah. Luasnya area pencarian serta kondisi arus laut yang bisa berubah sewaktu-waktu menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Selain menyisir permukaan air, tim juga memantau kemungkinan korban terbawa arus menuju pesisir atau area lainnya. Koordinasi antara Basarnas, Polairud, dan nelayan setempat terus diperkuat guna mempercepat penemuan Ajum.

Pihak berwenang juga mengimbau kepada kapal-kapal lain yang melintas di wilayah Lampung Selatan untuk segera memberikan informasi jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban atau puing-puing kapal KM Bima Suci. Keselamatan di laut saat ini menjadi sorotan tajam, terutama mengenai pentingnya alat keselamatan seperti life jacket bagi setiap nelayan yang melaut.

Tantangan Keselamatan Pelayaran di Jalur Logistik Lampung

Insiden yang menimpa KM Bima Suci kembali membuka diskusi panjang mengenai keselamatan pelayaran di Selat Sunda dan sekitarnya. Wilayah perairan Lampung, khususnya Kalianda dan Bakauheni, merupakan jalur logistik yang sangat padat. Setiap harinya, puluhan bahkan ratusan kapal kargo, tanker, dan kapal feri melintasi perairan ini berdampingan dengan perahu-perahu kecil milik nelayan tradisional.

Seringkali, ketidakseimbangan antara teknologi navigasi pada kapal besar dan kapal nelayan kecil menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Kapal nelayan tradisional terkadang tidak dilengkapi dengan Automatic Identification System (AIS) atau lampu navigasi yang memadai, sehingga sulit terdeteksi oleh radar kapal kargo besar di malam hari atau saat cuaca buruk.

Kejadian ini diharapkan menjadi pengingat keras bagi para otoritas pelayaran untuk terus mengedukasi nelayan mengenai standar keselamatan laut. Di sisi lain, operator kapal besar juga dituntut untuk lebih waspada dan meningkatkan pengawasan visual saat melewati area yang dikenal sebagai zona penangkapan ikan tradisional.

Harapan di Tengah Deburan Ombak

Hingga berita ini diturunkan, keluarga Ajum di Pandeglang masih menunggu kabar dengan penuh harap. Doa-doa dipanjatkan agar pria paruh baya tersebut dapat ditemukan dalam kondisi selamat, meskipun kemungkinan tersebut kian mengecil seiring berjalannya waktu. Para tetangga dan kerabat korban mengenal Ajum sebagai sosok yang tangguh dan sudah bertahun-tahun melintang di dunia kelautan.

Tragedi ini menjadi luka bagi komunitas nelayan di Lampung dan Banten. Mereka sadar bahwa laut adalah sumber kehidupan, namun di saat yang sama, laut juga bisa menjadi tempat yang sangat berbahaya. Keberanian para nelayan seperti Kalori, Uyut, Herman, dan Ajum dalam menghadapi risiko di tengah samudera adalah bukti nyata betapa kerasnya perjuangan mencari nafkah di negeri bahari ini.

WartaLog akan terus memantau perkembangan proses pencarian korban hilang dan memberikan informasi terbaru terkait investigasi penyebab pasti tabrakan antara kapal kargo dan KM Bima Suci di perairan Lampung Selatan ini.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *