Pramono Anung Soroti Kontroversi Lagu Erika ITB: Dulu Liriknya Adalah Simbol Perlawanan Rezim
WartaLog — Gelombang kontroversi yang menyelimuti lagu ‘Erika’ di lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) akhirnya memancing komentar dari mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dalam sebuah pertemuan hangat, Pramono mengungkapkan rasa prihatinnya sekaligus memberikan perspektif sejarah atas lagu yang kini dituding bermuatan pelecehan tersebut.
Hadir dalam acara Halal Bi Halal bersama Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB di Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026), Pramono membawa ingatan audiens kembali ke masa-masa ia masih menjadi mahasiswa tambang. Ia bercerita dengan nada nostalgia tentang keterlibatannya dalam Orkes Semi Dangdut (OSD), sebuah grup musik internal himpunan yang cukup legendaris di masanya.
Israel dan Lebanon Buka Pintu Damai di AS, Harapan Baru di Tengah Bara Konflik
Nostalgia dan Pergeseran Makna
Pramono mengakui bahwa lagu ‘Erika’ bukanlah barang baru. Namun, ia menegaskan ada perbedaan fundamental antara lirik yang ia nyanyikan dulu dengan versi yang kini memicu kecaman publik. “Saya kebetulan pernah ikut dalam OSD. Status saya pegang ecrek-ecrek (perkusi), pasti gambarnya masih ada. Lagu Erika itu memang lagu wajib kalau sedang acara orientasi di ITB,” kenang Pramono.
Ia menekankan bahwa pada era Orde Baru, lagu tersebut merupakan instrumen kritik politik yang tajam. Bukannya mengandung unsur pelecehan seksual, liriknya justru sering kali disisipi dengan parodi pidato penguasa saat itu sebagai bentuk pembangkangan sipil terhadap rezim yang otoriter.
“Saya prihatin karena liriknya sekarang berubah. Dulu, kelebihan mahasiswa Tambang ITB saat menyanyikan Erika adalah menyelipkan tiruan pidato Pak Harto. Itu adalah bagian dari perlawanan kami terhadap rezim saat itu. Jadi, syairnya sangat berbeda jauh dengan apa yang viral sekarang,” tuturnya dengan tegas.
Konflik AS-Iran Memuncak: Armada Laut Paman Sam Klaim Hancurkan Kapal dan Rudal Teheran di Jalur Maritim Global
Respons Tegas dari Rektorat ITB
Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, tidak tinggal diam. Melalui pernyataan resminya, pihak kampus menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan yang muncul. Ia menegaskan bahwa institusi pendidikan setinggi ITB tidak akan memberikan ruang bagi segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun fisik.
“Kami tidak akan memberikan toleransi apa pun terhadap perbuatan yang mengandung kekerasan di lingkungan kampus,” ujar Tata. Pihak rektorat dikabarkan telah melakukan rapat maraton dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) serta melibatkan berbagai himpunan jurusan untuk meningkatkan kesadaran kolektif agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Permohonan Maaf Himpunan Mahasiswa Tambang
Di sisi lain, pengurus Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB juga telah merilis pernyataan resmi. Mereka mengakui adanya kekeliruan dalam konten yang dibawakan dan menyatakan bahwa hal tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai luhur organisasi maupun standar akademik yang dijunjung tinggi.
Wamendagri Ribka Haluk: Sinkronisasi Perencanaan Kunci Jawa Timur Jadi Motor Ekonomi Nasional
Pihak himpunan telah berkoordinasi untuk menurunkan konten sensitif tersebut dari media sosial dan melakukan evaluasi internal secara menyeluruh. “Kami sangat memahami sensitivitas isu ini dan menyampaikan empati mendalam kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan yang merasa tersakiti,” tulis perwakilan HMT dalam keterangan tertulisnya.
Polemik ini menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen akademisi ITB bahwa tradisi kampus harus tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan etika yang berlaku di masyarakat modern, tanpa meninggalkan semangat kritis yang menjadi jati diri mahasiswa sejak dulu.