Ratusan Hektare Sawah di Tegalluar Terendam Banjir, Petani Bojongsoang Terancam Gagal Panen Total

Santi Rahayu | WartaLog
15 Apr 2026, 17:52 WIB
Ratusan Hektare Sawah di Tegalluar Terendam Banjir, Petani Bojongsoang Terancam Gagal Panen Total

WartaLog — Bayang-bayang kerugian besar kini menghantui masyarakat agraris di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Curah hujan tinggi yang berujung pada luapan air memaksa ratusan hektare lahan pertanian di wilayah tersebut berubah menjadi lautan cokelat pada Rabu (15/4/2026). Kondisi ini membuat asa para petani untuk menikmati hasil jerih payah mereka terancam sirna akibat ancaman puso yang nyata.

Pantauan langsung di lokasi menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Banjir tidak hanya menggenangi jalan raya dan memutus akses mobilitas warga, tetapi juga merambah hingga ke jantung pemukiman dan area persawahan yang luas. Aktivitas ekonomi lokal seolah lumpuh seketika saat air mulai naik dan menenggelamkan tanaman padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Read Also

Menelusuri Jejak Nestapa Taryadi, Sosok Pengangkut Sampah di Jatibarang yang Bertahan Hidup di Rumah Roboh

Menelusuri Jejak Nestapa Taryadi, Sosok Pengangkut Sampah di Jatibarang yang Bertahan Hidup di Rumah Roboh

Skala Kerusakan Lahan yang Masif

Kepala Desa Tegalluar, Galih Hendrawan, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa wilayahnya. Menurut penuturannya, dampak banjir kali ini sangat signifikan, terutama terhadap sektor pangan yang menjadi tumpuan hidup mayoritas warga desa.

“Kondisi di lapangan sangat menyedihkan bagi para petani kita. Sebagian besar dari mereka kini menghadapi kenyataan pahit akan potensi gagal panen. Berdasarkan pendataan kami, sekitar 85 persen lahan pertanian di desa ini sudah terendam air,” ujar Galih saat memberikan keterangan kepada tim liputan.

Secara administratif, Desa Tegalluar memiliki luas wilayah mencapai 756 hektare, di mana 500 hektare di antaranya merupakan lahan produktif yang digunakan untuk bercocok tanam. Dengan rendaman air yang belum juga surut, hampir seluruh hamparan hijau tersebut kini berstatus terancam rusak total.

Read Also

Babak Baru Birokrasi Bogor: Sekda Tegaskan Kompetensi Jadi Panglima, Era ‘Orang Dekat’ Berakhir

Babak Baru Birokrasi Bogor: Sekda Tegaskan Kompetensi Jadi Panglima, Era ‘Orang Dekat’ Berakhir

Mencari Solusi di Tengah Kepungan Air

Selain kerugian materiil, banjir ini juga memberikan beban psikologis bagi warga yang bergantung sepenuhnya pada hasil bumi. Pihak pemerintah desa saat ini tengah berupaya keras menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk mencari jalan keluar terbaik guna meminimalisir dampak ekonomi yang lebih luas.

Galih menegaskan bahwa situasi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat. Ia mengajak semua elemen untuk memiliki empati dan solidaritas terhadap nasib para petani yang kini terpuruk.

“Ini harus menjadi pemikiran kita bersama. Kita perlu merumuskan skema dukungan bagi para petani di Desa Tegalluar agar mereka memiliki kemampuan untuk bangkit kembali dan melanjutkan kehidupan mereka setelah bencana ini berlalu,” pungkasnya. Penanganan pascabencana, seperti pemberian bantuan bibit atau relaksasi pinjaman, diharapkan bisa menjadi salah satu opsi untuk menyelamatkan ekonomi desa kedepannya.

Read Also

Sinopsis Golden Job: Misi Kemanusiaan yang Berubah Menjadi Pencurian Emas dan Ujian Loyalitas

Sinopsis Golden Job: Misi Kemanusiaan yang Berubah Menjadi Pencurian Emas dan Ujian Loyalitas

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *