Menelusuri Jejak Nestapa Taryadi, Sosok Pengangkut Sampah di Jatibarang yang Bertahan Hidup di Rumah Roboh
WartaLog — Di balik keriuhan denyut nadi ekonomi Desa Jatibarang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, terselip sebuah potret kehidupan yang kontras dan menyayat hati. Ketika deru kendaraan dan hiruk-pikuk tawar-menawar di pasar menjadi simfoni harian yang menandakan kemakmuran kawasan tersebut, di sebuah sudut sempit bernama Gang Tarkani, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi seorang pria bernama Taryadi.
Pria berusia 50 tahun yang akrab disapa Citung ini adalah representasi nyata dari keteguhan hati di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik. Melangkah masuk ke kediamannya, kita tidak akan menemukan kemewahan, melainkan reruntuhan bangunan yang nyaris tak layak lagi disebut sebagai tempat bernaung. Dinding-dindingnya telah rapuh dimakan usia, sebagian atapnya sudah menyerah pada gravitasi, dan ilalang liar tumbuh subur mengepung sisa-sisa bangunan tersebut.
Strategi BIJB Kertajati Sambut Musim Haji 2026: Terapkan Skema Embarkasi Penuh untuk Kenyamanan Jemaah
Bertahan di Tengah Puing dan Keterbatasan
Di dalam rumah yang sebenarnya merupakan bangunan terbengkalai milik warga setempat, Taryadi tinggal bersama tiga buah hatinya. Kondisi interiornya memprihatinkan; hanya ada kasur busa yang sudah lapuk dan tumpukan pakaian yang menyatu dengan debu. Untuk kebutuhan masalah sosial seperti ini, Taryadi harus berbagi ruang sempit dengan anak bungsu laki-lakinya, sementara dua anaknya yang lain menempati sudut lain di bangunan yang sama.
“Rumah ini bukan milik saya, saya hanya menumpang di bangunan yang sudah lama kosong,” ungkap Taryadi dengan nada lirih saat ditemui tim WartaLog di lokasi. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, ia memulai hari dengan melakukan pekerjaan domestik—mencuci, menyapu, dan merapikan tempat tidurnya yang seadanya—sebelum kemudian berjibaku dengan pengelolaan sampah di lingkungan sekitar.
Kedok Agen Wisata Terbongkar: Misteri ‘Fengda Wealth Management’ dan Markas Siber WNA di Sukabumi
Penghasilan yang Jauh dari Kata Cukup
Sebagai seorang pengangkut sampah, penghasilan Taryadi hanya berkisar di angka Rp500.000 per bulan. Nominal yang tentu saja sangat jauh dari cukup untuk menghidupi empat nyawa di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok. Demi menyambung hidup, ia sering kali merangkap profesi sebagai pemulung, memilah plastik dan barang bekas untuk dijual kembali.
Perjalanan hidup Taryadi sebenarnya penuh warna, meski tak pernah berpihak padanya. Ia pernah melakoni berbagai pekerjaan kasar, mulai dari menarik becak, menjadi kuli bangunan, kernet angkutan umum (elf), hingga menjadi nelayan. Namun, takdir membawanya kembali ke darat untuk bergelut dengan limbah demi sesuap nasi.
Ujian Saat Hujan dan Mimpi Sederhana
Keterbatasan fasilitas adalah makanan sehari-hari bagi keluarga kecil ini. Untuk urusan sanitasi dan mandi, mereka harus berjalan menuju WC umum di kawasan RTH Jatibarang yang terletak di depan Stasiun Jatibarang. Listrik pun didapatkan dari belas kasihan tetangga yang bersedia membagi dayanya.
Eksplorasi Keindahan Bandung Lebih Hemat: Courtyard by Marriott Bandung Dago Hadirkan Promo Celebrate Wonderful Indonesia
Penderitaan Taryadi mencapai puncaknya saat musim hujan tiba. Atap yang bocor membuat air bebas merangsek masuk, membasahi segalanya—termasuk tempat mereka memejamkan mata. “Kalau hujan, kami tidak punya tempat kering. Kasur basah, pakaian basah, semua basah,” tuturnya sedih. Ia bahkan tidak bisa memasak karena ketiadaan fasilitas dapur, sehingga harus membeli nasi bungkus seadanya jika memiliki sedikit uang.
Meski hidup dalam lingkar kemiskinan yang ekstrem, Taryadi tidak lantas menyerah pada keadaan. Harapannya sangat sederhana namun bermakna besar: ia mendambakan sebuah rumah layak huni bagi anak-anaknya agar mereka tidak lagi harus kedinginan saat hujan mengguyur Indramayu.
“Harapan saya cuma satu, punya rumah yang layak. Saya akan mensyukuri bantuan atau rezeki dari mana pun yang datang,” pungkasnya. Di tengah hiruk-pikuk Jatibarang, kisah Taryadi adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik gemerlap kemajuan, masih ada saudara kita yang berjuang hanya untuk sekadar tetap berteduh dari terik dan hujan.