Drama di Balik Evakuasi Balita 1,5 Tahun di Gunung Ungaran: Bukan Sekadar Hipotermia, Ada Perselisihan Keluarga

Yeni Sartika | WartaLog
14 Apr 2026, 07:48 WIB
Drama di Balik Evakuasi Balita 1,5 Tahun di Gunung Ungaran: Bukan Sekadar Hipotermia, Ada Perselisihan Keluarga

WartaLog — Jagat maya baru-baru ini digemparkan oleh sebuah video dramatis yang memperlihatkan proses evakuasi seorang balita berusia 1,5 tahun di kawasan Puncak Bondolan, Gunung Ungaran. Balita perempuan berinisial L tersebut dikabarkan mengalami gejala penurunan suhu tubuh drastis atau hipotermia saat mengikuti kedua orang tuanya melakukan pendakian.

Namun, di balik rekaman video yang menyayat hati tersebut, terungkap fakta-fakta lain yang menggambarkan situasi emosional di balik insiden tersebut. Kejadian yang berlangsung pada Sabtu (11/4) ini ternyata melibatkan drama perselisihan antara kedua orang tua sang balita sejak awal memulai perjalanan.

Kronologi di Jalur Pendakian

Berdasarkan penuturan pengelola Basecamp Perantunan, Dwi Purnomo, keluarga kecil tersebut melakukan registrasi pendakian sekitar pukul 07.00 WIB. Meski cuaca saat itu cukup cerah, petugas sempat menangkap gelagat yang tidak biasa. Pasangan suami istri tersebut tampak sedang terlibat cekcok atau masalah keluarga.

Read Also

Tragedi Alat Tukang Modifikasi, Lansia di Blora Meninggal Dunia Akibat Pantulan Mata Gerinda

Tragedi Alat Tukang Modifikasi, Lansia di Blora Meninggal Dunia Akibat Pantulan Mata Gerinda

“Dari awal registrasi, bapak dan ibunya sudah terlihat ada perselisihan. Namun, mereka tetap memutuskan untuk mendaki gunung bertiga bersama anaknya,” ungkap Dwi kepada tim WartaLog.

Awalnya, mereka berjanji tidak akan memaksa sampai ke puncak dan hanya akan berjalan hingga pos 3 atau pos 4. Namun, setibanya di pos 4, konflik kembali memanas. Di tengah cuaca yang mulai mendung dan turun hujan, sang ibu meminta untuk turun demi keselamatan sang anak, namun sang ayah bersikukuh untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Ibu Turun Terlebih Dahulu, Tim SAR Bergerak Cepat

Puncak ketegangan terjadi ketika sang ibu akhirnya memutuskan turun sendiri ke basecamp dan melaporkan kondisi suami serta anaknya kepada petugas. Dalam kondisi basah kuyup, sang ibu sempat meminta bantuan agar suami dan bayinya segera disuruh turun. Ironisnya, setelah melapor, sang ibu justru pulang meninggalkan area gunung, yang baru diketahui petugas setelah proses evakuasi selesai.

Read Also

Drama Isak Tangis di Ruang Sidang, Eks Sekda Klaten Jaka Sawaldi Divonis 2 Tahun Penjara

Drama Isak Tangis di Ruang Sidang, Eks Sekda Klaten Jaka Sawaldi Divonis 2 Tahun Penjara

Melihat kondisi cuaca yang memburuk, tim Basarnas dan petugas basecamp segera bergerak melakukan penyisiran. Balita tersebut ditemukan di kawasan Puncak Bondolan dalam kondisi menangis histeris dan pakaian yang basah akibat hujan deras.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengonfirmasi bahwa tim di lapangan langsung memberikan penanganan darurat. Petugas menyelimuti balita tersebut dengan emergency blanket untuk menjaga kestabilan suhu tubuhnya sebelum digendong turun menuju tempat yang lebih aman.

Klarifikasi Mengenai Kondisi Hipotermia

Meskipun narasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan balita tersebut mengalami gejala hipotermia yang parah, pihak pengelola memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda. Menurut Dwi, tangis keras sang anak lebih dipicu oleh faktor psikologis karena ingin bertemu ibunya yang sudah tidak ada di lokasi.

Read Also

Misi Laskar Sambernyawa Jauhi Zona Merah: Persis Solo Jamu Semen Padang di Manahan Tanpa Suporter

Misi Laskar Sambernyawa Jauhi Zona Merah: Persis Solo Jamu Semen Padang di Manahan Tanpa Suporter

“Anak itu menangis bukan semata-mata karena sakit, tapi memang mencari ibunya. Begitu dipertemukan kembali dengan ibunya di parkiran, anak tersebut langsung tenang,” jelas Dwi. Meski demikian, tindakan preventif menggunakan selimut aluminium foil tetap dilakukan karena kondisi pakaian anak yang basah sangat berisiko memicu hipotermia sungguhan.

Evaluasi Aturan Usia Pendaki

Insiden ini menjadi pukulan telak bagi pengelola jalur pendakian di Jawa Tengah. Selama ini, Basecamp Perantunan belum memiliki aturan baku mengenai batas usia minimal pendaki, asalkan dalam pengawasan orang tua yang berpengalaman.

Namun, buntut dari kejadian ini, pihak pengelola berencana memperketat regulasi. Gunung Ungaran melalui jalur Perantunan kemungkinan besar akan menerapkan batas usia minimal setingkat sekolah dasar (SD) demi menjamin keselamatan pendaki, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki daya tahan tubuh sekuat orang dewasa.

Kini, balita L telah dinyatakan selamat dan sudah dibawa pulang oleh orang tuanya. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk tidak hanya mengandalkan ambisi pribadi saat membawa buah hati ke alam bebas, terutama ketika faktor cuaca dan keharmonisan koordinasi keluarga tidak mendukung.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *