Drama Pendakian Gunung Ungaran: Di Balik Insiden Hipotermia Balita, Ada Perselisihan Ego Orang Tua

Yeni Sartika | WartaLog
13 Apr 2026, 19:19 WIB
Drama Pendakian Gunung Ungaran: Di Balik Insiden Hipotermia Balita, Ada Perselisihan Ego Orang Tua

WartaLog — Sebuah insiden yang menggetarkan empati publik baru saja terjadi di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang. Seorang balita perempuan berusia 1,5 tahun berinisial L, dilaporkan mengalami gejala hipotermia saat diajak mendaki oleh kedua orang tuanya. Namun, di balik kedaruratan medis tersebut, terungkap sebuah fakta miris mengenai ego dan perselisihan keluarga yang hampir berujung fatal.

Awal Mula Ketegangan di Basecamp Perantunan

Cerita bermula ketika sebuah keluarga kecil tiba di Basecamp Perantunan sekitar pukul 07.00 WIB. Pengelola Basecamp, Dwi Purnomo, mengungkapkan bahwa sejak proses registrasi, suasana dingin sudah terasa—bukan karena cuaca, melainkan karena adu mulut antara sang ayah dan ibu balita tersebut. Meskipun terlihat sedang tidak harmonis, mereka tetap bersikeras melanjutkan pendakian gunung bersama buah hati mereka.

Read Also

Drama di Balik Evakuasi Balita 1,5 Tahun di Gunung Ungaran: Bukan Sekadar Hipotermia, Ada Perselisihan Keluarga

Drama di Balik Evakuasi Balita 1,5 Tahun di Gunung Ungaran: Bukan Sekadar Hipotermia, Ada Perselisihan Keluarga

“Sejak awal pendaftaran, bapak dan ibunya sudah terlihat ada masalah keluarga, ada perselisihan yang cukup intens. Tapi mereka tetap memutuskan untuk naik bertiga,” kenang Dwi saat memberikan keterangan resmi kepada tim media.

Petugas sebenarnya memiliki kebijakan ketat terkait pendakian dengan balita. Namun, pasangan ini memberikan alasan bahwa mereka hanya akan berjalan santai hingga Pos 3 atau Pos 4 dan tidak berniat mencapai puncak. Mengingat cuaca pagi itu yang tampak cerah, petugas akhirnya memberikan izin terbatas.

Ego yang Memuncak di Jalur Pendakian

Ironi terjadi saat mereka tiba di Pos 4. Langit yang semula cerah berubah mendung dan mulai turun hujan. Di titik inilah, perbedaan pendapat kembali memuncak. Sang ibu, yang merasa keselamatan anaknya terancam oleh cuaca ekstrem, meminta agar mereka segera turun. Sebaliknya, sang ayah justru bersikap keras kepala dan bersikukuh ingin menembus puncak.

Read Also

Menelusuri Jejak Rasa Es Krim Karimata Semarang: Rahasia Kelezatan Autentik yang Terjaga Sejak 1981

Menelusuri Jejak Rasa Es Krim Karimata Semarang: Rahasia Kelezatan Autentik yang Terjaga Sejak 1981

Perdebatan ini berakhir buntu. Sang ibu yang merasa tidak didengarkan akhirnya memilih turun sendirian, meninggalkan suami dan bayinya di tengah jalur pendakian yang mulai diguyur hujan deras. Setibanya di basecamp, sang ibu sempat meminta bantuan petugas untuk menjemput keluarganya, namun ia kemudian meninggalkan lokasi dan pulang ke rumahnya, sebuah langkah yang mengejutkan pihak pengelola.

Evakuasi Dramatis di Tengah Hujan

Situasi memburuk ketika laporan mengenai kondisi balita yang menurun sampai ke telinga petugas. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, menjelaskan bahwa tim tim SAR yang sedang bersiaga langsung bergerak cepat menuju kawasan Puncak Bondolan.

“Kejadiannya pada Sabtu siang sekitar pukul 14.00 WIB. Suhu tubuh balita tersebut menurun drastis karena hujan deras. Petugas segera melakukan tindakan medis awal untuk menstabilkan suhu tubuhnya agar tidak jatuh ke kondisi hipotermia yang lebih berat,” jelas Bergas.

Read Also

Mitos Ajian Welut Putih Runtuh: Kisah Pelarian Maling Motor Kudus yang Berakhir di Tangan Polisi

Mitos Ajian Welut Putih Runtuh: Kisah Pelarian Maling Motor Kudus yang Berakhir di Tangan Polisi

Beruntung, respons cepat dari tim gabungan berhasil menyelamatkan nyawa balita malang tersebut. Setelah kondisinya dinilai stabil, balita dan ayahnya dievakuasi turun ke Basecamp Perantunan untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Tangis yang Bukan Sekadar Dingin

Sebuah momen emosional terjadi saat balita tersebut kembali bertemu dengan ibunya di area parkir basecamp. Menariknya, tangisan histeris sang bocah langsung berhenti seketika saat melihat sosok ibunya. Dwi Purnomo mencatat bahwa tangisan anak tersebut kemungkinan besar bukan hanya karena rasa sakit atau dingin, melainkan karena rasa takut dan kerinduan pada sang ibu.

“Sebenarnya kondisinya tidak semenakutkan yang ramai di media sosial. Anak itu menangis karena mencari ibunya, dia ingin bertemu orang tuanya yang utuh,” pungkas Dwi.

Sayangnya, drama belum berakhir di sana. Pertemuan kembali pasangan suami istri tersebut di parkiran justru diwarnai cekcok lanjutan, hingga pengelola harus turun tangan untuk mengingatkan mereka agar lebih mengutamakan kesehatan dan kenyamanan sang anak dibandingkan ego pribadi. Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi para pegiat keselamatan pendakian bahwa kesiapan mental dan keharmonisan tim—termasuk keluarga—adalah kunci utama dalam menghadapi alam liar.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *