Komitmen PT GMM Blora: Meski Gagal Giling Tahun Ini, Tebu Petani Dijamin Tetap Terserap

Yeni Sartika | WartaLog
13 Apr 2026, 18:49 WIB
Komitmen PT GMM Blora: Meski Gagal Giling Tahun Ini, Tebu Petani Dijamin Tetap Terserap

WartaLog — Kabar kurang sedap menyelimuti sektor agroindustri di Kabupaten Blora. Pabrik Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) dipastikan tidak akan melakukan aktivitas penggilingan tebu pada musim giling tahun 2026 ini. Kendati demikian, pihak manajemen memberikan jaminan bahwa hasil panen para petani tebu lokal akan tetap diserap sepenuhnya.

Kepastian mengenai berhentinya operasional mesin giling ini ditegaskan oleh Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, usai menghadiri dialog intensif di Posko Perjuangan APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) Kecamatan Todanan, Senin (13/4/2026). Setyorini mengungkapkan bahwa kendala teknis pada mesin menjadi alasan utama di balik keputusan berat tersebut.

Terkendala Kerusakan Mesin dan Birokrasi Anggaran

Menurut Setyorini, kondisi mesin di pabrik gula PT GMM saat ini mengalami kerusakan serius yang tidak memungkinkan untuk dipaksakan beroperasi. Mengingat PT GMM merupakan anak perusahaan dari Perum Bulog, maka proses perbaikan infrastruktur pabrik harus bergantung pada kucuran dana dari APBN.

Read Also

Kedok Investasi Bodong KSP Tunas Harapan Temanggung Terbongkar: Modus Bunga Tinggi Hingga Skema Ponzi Rp 9 Miliar

Kedok Investasi Bodong KSP Tunas Harapan Temanggung Terbongkar: Modus Bunga Tinggi Hingga Skema Ponzi Rp 9 Miliar

“Jawaban resminya sudah tegas, PT GMM tidak giling tahun ini. Kita harus realistis karena anggaran negara tidak bisa cair secara instan, ada proses birokrasi yang harus dilalui. Saya percaya pemerintah sedang mengupayakan solusi terbaik,” ujar Setyorini di hadapan para petani.

Ia juga menekankan bahwa prioritas saat ini adalah memastikan kesejahteraan petani tidak terganggu. Para petani menuntut agar hasil panen mereka pada bulan Mei 2026 mendatang dapat dibeli 100 persen dengan harga yang sesuai dengan standar ketetapan pemerintah.

Skenario Pengalihan Tebu dan Beban Biaya Angkut

Menanggapi situasi ini, Ketua APTRI Blora, Sunoto, menyatakan bahwa pihak petani sebenarnya sudah mengendus tanda-tanda berhenti beroperasinya pabrik sejak lama. Namun, fokus utama mereka saat ini adalah menagih janji Direktur Utama Bulog terkait penyerapan hasil bumi.

Read Also

Waspada Cuaca Ekstrem Jateng Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dari Slawi hingga Batang

Waspada Cuaca Ekstrem Jateng Hari Ini: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat dari Slawi hingga Batang

“Tuntutan kami sederhana: beli tebu kami sesuai harga pemerintah. Berdasarkan hasil dialog, nantinya tebu dari Blora akan dikirim ke pabrik gula lain. Kami juga menegaskan bahwa petani tidak mau dibebani ongkos kirim tambahan atau sistem franco,” tegas Sunoto. Dalam skema ini, petani hanya bertanggung jawab mengirim tebu hingga ke lokasi PT GMM, sementara distribusi ke pabrik rekanan menjadi tanggung jawab perusahaan.

Langkah Darurat PT GMM

Di sisi lain, calon Direktur Operasional PT GMM, Andin Cholid, mengakui bahwa pihaknya tengah bekerja keras mencari jalan keluar agar tebu petani tidak telantar di lahan. Ia mengonfirmasi bahwa skema pengalihan (detasering) ke PG lain menjadi opsi paling masuk akal saat ini.

Read Also

Tragedi di Purbalingga: Balita Meninggal Dunia Akibat Tersedak Jeli, Polisi Beri Peringatan Keras

Tragedi di Purbalingga: Balita Meninggal Dunia Akibat Tersedak Jeli, Polisi Beri Peringatan Keras

“Fokus jangka pendek kami adalah menyelamatkan tebu petani. Kami sedang mengupayakan agar tebu yang biasanya digiling di sini bisa diterima di PG lain dengan koordinasi yang matang. Terkait biaya angkut tambahan, kami masih menghitung dan mencari formula agar tidak merugikan petani maupun perusahaan,” jelas Andin.

Riwayat kerusakan mesin di PT GMM sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak Mei 2025, khususnya pada bagian mesin boiler. Meski sempat dilakukan upaya perbaikan dan sempat menggiling pada September 2025, kerusakan kembali terjadi yang memaksa pabrik tutup lebih awal dari jadwal yang direncanakan. Kini, harapan besar disandarkan pada percepatan anggaran negara agar salah satu aset industri vital di Blora ini tidak terbengkalai dan bisa kembali beroperasi normal di masa mendatang.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *