Hasyim Asy’ari ‘Bernostalgia’ di MK: Dari Guyonan Malaikat Munkar-Nakir hingga Polemik Ijazah Gibran

Akbar Silohon | WartaLog
02 Okt 2026, 07:17 WIB
Hasyim Asy’ari ‘Bernostalgia’ di MK: Dari Guyonan Malaikat Munkar-Nakir hingga Polemik Ijazah Gibran

WartaLog — Suasana ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) yang biasanya kaku dan dipenuhi perdebatan hukum yang berat, seketika mencair pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Kehadiran sosok Hasyim Asy’ari, mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), di kursi saksi menjadi magnet tersendiri bagi delapan hakim konstitusi yang memimpin jalannya persidangan. Bukan sekadar memberikan kesaksian teknis, kehadiran Hasyim justru memicu serangkaian interaksi jenaka yang menyentuh sisi humanis, bahkan membawa-bawa urusan akhirat ke dalam ruang sidang yang terhormat tersebut.

Sidang lanjutan perkara nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 ini berfokus pada gugatan terkait keabsahan ijazah Gibran Rakabuming Raka. Namun, di tengah keseriusan substansi hukum yang dibahas, momen-momen unik muncul saat para hakim menyapa Hasyim yang kini hadir bukan lagi sebagai pemimpin lembaga penyelenggara pemilu, melainkan sebagai saksi ahli dari pihak termohon. Interaksi ini seolah menunjukkan bahwa di balik sengketa pilpres yang panas, terdapat hubungan profesional yang tetap cair di antara para pengadil dan penyelenggara.

Read Also

Sinyal Kuat Jokowi Berlabuh ke PSI: Makna di Balik Jaket Merah dan Peran ‘Bapak Ideologis’

Sinyal Kuat Jokowi Berlabuh ke PSI: Makna di Balik Jaket Merah dan Peran ‘Bapak Ideologis’

Kelakar Arsul Sani: Pertanyaan Sidang vs Pertanyaan Malaikat

Momen paling ikonik dimulai ketika Hakim Konstitusi Arsul Sani mendapatkan giliran untuk bertanya. Bukannya langsung menghujam dengan pertanyaan hukum, Arsul justru mengawali dengan menanyakan kabar kesehatan Hasyim. Dengan nada setengah berseloroh, Arsul membandingkan tekanan di ruang sidang MK dengan ujian yang jauh lebih berat di alam barzakh.

“Sehat Pak Hasyim ya? Walaupun pertanyaannya berat-berat, saya yakin ini masih jauh lebih ringan daripada pertanyaan Munkar dan Nakir di alam kubur nanti, Pak Hasyim. Anggap saja ini pemanasan saja lah, pada akhirnya nanti kita semua akan ditanya Munkar-Nakir,” ujar Arsul yang disambut tawa tipis dari peserta sidang. Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa segala tanggung jawab jabatan di dunia, termasuk dalam mengelola Pemilu 2024, pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Read Also

Guncangan Dahsyat di Pakuwon City Surabaya: Ledakan Misterius Hancurkan Bangunan dan Kendaraan di Kawasan Elite

Guncangan Dahsyat di Pakuwon City Surabaya: Ledakan Misterius Hancurkan Bangunan dan Kendaraan di Kawasan Elite

Tak ingin ketinggalan, pimpinan sidang, Hakim Saldi Isra, langsung menyambar kelakar tersebut. Saldi menyinggung latar belakang organisasi keagamaan yang sama antara para tokoh di ruang sidang tersebut. “Soal Munkar-Nakir, itu biarlah urusan Nahdliyin. Ini Nahdliyin, itu Nahdliyin juga. Itu nanti diselesaikan secara adat saja Pak Hasyim yang kayak-kayak begitu. Susah kita mengurus yang soal begitu di sini,” ucap Saldi, merujuk pada tradisi keagamaan yang kental di kalangan warga NU, yang memicu gelak tawa lebih keras di ruang sidang Mahkamah Konstitusi.

Transformasi Fisik Hasyim: Antara Beban Kerja dan Kehidupan Baru

Selain urusan ‘langit’, para hakim juga menyoroti perubahan fisik Hasyim Asy’ari. Hakim Enny Nurbaningsih memperhatikan bahwa penampilan Hasyim tampak jauh lebih kurus dibandingkan saat ia masih menjabat sebagai Ketua KPU yang penuh tekanan. Pertanyaan Enny pun menjurus pada spekulasi apakah Hasyim sedang banyak pikiran atau justru sebaliknya.

Read Also

Tensi Tinggi di Teluk: Iran Tuding Rudal Patriot AS Sebagai Dalang Kerusakan Bandara Kuwait

Tensi Tinggi di Teluk: Iran Tuding Rudal Patriot AS Sebagai Dalang Kerusakan Bandara Kuwait

“Pak Hasyim, sudah lama tidak ketemu Pak Hasyim ini. Pak Hasyim kok tambah kurus kayaknya? Banyak pikiran ya Pak?” tanya Enny dengan nada peduli. Namun, jawaban Hasyim justru tak terduga. Dengan raut wajah yang tampak lebih tenang, ia menjawab singkat, “Justru sekarang tanpa beban Bu, justru.” Jawaban ini menegaskan bahwa lepasnya tanggung jawab besar dari pundaknya memberikan ruang bagi dirinya untuk lebih rileks, meski harus tetap berurusan dengan gugatan ijazah Gibran sebagai saksi.

Pujian juga datang dari Hakim Adies Kadir yang menilai Hasyim justru terlihat lebih awet muda. Adies menyebut Hasyim sebagai ‘bintang’ dalam persidangan malam itu. “Saya ini mau ke Pak Hasyim juga nih, biar jadi bintang malam ini. Kalau tadi Bu Prof Enny bilang tambah kurus, saya bilang tambah muda beliau nih,” tutur Adies, menambah daftar sanjungan sekaligus candaan yang diarahkan kepada mantan bos KPU tersebut.

Taktik KPU dan Fokus Utama Persidangan

Di balik suasana yang penuh tawa, Hakim Saldi Isra sempat melontarkan analisis menarik mengenai strategi KPU dalam menghadirkan Hasyim. Menurut Saldi, kehadiran Hasyim mungkin merupakan ‘taktik’ dari Ketua KPU saat ini, Mochammad Afifuddin, untuk mengalihkan sorotan dan pertanyaan tajam kepada pendahulunya. Hasyim dianggap lebih menguasai detail kronologis terkait penetapan calon dan verifikasi dokumen pendidikan yang menjadi inti persoalan.

“Sebelum dijawab, ini Pak Hasyim paling populer nih malam ini. Ini taktiknya Pak Afif juga, karena kemarin dia itu banyak yang ditanya, sudah Pak Hasyim saja didorong ke depan katanya, supaya serangan ke dia pindah ke Pak Hasyim,” imbuh Saldi, memberikan gambaran mengenai dinamika internal di lembaga penyelenggara pemilu tersebut dalam menghadapi perselisihan hasil pemilu.

Gugatan Denny Indrayana: Mencari Kebenaran Yuridis

Meski diwarnai banyak candaan, substansi perkara yang dibawa oleh Denny Indrayana bersama 11 pemohon lainnya bukanlah perkara main-main. Para pemohon, yang terdiri dari tokoh-tokoh seperti Fachrul Razi, Tyasno Sudarto, hingga Soenarko, menuntut agar Mahkamah melakukan pengujian mendalam terhadap keabsahan pendidikan Gibran Rakabuming Raka.

Daftar lengkap pemohon dalam perkara ini antara lain:

  • Brahma Aryana
  • Ansufri ID Sambo
  • Denny Indrayana
  • Fachrul Razi
  • Tyasno Sudarto
  • Slamet Soebijanto
  • Hanafie Asnan
  • Soenarko MD
  • drg. Moeryono
  • H.M. Subhan
  • Bonatua Silalahi
  • Dra. Tiurma M.S. Sihombing

Pemohon berargumen bahwa informasi mengenai ketidakcukupan syarat pendidikan Gibran baru terkuak secara luas belakangan ini dan diduga sempat tertutup rapat dari publik. Mereka menuntut keadilan agar fakta-fakta yuridis terkait pendidikan sang Wakil Presiden terpilih dapat diuji secara transparan dan akuntabel di hadapan hukum. Jika terbukti tidak memenuhi syarat, para pemohon mendesak MK untuk berani mengambil langkah diskualifikasi demi menjaga integritas konstitusi.

“Para Pemohon hanya memohon kesempatan yang adil agar kebenaran yuridis mengenai pemenuhan persyaratan pendidikan Gibran Rakabuming Raka dapat diuji melalui persidangan pembuktian yang terbuka dan imparsial,” pungkas pihak pemohon dalam risalah persidangan. Dengan kehadiran Hasyim Asy’ari yang membawa kembali detail-detail administrasi masa jabatannya, publik kini menanti apakah ‘bintang malam itu’ mampu memberikan klarifikasi yang tuntas atau justru membuka celah hukum baru dalam sengketa ini.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *