Satu Dekade Kemitraan Strategis: Bamsoet Ajak Pengusaha Jiangxi Jadikan Indonesia Basis Produksi Global

Akbar Silohon | WartaLog
13 Sep 2026, 13:17 WIB
Satu Dekade Kemitraan Strategis: Bamsoet Ajak Pengusaha Jiangxi Jadikan Indonesia Basis Produksi Global

WartaLog — Dalam sebuah momentum penting yang menandai sepuluh tahun jalinan kemitraan antara Indonesia dan Provinsi Jiangxi, Tiongkok, atmosfer diplomasi ekonomi di Jakarta terasa kian hangat. Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, secara resmi menghadiri perhelatan akbar bertajuk 10th Anniversary and International Business Gala Dinner yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengusaha Jiangxi Indonesia. Kehadiran tokoh nasional ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah sinyal kuat bagi penguatan investasi asing yang lebih berkualitas di tanah air.

Dalam pidatonya yang sarat akan visi masa depan, Bamsoet menekankan bahwa relasi yang telah terbina selama satu dekade ini harus segera bertransformasi. Ia mendorong agar pola hubungan ekonomi tidak lagi terjebak dalam rutinitas transaksi perdagangan konvensional atau sekadar perluasan jejaring bisnis semata. Menurutnya, sudah saatnya kedua belah pihak melangkah menuju tahap business matching yang lebih presisi, kolaborasi industri yang mendalam, serta penguatan rantai pasok global yang mampu menciptakan nilai tambah signifikan bagi rakyat Indonesia.

Read Also

Babak Baru Perlindungan Domestik: Bedah Lengkap Hak dan Kewajiban dalam UU PPRT yang Baru Disahkan

Babak Baru Perlindungan Domestik: Bedah Lengkap Hak dan Kewajiban dalam UU PPRT yang Baru Disahkan

Transformasi Paradigma: Dari Konsumen Menjadi Produsen

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan Bamsoet adalah mengenai ketimpangan neraca perdagangan. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar US$67,04 miliar. Namun, di sisi lain, angka impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut masih mendominasi dengan nilai mencapai US$87,54 miliar. Defisit perdagangan yang menyentuh angka US$20,50 miliar ini dipandang Bamsoet bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang besar untuk menata ulang strategi kerjasama ekonomi.

“Besarnya angka impor menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan dan keterhubungan ekonomi kita. Namun, ini juga menjadi pengingat yang sangat serius bahwa kualitas kerja sama kita harus ditingkatkan. Kita tidak ingin Indonesia hanya terus-menerus menjadi pasar bagi produk-produk dari Jiangxi,” tegas Bamsoet dalam keterangan resminya. Ia mengusung visi besar di mana orientasi perdagangan harus bergeser dari slogan ‘China sells to Indonesia’ menjadi ‘China and Indonesia produce together in Indonesia’.

Read Also

Kabar Baik dari Selat Sunda: Analisis Mendalam di Balik Menjauhnya Abu Vulkanik Anak Krakatau dari Langit Indonesia

Kabar Baik dari Selat Sunda: Analisis Mendalam di Balik Menjauhnya Abu Vulkanik Anak Krakatau dari Langit Indonesia

Visi ini menempatkan Indonesia sebagai production base atau basis produksi utama, bukan sekadar penonton di pasar sendiri. Bamsoet menginginkan agar barang-barang modal dan bahan baku dari Jiangxi masuk ke Indonesia untuk diolah, dirakit, dan diproduksi di pabrik-pabrik lokal, sehingga menciptakan lapangan kerja dan transfer teknologi yang nyata bagi tenaga kerja domestik.

Menyelami Potensi Industri Jiangxi dan Kebutuhan Nasional

Provinsi Jiangxi dikenal memiliki basis industri yang sangat tangguh di Tiongkok, khususnya dalam bidang konstruksi, manufaktur berat, hingga teknologi material. Di sisi lain, Indonesia saat ini sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur nasional, mulai dari jalan tol, pelabuhan modern, kawasan industri terintegrasi, hingga perumahan rakyat dan transportasi berbasis digital. Ketimpangan kebutuhan dan keahlian ini justru menjadi ruang kolaborasi yang sempurna.

Read Also

Skandal Izin Tinggal WNA: Silmy Karim Dicecar KPK Soal Koleksi Mewah di Brawijaya dan Jejak ‘Bos Kampung Rusia’

Skandal Izin Tinggal WNA: Silmy Karim Dicecar KPK Soal Koleksi Mewah di Brawijaya dan Jejak ‘Bos Kampung Rusia’

“Kita memiliki apa yang disebut sebagai complementary economies. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan pasar yang luas, sementara Jiangxi memiliki modal, teknologi canggih, serta pengalaman dalam engineering dan pengembangan industri berskala besar. Di sinilah sinergi harus diperkuat,” lanjut Ketua DPR RI ke-20 tersebut. Ia menambahkan bahwa pembangunan pabrik melalui skema joint venture dan pemanfaatan local sourcing harus menjadi syarat mutlak dalam setiap investasi yang masuk.

Selain pembangunan fisik, Bamsoet juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Dengan adanya pusat penelitian bersama, produk-produk hasil kerja sama Indonesia-Jiangxi diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga mampu merambah pasar ASEAN yang sangat dinamis. Hal ini selaras dengan posisi strategis Indonesia sebagai pemimpin ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Hilirisasi dan Ekosistem Kendaraan Listrik: Masa Depan Hijau

Sebagai Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia, Bamsoet sangat menyadari bahwa masa depan ekonomi dunia terletak pada ekonomi hijau dan keberlanjutan. Dalam konteks ini, ia mendorong Jiangxi untuk terlibat aktif dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Indonesia memiliki posisi tawar yang sangat tinggi berkat cadangan nikel dan mineral strategis lainnya yang menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik.

Namun, Bamsoet menegaskan bahwa kerja sama di sektor ini tidak boleh berhenti pada tahap penambangan saja. Harus ada integrasi dari hulu hingga ke hilir. Pengolahan sumber daya, pembuatan sel baterai, perakitan unit kendaraan, hingga pengelolaan limbah baterai harus dilakukan di dalam negeri. Jiangxi, dengan kapasitas manufaktur alat elektrik dan teknologi hijaunya, diharapkan mampu membawa standar teknologi terbaru ke Indonesia.

“Investasi masa depan adalah investasi yang ramah lingkungan. Kita berbicara tentang efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan penerapan ekonomi sirkular. Investasi dari Jiangxi harus memenuhi standar ini agar manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang,” imbuh politisi senior Partai Golkar tersebut.

Menuju Investasi Berkualitas dan Kesejahteraan Bersama

Menutup pemaparannya, Bamsoet menekankan bahwa Indonesia senantiasa terbuka bagi para investor global, termasuk dari Provinsi Jiangxi. Namun, kriteria investasi yang diinginkan pemerintah adalah investasi yang berkualitas dan beretika. Investasi tersebut harus mampu menciptakan nilai tambah lokal (local value creation), menghormati supremasi hukum (rule of law), serta memberikan kontribusi nyata bagi pemberdayaan masyarakat lokal.

“Prinsip kita sangat jelas, yaitu mutual benefit atau keuntungan bersama. Kita ingin setiap dolar yang diinvestasikan di sini juga berarti satu langkah maju bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Dengan semangat shared prosperity, kita yakin hubungan RI-Jiangxi akan semakin kokoh di dekade-dekade mendatang,” pungkas Bamsoet.

Acara gala dinner tersebut pun diakhiri dengan komitmen kuat dari para pengusaha Jiangxi untuk terus mengeksplorasi peluang di berbagai sektor strategis Indonesia. Kehadiran Bamsoet dalam acara ini seolah menjadi jembatan diplomasi yang mempererat hubungan antarbangsa, sekaligus memastikan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional tetap pada jalur kemandirian dan kemajuan industri yang kompetitif di kancah internasional.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *