Menembus Kedalaman Jakarta: Menilik Masa Depan ‘Kota Bawah Tanah’ di Kawasan Bundaran HI
WartaLog — Di jantung Jakarta, di mana deru mesin dan hiruk-pikuk manusia tak pernah benar-benar terlelap, sebuah revolusi sedang terjadi secara perlahan namun pasti. Bundaran HI, yang selama ini dikenal sebagai ikon kemegahan di permukaan tanah, kini sedang mempersiapkan ‘diri’ untuk sebuah transformasi besar. Bukan lagi sekadar tentang gedung pencakar langit yang meruncing ke awan, melainkan tentang apa yang ada di bawah kaki jutaan komuter yang setiap hari melintasi kawasan ini.
Jakarta sedang membangun masa depannya di kedalaman tanah. Di balik dinding-dinding beton yang kokoh di bawah Jalan MH Thamrin, sebuah konsep ruang baru bernama Extended Concourse sedang dirajut. Ini bukan sekadar lorong penghubung biasa, melainkan sebuah narasi baru tentang bagaimana sebuah kota metropolitan menghargai waktu dan kenyamanan warganya melalui optimalisasi transportasi Jakarta yang terintegrasi.
Kebangkitan Sumur Tua: Strategi Pertamina EP Limau Menggenjot Produksi Gas Hingga 6,7 MMSCFD
Lebih dari Sekadar Tempat Transit: Visi Ruang Multifungsi
Selama puluhan tahun, warga Jakarta terbiasa dengan mobilitas yang melelahkan. Panas terik matahari atau siraman hujan deras seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang harus berpindah dari satu gedung ke gedung lain atau dari stasiun ke moda transportasi berikutnya. Namun, WartaLog melihat bahwa paradigma ini akan segera bergeser. Proyek Extended Concourse di Bundaran HI dirancang untuk menjadi jawaban atas dahaga akan kenyamanan tersebut.
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Yulham Ferdiansyah Roestam, mengungkapkan sebuah visi yang ambisius. Baginya, ruang bawah tanah ini harus mampu mengubah persepsi orang tentang transit. “Extended Concourse harus bisa mengubah ruang transit jadi ruang multifungsi untuk melayani orang-orang yang bergerak,” ujarnya saat memberikan penjelasan di kantor PT MRT Jakarta. Kalimat ini menegaskan bahwa masa depan Jakarta tidak lagi hanya tentang bergerak secepat mungkin, tetapi tentang bagaimana menikmati setiap detik dalam pergerakan tersebut.
10 Kandidat Direktur PT Bumi Siak Pusako Lolos Seleksi Administrasi, Siap Bertarung di Tahap UKK Jakarta
Dengan luas mencapai 4.439 meter persegi, area ini akan menjadi pusat gravitasi baru. Bayangkan sebuah ruang yang luas, sejuk, dan modern, di mana 24 area multifungsi telah disiapkan. Area-area ini tidak akan dibiarkan kosong; mereka akan diisi oleh gerai ritel pilihan, pusat makanan dan minuman (F&B), hingga ruang-ruang aktivitas gaya hidup yang dinamis. Ini adalah upaya untuk menciptakan ekosistem urban yang mandiri di bawah tanah.
Transformasi Budaya: Dari ‘Grab-and-Go’ Menjadi Destinasi
Ada perubahan menarik dalam cara MRT Jakarta mendekati penggunanya. Jika pada pembangunan fase pertama fokus utamanya adalah membentuk kebiasaan grab-and-go—di mana penumpang hanya singgah sebentar untuk membeli kebutuhan cepat lalu pergi—maka Extended Concourse Bundaran HI menawarkan sesuatu yang berbeda. Ruang ini dirancang agar orang merasa betah dan ingin bertahan lebih lama.
IHSG Tembus Level Psikologis 6.500: Bedah Aturan Baru Harga Saham Rp1 dan Proyeksi Cuan Emiten Kakap
Konsep yang diusung adalah one-stop shopping destination. WartaLog mengamati bahwa strategi ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat urban saat ini yang menginginkan efisiensi tanpa mengorbankan pengalaman. Di sini, perjalanan tidak lagi menjadi beban waktu yang terbuang antara titik A ke titik B. Langkah kaki yang semula terburu-buru, nantinya bisa melambat untuk sekadar menikmati secangkir kopi, melihat koleksi pakaian terbaru di gerai ritel, atau bertemu dengan rekan bisnis di tengah jalur mobilitas urban.
Menghubungkan Titik-Titik Emas Ibu Kota
Salah satu aspek paling mengesankan dari proyek ini adalah bagaimana ia menjahit konektivitas antar gedung-gedung prestisius di kawasan Bundaran HI. Selama ini, gedung-gedung mewah tersebut seolah berdiri sendiri, dipisahkan oleh sungai aspal yang padat kendaraan. Dengan adanya jaringan bawah tanah ini, batasan-batasan fisik tersebut akan luruh.
Bayangkan Anda baru saja turun dari kereta MRT. Alih-alih harus naik ke permukaan dan menyeberangi jalan yang sibuk, Anda cukup berjalan menyusuri concourse yang nyaman. Di sisi barat, sebuah akses eksklusif sedang disiapkan untuk langsung menembus Plaza Indonesia dan Hotel Grand Hyatt. Sementara di sisi timur, langkah kaki Anda akan dituntun menuju Wisma Nusantara dan Hotel Pullman.
“Nanti pada saat mereka sudah siap, mereka bangun, mereka tinggal menurunkan knockdown panel-nya dan langsung tersambung,” jelas Yulham memberikan gambaran teknis yang sederhana namun revolusioner. Kemudahan ini tidak berhenti sampai di situ. Fasilitas pendukung seperti tangga, lift, hingga eskalator telah disiapkan dengan matang di setiap titik akses, memastikan inklusivitas bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penyandang disabilitas.
Jejaring Bawah Tanah: Menuju Konektivitas Paripurna
Rencana besar yang dikelola oleh WartaLog melalui data-data yang terkumpul menunjukkan bahwa integrasi ini akan terus meluas. Ke depannya, Hotel Mandarin Oriental, Grand Indonesia, hingga Hotel Kempinski diharapkan akan menjadi bagian dari ekosistem bawah tanah ini. Jika seluruh rencana ini terealisasi, Bundaran HI akan memiliki jaringan pejalan kaki bawah tanah yang menghubungkan empat hotel mewah utama di jantung kota.
Konektivitas ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan mendesak mengingat lonjakan jumlah penumpang yang diprediksi akan terjadi. Saat ini, Stasiun MRT Bundaran HI melayani sekitar 11.000 pengguna setiap harinya. Namun, dengan perpanjangan rute menuju Thamrin dan Monas yang sedang berjalan, diproyeksikan akan ada tambahan 6.000 penumpang baru yang akan memadati stasiun tersebut. Ruang yang luas dan terintegrasi menjadi kunci utama untuk mencegah kepadatan yang berlebihan dan memastikan kenyamanan pejalan kaki tetap terjaga.
Investasi Besar untuk Masa Depan Jakarta
Membangun di bawah tanah tentu memiliki tantangan teknis dan finansial yang jauh lebih kompleks dibandingkan membangun di permukaan. Di tengah kepadatan struktur bangunan dan jaringan utilitas kota, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) harus bekerja dengan presisi tinggi. Untuk mewujudkan ‘kota kecil’ di bawah tanah ini, diperlukan investasi yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp 200 miliar.
Dana tersebut bersumber dari skema Koefisien Lantai Bangunan (KLB), sebuah instrumen kebijakan tata ruang yang memungkinkan pengembang untuk meningkatkan intensitas bangunan dengan kompensasi berupa penyediaan infrastruktur publik. Ini adalah contoh sinergi yang cerdas antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
Akhirnya, Bundaran HI bukan lagi sekadar tempat melintas. Melalui proyek Extended Concourse ini, Jakarta sedang membuktikan bahwa ia mampu bertransformasi menjadi kota global yang setara dengan Tokyo atau Singapura dalam hal manajemen ruang bawah tanah. Ini adalah langkah kaki pertama menuju Jakarta yang lebih ramah pejalan kaki, lebih terintegrasi, dan tentu saja, lebih manusiawi. Selamat datang di masa depan Jakarta, di mana keindahan kota kini bisa dinikmati hingga jauh di bawah permukaan jalanan MH Thamrin.