Langit Kelabu Karhutla: Maskapai Keluhkan Lonjakan Biaya Operasional dan Ancaman Keselamatan Udara

Citra Lestari | WartaLog
28 Agu 2026, 11:17 WIB
Langit Kelabu Karhutla: Maskapai Keluhkan Lonjakan Biaya Operasional dan Ancaman Keselamatan Udara

WartaLog — Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini bukan sekadar isu lingkungan yang berulang setiap tahun. Bagi industri penerbangan tanah air, fenomena ini telah bertransformasi menjadi momok menakutkan yang mengancam stabilitas operasional dan finansial. Indonesia National Air Carriers Association (INACA), sebagai wadah para pengusaha maskapai nasional, mulai menyuarakan kegelisahan mereka terkait dampak hebat yang ditimbulkan oleh asap karhutla di berbagai wilayah Indonesia.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menegaskan bahwa jika penanganan karhutla tidak segera diakselerasi, konektivitas udara nasional terancam lumpuh. Ia mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam menangani titik api di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Namun, Denon mengingatkan bahwa efisiensi waktu adalah kunci utama agar roda perekonomian melalui jalur udara tetap bisa berputar tanpa hambatan berarti.

Read Also

Misi Besar Kedaulatan Pangan: Pemerintah Targetkan Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029

Misi Besar Kedaulatan Pangan: Pemerintah Targetkan Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih hingga 2029

Dampak Domino: Dari Delay Hingga Pembatalan Massal

Asap tebal yang menyelimuti area bandara menciptakan kendala teknis yang serius bagi para pilot. Salah satu masalah paling krusial adalah penurunan jarak pandang atau visibility yang drastis. Ketika jarak pandang berada di bawah standar keselamatan, pilot terpaksa melakukan prosedur holding atau berputar-putar di udara menunggu kepulan asap menipis sebelum mendarat.

“Kondisi ini memicu efek berantai yang sangat merugikan. Satu pesawat yang terlambat mendarat di Kalimantan, misalnya, akan merusak jadwal penerbangan pesawat yang sama di bandara-bandara lainnya sepanjang hari itu,” ungkap Denon. Dalam skenario terburuk, maskapai tidak memiliki pilihan lain selain melakukan pengalihan pendaratan (divert) atau bahkan pembatalan penerbangan demi menjaga aspek keselamatan.

Read Also

Membangun Kemandirian Energi dari Limbah: Jakarta Kembali Hidupkan Proyek ITF Sunter Senilai Rp 5,3 Triliun

Membangun Kemandirian Energi dari Limbah: Jakarta Kembali Hidupkan Proyek ITF Sunter Senilai Rp 5,3 Triliun

Selain tantangan bagi pilot, petugas Air Traffic Control (ATC) juga harus bekerja ekstra keras. Untuk meminimalisir risiko tabrakan atau insiden di tengah keterbatasan pandangan, ATC terpaksa menambah jarak pemisahan (separation distance) antar pesawat. Meskipun langkah ini sangat diperlukan untuk keselamatan penerbangan, konsekuensinya adalah kepadatan lalu lintas udara yang berujung pada keterlambatan jadwal terbang secara masal.

Ancaman Tak Terlihat: Debu Silika dan Kerusakan Mesin

Banyak yang mengira asap hanyalah gangguan visual, namun bagi jurnalis penerbangan yang mendalami aspek teknis, partikel di dalam asap adalah musuh dalam selimut. Partikel jelutong, abu, dan jelaga yang terbawa angin dapat masuk ke dalam turbin mesin pesawat. Partikel-partikel mikroskopis ini berpotensi mengotori filter udara dan mengendap pada komponen internal mesin yang panas.

Read Also

Badai MSCI: Dana Asing Terkuras Rp 1,5 Triliun dari Bursa Indonesia, IHSG Terpuruk

Badai MSCI: Dana Asing Terkuras Rp 1,5 Triliun dari Bursa Indonesia, IHSG Terpuruk

Lebih berbahaya lagi adalah risiko penyumbatan pada tabung pitot-static. Instrumen ini sangat sensitif dan berfungsi untuk mengukur kecepatan udara serta ketinggian pesawat. Jika tabung ini tersumbat oleh partikel asap, data yang diterima pilot bisa tidak akurat, yang merupakan kondisi sangat berbahaya dalam dunia transportasi udara. Selain itu, paparan terus-menerus terhadap material kasar dari asap karhutla dapat mempercepat proses keausan komponen mesin, yang berarti biaya perawatan jangka panjang akan melonjak tajam.

Pembengkakan Biaya Operasional yang Mencekik Maskapai

Setiap menit tambahan yang dihabiskan pesawat untuk melakukan holding di udara berarti konsumsi bahan bakar (avtur) yang lebih banyak. Lonjakan biaya bahan bakar ini menjadi beban tambahan yang signifikan bagi manajemen maskapai. Namun, kerugian finansial tidak berhenti sampai di situ saja.

Berdasarkan laporan internal INACA, maskapai harus menanggung biaya kompensasi keterlambatan bagi penumpang sesuai regulasi yang berlaku. Jika penerbangan dibatalkan, perusahaan wajib melakukan proses refund atau pengembalian dana tiket secara penuh. Belum lagi kerumitan dalam mengatur ulang rotasi kru pesawat atau flight crew scheduling yang menjadi berantakan akibat gangguan jadwal di satu titik bandara.

“Kami berada dalam situasi di mana pengeluaran operasional naik tajam, sementara pendapatan justru terganggu akibat pembatalan. Ini adalah tekanan ganda bagi industri yang sedang berupaya pulih sepenuhnya,” tambah Denon.

Kesehatan Penumpang dan Psikologi Perjalanan

Sektor kesehatan juga menjadi sorotan tajam. Asap pekat yang masuk ke area terminal hingga ke dalam kabin pesawat saat pintu terbuka dapat mengganggu pernapasan penumpang. Wisatawan maupun pebisnis kini mulai merasa khawatir untuk bepergian ke wilayah-wilayah yang terdampak karhutla, yang secara langsung memukul sektor pariwisata daerah.

Ketidakpastian jadwal juga merusak pengalaman perjalanan. Penumpang yang memiliki kepentingan mendesak, seperti urusan medis atau bisnis, seringkali harus menanggung kerugian waktu dan materi akibat penerbangan delay yang tidak terduga. Hal ini menciptakan citra negatif bagi keandalan layanan transportasi udara nasional di mata publik.

Memetakan Wilayah Paling Terdampak Karhutla

Data yang dihimpun INACA menunjukkan penyebaran gangguan penerbangan yang cukup merata di beberapa wilayah strategis. Berikut adalah rincian bandara yang mengalami kendala signifikan:

  • Kalimantan Barat: Bandara Supadio di Pontianak dan Bandara Singkawang mencatat lebih dari 21 penerbangan bermasalah. Jarak pandang yang sering berada di bawah 1.000 meter memaksa pembatalan dan pengalihan penerbangan secara masif.
  • Kalimantan Tengah: Bandara Iskandar di Pangkalan Bun mengalami keterlambatan jadwal yang cukup sering akibat kabut asap yang menutup landasan pacu secara periodik.
  • Kalimantan Selatan: Kondisi ekstrem terjadi di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Jarak pandang sempat menyusut hingga hanya 200 meter, sebuah kondisi yang nyaris mustahil bagi operasional pendaratan normal.
  • Sumatera: Bandara Sultan Thaha Saifuddin di Jambi melaporkan jarak pandang turun hingga 800 meter, memaksa banyak pesawat melakukan prosedur holding yang lama sebelum mendarat.
  • Papua: Gangguan juga merambah ke timur Indonesia, tepatnya di Bandara Douw Aturure, Nabire, di mana asap kebakaran hutan mulai menghambat mobilitas warga lokal.

Menanti Solusi Konkret dari Pemerintah

Menghadapi krisis musiman ini, INACA mendesak adanya koordinasi yang lebih erat antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BNPB, dan kementerian terkait. Penanganan dari hulu—yakni pencegahan pembakaran hutan secara ilegal—harus diperketat. Di sisi hilir, teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan buatan perlu terus digencarkan untuk menyapu bersih polusi asap.

Industri penerbangan adalah tulang punggung ekonomi nasional Indonesia sebagai negara kepulauan. Gangguan pada sektor ini bukan hanya masalah bagi pengusaha maskapai, melainkan masalah bagi seluruh rakyat yang mengandalkan kecepatan dan efisiensi udara untuk terhubung dari satu pulau ke pulau lainnya. WartaLog akan terus memantau perkembangan situasi ini hingga langit Indonesia kembali cerah dan aman untuk dijelajahi.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *