Kritik Tajam Komeng Soal Program Makan Bergizi Gratis: Kebijakan Presiden Bagus, Pelaksananya yang Bermasalah

Citra Lestari | WartaLog
14 Agu 2026, 13:18 WIB
Kritik Tajam Komeng Soal Program Makan Bergizi Gratis: Kebijakan Presiden Bagus, Pelaksananya yang Bermasalah

WartaLog — Sebuah kebijakan besar sering kali bukan diuji dari seberapa brilian ide dasarnya, melainkan dari seberapa tangguh eksekusinya di lapangan. Hal inilah yang menjadi sorotan tajam Alfiansyah, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Komeng, saat menanggapi keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Komeng, yang kini mengemban amanah sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, melontarkan pandangan kritis nan jenaka namun sarat makna mengenai potret birokrasi di tanah air.

Dalam pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Komeng memberikan apresiasi tinggi terhadap visi besar Presiden dalam upaya memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, ia tidak menutup mata terhadap realitas pahit bahwa seringkali niat baik di tingkat pusat terdistorsi ketika sampai ke tingkat implementasi. Ia menilai, akar masalah dari belum optimalnya berbagai program pemerintah sering kali bukan terletak pada konsepnya, melainkan pada integritas dan kompetensi para pelaksananya.

Read Also

Wajah Baru Dukuh Atas: Jembatan Cincin Donat Terintegrasi Enam Moda Transportasi Siap Rampung 2028

Wajah Baru Dukuh Atas: Jembatan Cincin Donat Terintegrasi Enam Moda Transportasi Siap Rampung 2028

Eksekusi di Lapangan Menjadi Pertaruhan Utama

Menurut Komeng, langkah Presiden Prabowo yang bertekad meneruskan program MBG adalah sebuah terobosan yang sangat positif. Namun, ia memberikan catatan tebal pada aspek sumber daya manusia yang menjalankan roda kebijakan tersebut. Bagi Komeng, secanggih apa pun sebuah sistem dirancang, keberhasilannya tetap bergantung pada tangan-tangan yang mengoperasikannya.

“Sebenarnya semua program Presiden itu bagus, cuma yang kerjanya saja pada nggak bener. Itu masalahnya,” ujar Komeng dengan gaya bicaranya yang khas di hadapan awak media. Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bagi pemerintah agar lebih selektif dan ketat dalam mengawasi jalannya kebijakan publik agar tidak bocor atau salah sasaran.

Read Also

Transformasi Kapal Rampasan: KKP Serahkan Tiga Eks Kapal Asing untuk Perkuat Nelayan Sulawesi Utara

Transformasi Kapal Rampasan: KKP Serahkan Tiga Eks Kapal Asing untuk Perkuat Nelayan Sulawesi Utara

Lebih lanjut, ia menaruh harapan besar pada kepemimpinan Sudaryono yang kini dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Komeng meyakini bahwa dengan kepemimpinan yang tepat dan pengawasan yang ketat, program MBG bisa berjalan sesuai dengan jalurnya. “Makanya mudah-mudahan yang sekarang, Pak Dar ya? Mudah-mudahan bagus dan bisa memperbaiki kekurangan yang ada,” tambahnya merujuk pada pimpinan baru di lembaga tersebut.

Melawan Stunting: Visi Besar Prabowo Menuju Indonesia Emas

Di sisi lain, urgensi dari program Makan Bergizi Gratis ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan bahwa penanganan stunting adalah prioritas nasional yang mendesak. Data menunjukkan bahwa satu dari empat anak di Indonesia mengalami stunting, sebuah kondisi yang bukan hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga merusak potensi perkembangan sel otak dan tulang secara permanen.

Read Also

Gebrak Ekonomi Semester II-2026: Intip Daftar Lengkap Stimulus Jumbo Pemerintahan Prabowo

Gebrak Ekonomi Semester II-2026: Intip Daftar Lengkap Stimulus Jumbo Pemerintahan Prabowo

Presiden Prabowo menyadari betul bahwa jika kondisi ini dibiarkan, masa depan bangsa akan terancam. Anak-anak yang mengalami stunting akan kesulitan bersaing di masa depan, bahkan untuk melakukan pekerjaan fisik sebagai buruh sekalipun, mereka mungkin tidak akan sanggup karena keterbatasan kapasitas fisik dan kognitif. Oleh karena itu, MBG bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi mendatang.

“Kita tidak boleh hanya berteriak bahwa satu dari empat anak kita stunting tanpa melakukan aksi nyata. Saya bertekad meneruskan MBG dengan berbagai perbaikan dan peningkatan efisiensi pengawasan,” tegas Presiden dalam pidatonya yang menggelegar di Kompleks Parlemen. Komitmen ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin program ini hanya menjadi seremonial belaka, melainkan sebuah gerakan masif yang berdampak nyata.

Korupsi Dana Gizi: Sebuah Tindakan ‘Biadab’

Satu hal yang paling disoroti oleh Presiden Prabowo adalah potensi kebocoran anggaran melalui praktik korupsi. Dengan nada bicara yang tegas dan penuh emosi, ia mengecam siapa pun yang mencoba bermain-main dengan anggaran yang diperuntukkan bagi asupan gizi anak-anak Indonesia. Baginya, mengambil hak anak-anak untuk mendapatkan makanan bergizi adalah tindakan yang melampaui batas kemanusiaan.

“Saya menilai mereka yang mau korupsi dari jatah makan untuk anak-anak ini adalah orang-orang biadab. Mereka tidak pantas kita hormati sama sekali karena tindakan tersebut sudah menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Prabowo. Peringatan keras ini diharapkan menjadi sinyal bagi seluruh jajaran birokrasi bahwa tidak akan ada ruang toleransi bagi para koruptor dalam program prioritas pemerintah ini.

Efisiensi dan transparansi menjadi kata kunci yang ditekankan untuk memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan negara benar-benar berubah menjadi protein dan vitamin di piring anak-anak sekolah. Presiden menjanjikan pengawasan berlapis, mulai dari tingkat pusat hingga ke pelosok desa, guna meminimalisir celah penyimpangan.

Sinergi MBG dengan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih

Selain fokus pada gizi, Komeng juga memberikan apresiasi pada keterkaitan antara program MBG dengan penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Menurutnya, jika kedua program ini dikolaborasikan dengan baik, dampaknya akan luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Program MBG bisa menjadi penyerap produk-produk pertanian dan peternakan lokal yang dikelola melalui koperasi desa. Dengan demikian, sirkulasi ekonomi tetap berputar di tingkat bawah, memberdayakan petani, dan memastikan bahan baku makanan tetap segar serta berkualitas. “Karena memang MBG bagus, Kopdes juga bagus, apalagi Komeng,” candanya yang disambut tawa oleh para jurnalis, namun tetap dengan esensi bahwa sinergi program adalah kunci keberhasilan.

Kopdes Merah Putih diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi di wilayah pedesaan, sehingga kemandirian pangan bisa dimulai dari unit terkecil masyarakat. Jika pasokan makanan bergizi diambil dari hasil bumi desa setempat, maka biaya logistik dapat ditekan dan kesegaran bahan pangan dapat lebih terjamin bagi anak-anak penerima manfaat.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme Terukur

Langkah besar telah diambil, dan dukungan dari berbagai pihak mulai mengalir. Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Perjalanan menuju Indonesia yang bebas stunting dan memiliki generasi yang kompetitif memerlukan napas panjang dan keteguhan hati dari semua elemen bangsa.

Kritik dari tokoh seperti Komeng harus dilihat sebagai pengingat sehat agar pemerintah tidak terlena dengan angka-angka di atas kertas. Realitas di lapangan, mulai dari distribusi di daerah terpencil hingga kejujuran para pelaksana di tingkat desa, adalah medan tempur yang sesungguhnya. Masyarakat kini menanti, apakah Visi Indonesia Emas 2045 dapat tercapai melalui piring-piring makanan bergizi yang jujur dan merata, ataukah kembali terganjal oleh mentalitas ‘nggak bener’ dari oknum-oknum pelaksananya.

Dengan adanya pengawasan ketat, komitmen anti-korupsi yang teguh, dan pelibatan masyarakat lokal melalui koperasi, harapan untuk melihat anak-anak Indonesia tumbuh bugar dan cerdas bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong. Semuanya kini kembali pada satu kata: konsistensi.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *