Tragedi Berdarah di Kampung Setu: Misteri Pembantaian 36 Kambing yang Menggegerkan Serang

Akbar Silohon | WartaLog
11 Agu 2026, 19:19 WIB
Tragedi Berdarah di Kampung Setu: Misteri Pembantaian 36 Kambing yang Menggegerkan Serang

WartaLog — Keheningan dini hari di Kampung Setu, Desa Sukajaya, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, mendadak berubah menjadi suasana mencekam yang menyisakan duka mendalam bagi para peternak lokal. Sebuah aksi kriminalitas yang tergolong sadis dan terorganisir baru saja terjadi, di mana puluhan ekor kambing milik warga ditemukan tergeletak tak bernyawa dalam kondisi sudah disembelih di area persawahan yang berlumpur.

Peristiwa yang memilukan ini menimpa seorang peternak bernama Surga. Sebanyak 36 ekor kambing dari total 46 ekor miliknya ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Para pelaku diduga sengaja menyembelih hewan-hewan ternak tersebut langsung di lokasi kejadian untuk memudahkan proses pengangkutan, namun entah karena alasan apa, puluhan bangkai kambing tersebut justru ditinggalkan begitu saja dalam barisan yang rapi di pematang sawah.

Read Also

Manuver Politik Jokowi ke NTT: Antara Jejak Pengabdian dan Sorotan Tajam PDIP Soal Isu Ijazah

Manuver Politik Jokowi ke NTT: Antara Jejak Pengabdian dan Sorotan Tajam PDIP Soal Isu Ijazah

Kronologi Penemuan yang Menyayat Hati

Tragedi ini pertama kali terungkap pada Senin (10/8/2026) dini hari. Rohedah, adik dari sang pemilik ternak, menjadi orang pertama yang menerima informasi mengejutkan mengenai kondisi ternak kakaknya. Kabar burung yang menyebutkan adanya pemandangan ganjil di sawah segera membawa Rohedah, Surga, dan sejumlah warga lainnya bergegas menuju lokasi kejadian.

Sesampainya di sana, pemandangan yang tersaji benar-benar di luar nalar. Di tengah remang cahaya fajar, mereka melihat puluhan kambing sudah dalam kondisi mati dengan luka sembelih di leher. Tubuh hewan-hewan malang itu berlumuran lumpur sawah, berjajar seolah siap untuk dimasukkan ke dalam kendaraan pengangkut. Ironisnya, tidak hanya kambing dewasa yang menjadi sasaran, bahkan anak kambing yang masih kecil pun tidak luput dari pisau tajam para pelaku.

Read Also

Diplomasi Iklim Berubah Arah: Mengapa India Memilih Mundur dari Pencalonan Tuan Rumah COP33?

Diplomasi Iklim Berubah Arah: Mengapa India Memilih Mundur dari Pencalonan Tuan Rumah COP33?

“Kambing yang belum terbawa itu dipotong di lokasi, tetapi tidak habis diangkut. Bahkan anak kambing yang masih kecil juga ikut dipotong dan dibariskan di sawah,” ungkap Rohedah dengan nada penuh keprihatinan saat menceritakan kembali peristiwa tersebut kepada tim WartaLog.

Penyelidikan Intensif oleh Polres Serang

Merespons kejadian yang meresahkan masyarakat ini, pihak kepolisian dari Polres Serang langsung bergerak cepat. Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Andi Kurniady ES, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dan tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap siapa di balik aksi keji ini.

“Sudah ada laporan, dan sedang penyelidikan untuk mengungkap pelakunya,” tegas AKP Andi pada Selasa (11/8/2026). Tim penyidik dikabarkan telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara menyeluruh. Selain mengumpulkan bukti-bukti fisik di lapangan, polisi juga telah meminta keterangan dari sejumlah saksi kunci, termasuk korban dan warga yang pertama kali berada di lokasi.

Read Also

Melawan Badai Ekonomi: Pemprov DKI Jakarta Nyalakan Api Kreativitas Anak Muda Lewat AKPJ 2026

Melawan Badai Ekonomi: Pemprov DKI Jakarta Nyalakan Api Kreativitas Anak Muda Lewat AKPJ 2026

Namun, pihak kepolisian mengakui adanya kendala teknis dalam proses identifikasi pelaku. Lokasi persawahan yang menjadi titik eksekusi berada di area yang cukup terpencil dan minim penerangan. Lebih lanjut, AKP Andi menyebutkan bahwa di sekitar lokasi kejadian tidak ditemukan adanya kamera pengawas atau CCTV yang dapat membantu merekam pergerakan para pelaku.

Modus Operandi: Sindikat Profesional yang Terorganisir?

Melihat pola eksekusi yang dilakukan, kuat dugaan bahwa pelaku berjumlah lebih dari satu orang. Modus menyembelih ternak di lokasi merupakan teknik yang sering digunakan oleh sindikat pencurian ternak profesional. Dengan cara ini, mereka tidak perlu repot mengendalikan hewan yang berisik saat diangkut, sehingga meminimalisir risiko ketahuan oleh warga sekitar.

Kambing-kambing yang telah disembelih biasanya akan langsung dikuliti atau dibawa utuh untuk kemudian dijual ke pasar-pasar gelap dengan harga miring. Namun, dalam kasus di Kampung Setu ini, tertinggalnya 36 ekor kambing memicu spekulasi bahwa aksi para pelaku mungkin terganggu oleh sesuatu—entah itu patroli warga atau fajar yang mulai menyingsing—sehingga mereka terpaksa melarikan diri sebelum sempat mengangkut seluruh hasil curiannya.

Kerugian Ekonomi dan Dampak Psikologis bagi Peternak

Kehilangan ini bukan sekadar angka bagi Surga. Baginya, 46 ekor kambing tersebut adalah tabungan masa depan dan hasil kerja keras bertahun-tahun. Berdasarkan taksiran kepolisian, kerugian materiil yang dialami korban mencapai angka Rp50 juta. Sebuah nominal yang sangat besar bagi peternak tingkat pedesaan.

Kasus ini mencerminkan betapa rentannya sektor peternakan rakyat terhadap aksi kejahatan. Selain kerugian finansial, trauma psikologis juga menghantui para peternak lain di wilayah Kecamatan Pontang. Mereka kini dihantui rasa was-was setiap kali malam tiba, khawatir hewan ternak yang menjadi tumpuan hidup mereka akan menjadi sasaran berikutnya.

Langkah Antisipasi dan Imbauan Keamanan

Guna mencegah terulangnya kejadian serupa, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui kegiatan Siskamling atau ronda malam. Pengamanan swakarsa dinilai menjadi benteng pertahanan pertama dalam menghadapi aksi pencurian ternak, terutama di area-area yang jauh dari jangkauan pantauan kepolisian secara langsung.

Selain itu, para peternak disarankan untuk memberikan pengamanan ekstra pada kandang mereka, seperti memasang gembok yang lebih kuat atau memberikan penerangan yang cukup di sekitar area kandang dan jalur menuju persawahan. Meskipun biaya pemasangan teknologi seperti CCTV mungkin terasa mahal, namun dalam jangka panjang, hal tersebut bisa menjadi investasi keamanan yang krusial.

Harapan Masyarakat pada Penegakan Hukum

Saat ini, warga Kampung Setu hanya bisa berharap agar tim dari Satreskrim Polres Serang dapat segera menangkap para pelaku. Keberhasilan polisi dalam mengungkap kasus ini tidak hanya akan memberikan keadilan bagi Surga, tetapi juga mengembalikan rasa aman bagi seluruh warga Serang yang menggantungkan hidupnya dari sektor peternakan.

Proses evakuasi bangkai kambing sendiri telah dilakukan secara gotong royong oleh warga. Mengingat kondisi daging yang sudah tidak layak konsumsi akibat terpapar lumpur dan proses penyembelihan yang tidak higienis, kambing-kambing tersebut akhirnya dikuburkan secara massal di dekat area kandang milik korban. Sebuah akhir yang tragis bagi puluhan nyawa ternak yang seharusnya menjadi berkah bagi pemiliknya.

WartaLog akan terus memantau perkembangan kasus ini hingga para pelaku berhasil diseret ke meja hijau. Masyarakat yang memiliki informasi sekecil apa pun terkait pergerakan mencurigakan pada malam kejadian diharapkan segera melapor ke kantor polisi terdekat untuk membantu mempercepat proses pengungkapan kasus.

Akbar Silohon

Akbar Silohon

Hi, saya senang berbagi berita terupdate.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *