Mentan Amran Sulaiman Angkat Bicara: Menepis Isu Miring Lahan Pertanian Papua dan Misi Kedaulatan Pangan di Timur Indonesia
WartaLog — Di tengah ambisi besar pemerintah Indonesia untuk menjadikan Pulau Papua sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional, sebuah narasi miring mendadak menyeruak ke permukaan. Isu mengenai pembebasan lahan warga di Papua yang dihargai secara tidak manusiawi—hanya Rp 100 ribu per hektare—menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman akhirnya buka suara guna meluruskan disinformasi yang dianggapnya sebagai upaya melemahkan semangat pembangunan di wilayah Timur.
Dalam sebuah pertemuan penuh energi yang bertajuk ‘Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak’ di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Sabtu (18/7), Amran Sulaiman berdiri di hadapan sekitar 2.000 kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari seluruh penjuru tanah air. Di sana, ia tidak hanya berbicara soal angka-angka statistik pertanian modern, tetapi juga memberikan klarifikasi mendalam atas polemik yang sedang bergulir.
Pesona Kereta Api Indonesia di Mata Dunia: Mengapa Wisatawan Mancanegara Kian Gemar Menjelajah Lewat Rel?
Klarifikasi Tegas: Isu Harga Murah Adalah Fitnah Kejam
Pernyataan Mentan Amran ini dipicu oleh pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh Muhammad Tamim Setiaji, seorang delegasi IPM asal Kota Tangerang Selatan. Tamim menanyakan kebenaran informasi yang beredar luas di kalangan generasi muda mengenai pengambilalihan lahan masyarakat Papua dengan harga yang dinilai sangat merendahkan martabat pemilik tanah. Menanggapi kegelisahan tersebut, Amran dengan nada tegas menyebut kabar tersebut sebagai sebuah kebohongan yang sistematis.
“Fitnah itu bertebaran di mana-mana. Salah satunya adalah kabar bahwa harga tanah di sana dihargai Rp 100 ribu per hektare. Saya tegaskan, itu adalah fitnah yang sangat kejam, tidak hanya bagi pemerintah tetapi juga bagi kami yang sedang berjuang menjalankan program lumbung pangan di lapangan. Faktanya, kondisi di lapangan sangatlah berbeda dari narasi negatif tersebut,” ujar Amran dengan penuh penekanan.
Badai Krisis Energi Global: Harga Minyak dan LPG Melambung, Indonesia di Ambang Penyesuaian Strategis
Menurut Amran, penyebaran informasi yang menyesatkan ini berpotensi menghambat proses transformasi ekonomi di Papua. Ia mengajak para pelajar dan generasi muda untuk lebih jeli dalam memilah informasi serta tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten yang tidak memiliki dasar validitas yang kuat.
Kepemilikan Lahan Tetap di Tangan Rakyat
Salah satu poin krusial yang ditegaskan oleh Mentan adalah status kepemilikan lahan dalam program pengembangan sawah di Papua. Amran menjelaskan bahwa pemerintah sama sekali tidak mengambil alih tanah milik masyarakat setempat untuk menjadi milik negara atau pihak swasta tertentu. Sebaliknya, program ini bertujuan untuk mengonversi lahan tidur milik warga menjadi lahan produktif yang siap dikelola secara mandiri oleh masyarakat lokal.
Langkah Berani Pertamina Menuju Masa Depan Hijau: Capaian Dekarbonisasi Lampaui Target 118 Persen
“Sawah-sawah yang dibangun itu sepenuhnya milik rakyat. Tidak ada satu jengkal pun yang dialihkan menjadi milik negara. Kami datang untuk membangunkan infrastruktur, menyediakan benih, dan memberikan bimbingan teknis agar tanah tersebut bisa memberikan nilai ekonomi yang tinggi bagi pemiliknya,” jelasnya. Melalui program cetak sawah, pemerintah justru memberikan nilai tambah pada aset masyarakat yang sebelumnya kurang termanfaatkan.
Hingga saat ini, tercatat ada sekitar 137 ribu hektare lahan pertanian yang telah dikembangkan di Papua. Di atas lahan tersebut, pemerintah telah menyuntikkan berbagai fasilitas mulai dari sistem irigasi yang modern hingga penyediaan alat mesin pertanian (Alsintan) secara cuma-cuma. Investasi ini murni ditujukan untuk memberdayakan petani lokal agar mereka berdaya secara ekonomi di tanah kelahiran mereka sendiri.
Investasi Triliunan Rupiah untuk Masa Depan Papua
Pemerintah tidak main-main dalam membangun sektor pertanian di wilayah paling timur Indonesia ini. Amran mengungkapkan bahwa nilai bantuan yang telah dikucurkan mencapai angka triliunan rupiah. Hal ini mencakup pembangunan jaringan irigasi yang luas, pembentukan Brigade Pangan yang melibatkan pemuda setempat, hingga distribusi ratusan unit traktor dan mesin pemanen.
“Kami memberikan traktor secara gratis. Kami membangunkan irigasi agar air bisa mengalir sepanjang tahun. Nilai bantuannya mencapai triliunan rupiah, dan semua itu dinikmati langsung oleh masyarakat. Bagaimana mungkin ada narasi yang menyebutkan kami merampas lahan mereka dengan harga murah? Ini adalah paradoks yang sangat jauh dari realita,” tambahnya.
Selain fokus pada komoditas padi, pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan potensi lokal lainnya seperti sagu dan kelapa. Strategi ini diambil agar pembangunan pertanian di Papua tetap selaras dengan kearifan lokal dan budaya masyarakat setempat, sehingga tidak menimbulkan gesekan sosial.
Dampak Nyata: Petani Papua Meraih Pendapatan Belasan Juta
Untuk membuktikan efektivitas program tersebut, Amran memaparkan data mengenai peningkatan kesejahteraan para petani yang telah terlibat. Berdasarkan testimoni langsung di lapangan, para petani di Papua yang mengelola lahan seluas 3 hingga 4 hektare kini mampu mengantongi pendapatan bersih yang sangat signifikan.
“Para petani di sana menyampaikan kepada saya secara langsung. Mereka yang mengelola lahan pertanian kini bisa meraup penghasilan antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Traktor yang mereka gunakan pun sudah menjadi milik kelompok tani mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa program kesejahteraan petani yang kita usung benar-benar berjalan dan memberikan dampak ekonomi langsung,” papar Mentan.
Peningkatan pendapatan ini menjadi angin segar bagi ekonomi daerah di Papua. Dengan produktivitas yang meningkat, ketergantungan wilayah Papua terhadap pasokan pangan dari luar daerah diharapkan dapat berkurang secara drastis, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda di desa-desa.
Masyarakat Justru Meminta Perluasan Lahan
Ada sebuah cerita menarik yang dibagikan Amran Sulaiman saat ia melakukan kunjungan kerja ke wilayah Papua Selatan beberapa waktu lalu. Alih-alih mendapatkan penolakan dari warga terkait program perluasan lahan, Amran justru dicegat oleh sekelompok masyarakat sesaat sebelum ia menaiki pesawat di bandara untuk kembali ke Jakarta.
“Saat saya di bandara hendak pulang, sekelompok masyarakat menghentikan langkah saya. Mereka bukan datang untuk berdemonstrasi menolak program kami, tetapi justru mendesak agar pemerintah menambah kuota cetak sawah di wilayah mereka hingga ribuan hektare lagi. Mereka sudah melihat keberhasilan tetangga atau desa sebelah, dan mereka ingin ikut merasakan manfaat yang sama,” kenang Amran.
Antusiasme masyarakat ini, menurut Amran, adalah indikator paling jujur bahwa program pemerintah diterima dengan baik oleh rakyat Papua. Fakta ini sekaligus mematahkan segala narasi negatif yang sering kali digambarkan oleh pihak-pihak yang hanya melihat persoalan Papua dari kejauhan tanpa menyentuh akar rumput.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Mudah Terprovokasi
Menutup sesi dialognya, Menteri Pertanian memberikan pesan khusus kepada para kader IPM dan seluruh anak muda Indonesia. Ia mengingatkan bahwa di era informasi digital yang sangat cepat, tantangan terbesar bangsa ini adalah literasi digital dan kemampuan membedakan antara fakta dengan propaganda yang memecah belah.
“Saya mengajak adik-adik semua untuk selalu melihat fakta yang ada. Jangan langsung percaya pada narasi, video singkat, atau film dokumenter yang belum tentu menggambarkan kenyataan utuh di lapangan. Mari kita cek langsung, dengarkan suara masyarakat yang benar-benar menerima manfaatnya. Papua adalah masa depan pangan kita, dan kita harus menjaganya dengan informasi yang benar,” pungkasnya.
Upaya masif yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian ini sejalan dengan visi besar Presiden terpilih untuk mewujudkan swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dengan potensi lahan yang sangat luas dan dukungan teknologi yang mumpuni, Papua diproyeksikan tidak hanya akan memberi makan rakyatnya sendiri, tetapi juga menjadi eksportir pangan bagi negara-negara di kawasan Pasifik di masa depan.