Ekspansi Global ID FOOD: Gebrakan Ekspor 102 Ton Udang Vaname ke Amerika Serikat Perkuat Ekonomi Nasional

Citra Lestari | WartaLog
16 Jul 2026, 09:19 WIB
Ekspansi Global ID FOOD: Gebrakan Ekspor 102 Ton Udang Vaname ke Amerika Serikat Perkuat Ekonomi Nasional

WartaLog — Dunia internasional kini semakin melirik kekayaan laut Indonesia yang melimpah. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau yang lebih dikenal dengan brand ID FOOD, baru saja mencatatkan sejarah baru dalam lini bisnis perikanan nasional. Perusahaan plat merah ini secara resmi melepas pengiriman perdana komoditas udang vaname menuju pasar Amerika Serikat (AS). Langkah berani ini tidak hanya menjadi simbol ekspansi bisnis, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kualitas produk perikanan Indonesia mampu bersaing di panggung global yang sangat kompetitif.

Seremoni pelepasan ekspor perdana tersebut berlangsung dengan penuh optimisme di Gresik, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan, mengingat Jawa Timur merupakan salah satu pusat pengolahan hasil laut terbaik di tanah air. Dengan pengiriman ini, ID FOOD resmi membuka keran akses pasar bagi produk unggulan baru yang diproyeksikan menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang.

Read Also

India Terjepit di Selat Hormuz: Antara Blokade AS dan Bayang-Bayang Krisis Energi Akut

India Terjepit di Selat Hormuz: Antara Blokade AS dan Bayang-Bayang Krisis Energi Akut

Langkah Strategis ID FOOD Menembus Pasar Global

Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa keberhasilan menembus pasar Amerika Serikat merupakan pencapaian strategis bagi perusahaan. Menurutnya, pasar AS dikenal memiliki standar kualitas dan keamanan pangan yang sangat ketat. Berhasilnya udang vaname asal Indonesia masuk ke sana membuktikan bahwa sistem manajemen mutu yang diterapkan oleh ID FOOD sudah berada di level internasional.

“Ekspor perdana ini adalah tonggak penting bagi ID FOOD dalam memperluas cakrawala pasar udang vaname. Kami menerapkan pengelolaan rantai pasok yang terintegrasi secara menyeluruh. Mulai dari proses pembelian bahan baku dari petambak, pengolahan di pabrik yang higienis, strategi penjualan, hingga proses pengapalan, semuanya dipastikan berjalan sesuai dengan standar operasional yang ketat,” ujar Ghimoyo. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir udang terbesar di dunia.

Read Also

Skandal Manipulasi Ekspor Sawit: 10 Perusahaan Besar Terendus ‘Sunat’ Nilai Transaksi Melalui Singapura

Skandal Manipulasi Ekspor Sawit: 10 Perusahaan Besar Terendus ‘Sunat’ Nilai Transaksi Melalui Singapura

Rincian Ekspor: Dari Gresik Menuju Negeri Paman Sam

Pada pelepasan perdana ini, Holding BUMN Pangan tersebut mengirimkan sebanyak enam kontainer udang vaname. Setiap kontainer memiliki kapasitas angkut sekitar 17 ton, sehingga total volume pengiriman mencapai 102 ton. Angka ini bukanlah angka yang kecil untuk sebuah pengiriman perdana, namun bagi ID FOOD, ini hanyalah sebuah awal dari ambisi yang lebih besar.

Perseroan telah menyusun rencana jangka panjang untuk menjaga momentum ini. Target yang dipatok cukup ambisius: pengiriman rutin sebanyak delapan kontainer setiap bulan. Jika rencana ini berjalan mulus, maka volume ekspor bulanan akan stabil di angka 136 ton. Hal ini dilakukan untuk menjamin keberlanjutan pasokan bagi mitra di luar negeri sekaligus memberikan kepastian pasar bagi para produsen lokal di dalam negeri.

Read Also

Membaca Peta Jalan Indonesia Emas: 8 Klaster Program Prioritas Prabowo Menuju Ekonomi 8 Persen

Membaca Peta Jalan Indonesia Emas: 8 Klaster Program Prioritas Prabowo Menuju Ekonomi 8 Persen

Target Ambisius dan Keberlanjutan Rantai Pasok

Melihat potensi yang ada, ID FOOD memproyeksikan hingga akhir tahun 2026, mereka mampu mengekspor total 72 kontainer udang vaname. Nilai ekonomi dari target tersebut diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 218,5 miliar. Angka ini mencerminkan optimisme perusahaan terhadap permintaan pasar global yang terus meningkat terhadap produk protein laut yang sehat.

Ghimoyo menjelaskan bahwa target tersebut dirancang secara sistematis untuk menjaga konsistensi pasokan. Di dunia perdagangan internasional, ketepatan waktu dan stabilitas kualitas adalah mata uang yang sangat berharga. Oleh karena itu, ID FOOD terus mempererat koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemasok bahan baku, mitra pengolahan, hingga agen logistik untuk meminimalkan risiko keterlambatan atau penurunan kualitas produk.

Ragam Produk Udang Vaname: Memenuhi Standar Internasional

Produk yang dikirimkan ke Amerika Serikat tidak hanya sekadar udang mentah biasa. ID FOOD melakukan diversifikasi produk berdasarkan preferensi konsumen di negara tujuan. Udang-udang tersebut dikategorikan menjadi dua jenis utama: raw (udang mentah) dan cook (udang matang). Langkah ini diambil untuk memberikan kemudahan bagi konsumen akhir maupun industri kuliner di AS.

Secara lebih mendetail, variasi produk yang dipasarkan meliputi:

  • PTO (Peeled Tail On): Udang yang telah dikupas kulitnya namun tetap menyisakan bagian ekor secara utuh. Produk ini sangat populer di restoran-restoran sebagai bahan utama hidangan premium.
  • PND (Peeled and Deveined): Udang yang sudah sepenuhnya dikupas, dibersihkan dari kulit, serta dibuang urat punggungnya. Produk ini siap olah dan sangat diminati oleh pasar rumah tangga karena praktis.

Dengan menyediakan produk bernilai tambah (value-added products), ID FOOD tidak hanya menjual komoditas mentah, tetapi juga menjual kualitas dan kemudahan yang dihargai lebih tinggi di pasar global.

Diversifikasi Pasar: Tak Hanya Amerika Serikat

Meskipun Amerika Serikat menjadi fokus utama dalam peluncuran ekspor kali ini, ID FOOD sadar betul akan pentingnya diversifikasi pasar. Bergantung hanya pada satu kawasan memiliki risiko bisnis yang tinggi. Oleh karena itu, melalui kerja sama dengan importir ternama seperti RCC dan Sterling Seafood Corporation di AS, ID FOOD juga mulai menjajaki negara-negara potensial lainnya.

Negara-negara di Asia seperti Brunei Darussalam, Vietnam, dan Jepang kini masuk dalam radar ekspansi selanjutnya. Jepang, misalnya, dikenal sebagai konsumen produk perikanan terbesar dengan standar kualitas yang sangat tinggi. Sementara itu, Vietnam sering kali menjadi titik transit dan pengolahan ulang untuk pasar yang lebih luas. Strategi diversifikasi ini bertujuan untuk menjaga kesinambungan bisnis jangka panjang dan memastikan produk Indonesia merambah ke seluruh penjuru dunia.

Sinergi Hulu ke Hilir: Kunci Daya Saing Global

Keberhasilan ekspor ini tidak lepas dari transformasi internal yang dilakukan ID FOOD. Perusahaan kini lebih fokus pada penguatan lini bisnis perdagangan dan logistik pangan. Ghimoyo menambahkan bahwa pembangunan rantai pasok yang berkelanjutan adalah kunci utama agar produk dalam negeri memiliki daya saing yang kuat.

“Keberhasilan ekspor membutuhkan kolaborasi yang kuat dari hulu hingga hilir. Kami di ID FOOD mengambil peran strategis sebagai penghubung. Kami memastikan bahwa hasil jerih payah para petambak di hulu mendapatkan akses pasar yang layak di hilir, bahkan hingga ke mancanegara,” pungkasnya. Dengan memperkuat infrastruktur logistik dan pengolahan, ID FOOD optimis dapat terus meningkatkan kapasitas produksi dan menjajaki peluang-peluang baru yang lebih menantang di masa depan.

Melalui langkah nyata ini, Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan maritim yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ekspor udang vaname ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi produk-produk pangan lainnya untuk turut serta mengharumkan nama bangsa di kancah perdagangan internasional.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *