PKPK Borong DPAL Rp 890 Miliar: Strategi Ekspansi Agresif di Tengah Tekanan IHSG dan Aksi Jual Asing

Citra Lestari | WartaLog
29 Jun 2026, 09:21 WIB
PKPK Borong DPAL Rp 890 Miliar: Strategi Ekspansi Agresif di Tengah Tekanan IHSG dan Aksi Jual Asing

WartaLog — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nampaknya sedang kehilangan tenaga untuk tetap bertahan di zona hijau. Menutup akhir pekan pada perdagangan Jumat (26/6), indeks kebanggaan bursa domestik ini harus rela terpangkas cukup dalam. Namun, di balik awan mendung yang menyelimuti lantai bursa, sejumlah emiten justru menunjukkan geliat ekspansi yang cukup mencolok, salah satunya adalah langkah berani PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang mengumumkan akuisisi bernilai fantastis.

IHSG Terperosok di Bawah Level Psikologis 5.900

Dinamika pasar modal Indonesia sedang diuji oleh sentimen negatif yang cukup kuat. IHSG resmi mengakhiri perdagangan dengan koreksi tajam sebesar 1,72%, yang menyeret indeks turun ke level 5.896,13. Penurunan ini mencerminkan adanya aksi ambil untung yang masif serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi makro secara global.

Read Also

Langkah Strategis RI: Pasokan Minyak Mentah Rusia Segera Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Langkah Strategis RI: Pasokan Minyak Mentah Rusia Segera Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Meski secara keseluruhan pasar terlihat memerah, beban indeks sedikit tertahan oleh performa beberapa saham blue-chip seperti BBCA, BBRI, dan BHAT yang tetap menunjukkan resistensi di tengah gempuran jual. Di sisi lain, saham-saham seperti BREN, EMAS, dan BRMS justru menjadi faktor pemberat utama (top laggards) yang memperparah kejatuhan indeks hari ini.

Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa investor asing masih belum menunjukkan minat untuk kembali masuk secara agresif. Tercatat, aksi jual bersih (net sell) investor asing mencapai Rp302,24 miliar di pasar reguler. Jika dikalkulasi secara menyeluruh di semua pasar, angka tersebut membengkak hingga Rp537,25 miliar. Fenomena ini menandakan bahwa aliran modal keluar masih menjadi tantangan besar bagi stabilitas pasar saham dalam jangka pendek.

Read Also

Gelar Karpet Merah, PFII Siap Transformasi Indonesia Menjadi Pusat Finansial Global yang Kompetitif

Gelar Karpet Merah, PFII Siap Transformasi Indonesia Menjadi Pusat Finansial Global yang Kompetitif

Sektoral: Hanya Sektor Keuangan yang Bertahan

Hampir seluruh sektor industri mengalami pendarahan. Dari 11 sektor yang ada, 10 di antaranya ditutup di zona merah. Sektor industri dasar (basic industry) menjadi yang paling menderita dengan koreksi telak mencapai 5,00%. Tekanan pada sektor ini diduga kuat akibat fluktuasi harga komoditas global yang sedang tidak menentu.

Menariknya, di tengah kepungan warna merah tersebut, sektor keuangan muncul sebagai satu-satunya pahlawan dengan kenaikan tipis 0,03%. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap fundamental perbankan tanah air masih cukup solid, terutama untuk menopang ketahanan investasi saham di tengah ketidakpastian.

Sentimen negatif ini ternyata tidak hanya terjadi di Jakarta. Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat juga menunjukkan tren serupa yang cenderung melemah. Indeks Dow Jones terkoreksi tipis 0,09%, disusul S&P 500 yang turun 0,05%, dan Nasdaq yang melemah 0,24%. Kondisi global yang kurang bergairah ini secara otomatis memberikan efek domino pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Read Also

Revolusi Digital Bea Cukai: Sinyal Luhut Binsar Pandjaitan Terkait Alih Fungsi ke DSI dan Peran Kecerdasan Buatan

Revolusi Digital Bea Cukai: Sinyal Luhut Binsar Pandjaitan Terkait Alih Fungsi ke DSI dan Peran Kecerdasan Buatan

Manuver Besar PKPK: Akuisisi Strategis Senilai Rp890 Miliar

Kabar paling hangat datang dari PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK). Di saat pasar sedang lesu, emiten ini justru tancap gas dengan mengumumkan rencana pengambilalihan PT Deli Pratama Angkutan Laut (DPAL). Nilai transaksinya pun tidak main-main, yakni mencapai Rp890 miliar. PKPK akan membeli 6.125 saham Seri A atau setara dengan 50,52% kepemilikan dari Resources Global Development Limited (RGD).

Langkah ini bukan sekadar angka di atas kertas. Strategi ini merupakan upaya serius perseroan untuk memperkuat integrasi dalam mata rantai bisnis batu bara. Dengan menyatukan kekuatan anak usahanya, PT Tri Oetama Persada (TRIOP), dengan armada logistik milik DPAL, PKPK berharap dapat menciptakan efisiensi operasional yang signifikan. Jika transaksi ini rampung, PKPK akan mendapatkan tambahan amunisi berupa 67 armada kapal yang terdiri dari tug boat, barge, hingga bulk carrier.

Secara finansial, dampak akuisisi ini akan mengubah postur neraca keuangan perseroan. Total aset PKPK diproyeksikan melonjak drastis menjadi Rp2,28 triliun, dari posisi sebelumnya yang hanya sekitar Rp627,92 miliar. Namun, pertumbuhan aset ini juga dibarengi dengan kenaikan liabilitas menjadi Rp1,42 triliun, yang sebagian besar berasal dari utang afiliasi kepada RGD dengan jangka waktu 12 bulan.

Update Emiten: Rights Issue YOII dan Dividen Manis RAJA

Selain kabar dari PKPK, PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) juga tengah bersiap melakukan aksi korporasi melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I). Perseroan menargetkan dana segar sebesar Rp68,49 miliar dengan menerbitkan 684,94 juta saham baru pada harga pelaksanaan Rp100 per saham. Dana tersebut rencananya akan dialokasikan sebesar 90% untuk memperkuat strategi pemasaran digital dan sisanya untuk pengembangan infrastruktur teknologi serta keamanan sistem.

Di sisi lain, bagi para pemburu dividen, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) membawa kabar gembira. Perseroan telah memutuskan untuk membagikan dividen tunai final sebesar Rp40 per saham. Jika digabungkan dengan dividen interim yang sudah dibayarkan sebelumnya, maka total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp65 per saham. Keputusan ini didasari oleh performa keuangan yang ciamik, di mana laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 6,61% menjadi US$27,24 juta.

Analisis Teknikal dan Rekomendasi Saham

Menghadapi awal Juli yang diprediksi akan diramaikan oleh pencatatan enam emiten baru, volume perdagangan di bursa cenderung melambat dengan penurunan rata-rata mingguan sebesar 26,01%. Meski demikian, terdapat beberapa peluang teknikal yang patut dicermati oleh para trader.

  • SAME: Rekomendasi Buy di area 394-398 dengan target profit 404-410. Batasi risiko (stop loss) di bawah 376.
  • ICON: Rekomendasi Buy di kisaran 114-115, target kenaikan ke 118-120, dengan proteksi di 108.
  • TCPI: Peluang Buy di 7325-7375, mengincar target 7500-7650, stop loss di 6900.
  • KLBF: Layak beli di 775-785 dengan potensi kenaikan ke 795-805, batasi kerugian di 740.
  • RGAS: Buy di area 206-210, target profit di 214-218, stop loss di level 190.

Secara teknikal, pergerakan saham PKPK sendiri terpantau masih berada di atas garis rata-rata pergerakan EMA 21, didukung oleh indikator stochastic yang mulai bergerak mendaki. Hal ini menunjukkan adanya momentum beli yang masih terjaga meskipun kondisi pasar secara makro sedang dalam tekanan.

Disclaimer: Seluruh data dan analisis dalam laporan WartaLog ini disediakan hanya untuk tujuan informasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Kami sangat menyarankan Anda untuk berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum melakukan transaksi jual-beli aset di pasar modal.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *